Jumat, 14 April 2017

SEKOLAH NON FORMAL KEJAR PAKET JURUSAN LALU LINTAS


Maharani tersenyum membaca chat teman-teman tentang susah payahnya mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM).

@Yur
Merindukan SIM yang belum jadi. Gak lolos2 ujian praktek, lalu jatuh, ujian lagi, lalu ngidam, ujian ditinggal. Tapi kalau peserta lain yang sebulan lebih itu diajak ke belakang mobil lalu pergi (nahhh!). aku kok gak ya malah disuruh kir lagi, ujian lagi.

@Nof
Aku dulu SIM C nilai ujian tertulisnya mepet banget. Kalau ujian prakteknya pertama gak lulus gara2 nabrak pembatas kerucut itu. Sama pak polisinya aku disuruh besok ujian lagi. Tapi aku gak mau. taktunggu pak polisinya sampai semua peserta sudah pulang. Terus saya bantu pak polisi angkat-angkat peralatan tes sambil ngerayu minta dites ulang saat itu juga. Alhamdulillah, lolos.

@Neng
Ngantar anak lanang ujian praktek sampai tiga kali. Yang kedua kali aku nyoba ngajak kong kalingkong nembak saja, polisinya nggak mau. disuruh manut prosedur.

Ngantar anak wedok, sekali ujian praktek lulus, la kok aku dibisiki sama loketnya, biaya langsung ke kaur simnya. Biaya seperti aku nembak, gak sesuai tariff yang dipasang (wkwkwk)

@Rani
Beruntungnya saya. Sekitar 7 tahun yang lalu tanpa basa basi, suami bertemu seorang teman. Bisik-bisik, kir dokter juga Cuma ditanya berat badan dan tinggi badan. Besok paginya disuruh ke ruang ujian tulis. Ngisi data, dipanggil langsung foto. Kelar deh!

Tapi saya ditertawakan teman sekantor. Haha, bu Rani ki ora iso numpak pit kok duwe SIM. Jawab saya: kalau ada razia yang ditanyakan SIM-nya, bukan bisa naik motor atau tidak. Waktu itu bayar 250 ribu, untuk lima tahun. Berarti setahun 50 ribu. Jadi sebulan tidak sampai 5 ribu, murah bukan?

Waktu perpanjangan kan nggak mahal. Enaknya hidup saya, tapi gak berani jarak jauh. Maklum numpak sepeda mung nggo genep-genep biar tidak tergantung sama suami.

Bagi yang nembak membuat SIM sepertinya enggak berdosa deh. Coba dipikir, enggak ada pelajaran mengendari motor/mobil, tidak ada latihan tes tertulis, tidak tahu kisi-kisi soal, tau-tau disuruh tes. Yang namanya tes itu kalau sudah menerima materi pelajaran. Materinya adalah Lalu Lintas.

Kalau punya SIM sambil belajar naik motor atau nyopir mobil kan pas pas saja. Yang penting usianya sudah 17 tahun. Barulah kalau melakukan pelanggaran polisi bisa memberi surat tilang. #membela diri

Nyopir itu kalau sudah kulina ya bisa. Kalau nggak kulina (terbiasa) ya nggak bisa. Biar bisa ya sering nyopir, biar nggak ketilang, ya punya SIM #eh ngeyel.
00000

Usul untuk penguji praktek pembuatan SIM:
Mbok ya ada sekolah non formal kejar paket jurusan lalu lintas. Di situ diberi pelajaran tentang lalu lintas. Materinya dikelompokkan dalam beberapa bab. Satu bab bisa dipelajari lalu diujikan. Seperti anak sekolah formal itu lo. Ada pelajaran lantas tes. Tesnya bisa open book, hehe. Boleh njaplak atau mencontek.

Kalau seperti itu pasti meminimalkan gagal ujian tertulis. Setelah itu pelajaran mengendarai motor model sekolah akselerasi. Semakin cepat materi dikuasai maka ujian praktek bisa segera dilaksanakan. Ujian prakteknya jangan ada zig-zag atau berjalan jalur angka delapan. Kalau di jalan raya, mengendarai kendaraan dengan berjalan zig-zag itu berbahaya.

Ujian prakteknya cukup lewat jalan raya bareng-bareng. Karena kita biasa lewat jalan raya. Kalau kebetulan ada rintangan lalu kita harus jalan berkelok-kelok, ya pasti kita pelan-pelan dan berhitung secara cermat. Ujian yang ribet membuat grogi dan deg-degan.

Seandainya ada sekolah non formal kejar paket jurusan lalu lintas, pasti banyak yang ikut. Apalagi sekolahnya secara online hehe.


Karanganyar, 14 April 2017