Minggu, 14 Mei 2017

Belajar Menahan Belanja Mulai Sekarang

Sudah beberapa tahun terakhir, saya memiliki kebiasaan  menyisihkan sebagian kecil dari gaji untuk saya tabung alias menabung di depan. Setelah itu, baru saya membelanjakan uang dengan hemat. Saya berbelanja atau mengeluarkan uang sesuai dengan kebutuhan saja.
Sejak kecil saya memang gemi alias hemat. Saya tidak mengalami kesulitan untuk berhemat karena berhemat adalah kebiasaan saya waktu kecil. Kebetulan, saya juga tidak mudah terpengaruh, tidak suka membeli barang-barang yang tidak saya butuhkan. Hasilnya, saya tidak banyak memiliki barang yang menganggur. Sebisa mungkin saya membeli barang yang benar-benar bisa saya manfaatkan sehari-hari.
Sebentar lagi memasuki bulan Ramadhan. Pada saat bulan Ramadhan, biasanya kebutuhan sehari-hari dan pengeluaran lebih besar. Saya tetap berhemat. Kalau pengeluaran lebih besar disbanding bulan yang lain, Insya Allah karena untuk kepentingan akhirat.
Selama bulan Ramadhan, menu makan sahur dan berbuka, tidak ada yang istimewa. Saya jarang mengada-adakan makanan istimewa. Kalau berbuka puasa, saya juga tidak wajib menyiapkan kolak atau makanan pembuka yang manis-manis kecuali kurma dan kudapan seadanya.
Menjelang akhir Ramadhan, saya juga tidak sibuk berbelanja untuk keperluan lebaran. Untuk pakaian, cukup mengenakan pakaian yang sudah saya miliki. Mungkin untuk 2 anak saya memerlukan baju ganti. Saya tidak menyediakan makan kecil secara berlebihan karena saya berlebaran di rumah orang tua alias mudik.
Saya berusaha menahan diri untuk belanja sebab kebutuhan hari esok lebih banyak dan benar-benar harus kita penuhi. Hemat bukan berarti pelit, irit bukan berarti pelit, karena hemat adalah gaya hidup.

Belajarlah menahan belanja mulai sekarang. Kalau tidak dari sekarang, kapan lagi?