Jumat, 07 Juli 2017

Berbagi Peran Dengan Pasangan di Rumah


Berbagi peran dengan pasangan di rumah, sebenarnya mudah dilakukan. Hal ini bisa terjadi bila masing-masing memiliki kesadaran untuk mengambil tugas bukan karena terpaksa. Contoh, saya biasa melakukan pekerjaan tumah tangga seperti mencuci, memasak, menyetrika pakaian, membersihkan rumah, merapikan rumah dengan tidak merasa terbebani. Saya bekerja di luar rumah, dari pukul 06.30 – 14.00 WIB. Oleh karena semua sudah berjalan lama, maka saya melakukan dengan hati senang.

Suami memiliki tugas sendiri. Tugas di rumah adalah membersihkan halaman, sekitar rumah, dan kebun belakang rumah. Saya dan suami sama-sama mengajar dan memiliki jadwal yang sama di sekolah. Tanpa diminta, suami juga mau mencuci pakaian, membersihkan dalam rumah dan menyetrika. Untuk urusan konsumsi, suami juga tidak canggung untuk membelikan lauk pauk buat keluarga saat dibutuhkan.

Untuk urusan anak-anak yang berkaitan dengan pelajaran memang saya lebih banyak mengambil peran. Saya lebih sabar menghadapi atau mendampingi anak-anak belajar. Saya juga lebih sabar menunggu anak-anak ketika mereka melakukan aktifitas di rumah selain belajar. Saya paling suka mendampingi si kecil Faiz, bermain, terutama bermain di luar rumah. Saya harus berada di luar rumah ketika Faiz bermain di luar. Rumah kami berada di dekat sawah. Kiri, kanan, depan dan belakang rumah adalah sawah. Memang di depan rumah saya ada jalan permanen, jalan yang menghubungkan jalan raya dengan perumahan dan kampung. Kalau si dhenok Faiq, sukanya curhat atau cerita. Biasanya Faiq juga ikut berada di luar kalau adiknya di luar.

Faiq dan Faiz, dua anak saya juga dekat dengan Ayahnya. Faiz suka ikut Ayahnya berada di lapangan untuk badminton atau tenis. Sedangkan Faiq suka pergi dengan Ayahnya untuk keperluan membeli buku dan barang kesukaannya di Solo.

Dahulu, ketika Faiq belum memiliki SIM (Surat Izin Mengemudi), saya dan suami berbagi tugas untuk antar jemput Faiq sekolah maupun les. Demikian juga dengan Faiz, kami bergantian mengantar dan menjemput Faiz.

Saya tipe Ibu rumahan. Saya juga membiasakan diri untuk segera berkumpul dengan anak-anak dan suami. Kalau suami memiliki kepentingan yang tidak bisa ditinggalkan, maka saya akan mengantar-jemput Faiq-Faiz. Saya selalu ingin anak-anak merasa aman dan nyaman bersama saya di rumah. Kalau saya memiliki kepentingan dan tidak bisa menjemput Faiq-Faiz maka saya akan minta bantuan suami untuk mengurus Faiq-Faiz. Jangan sampai karena kedua orang tua sibuk, Faiq-Faiz jadi tidak terurus.

Bila suatu saat saya ada keperluan dengan teman-teman, tetapi tidak terlalu penting, bila saatnya menjemput anak-anak, saya pasti izin pulang duluan. Teman-teman juga tahu, kerepotan saya seandainya suami sedang dinas di luar kota..

Sekarang Faiq sudah memiliki SIM, ke sekolah dan mengikuti les, Faiq mengendarai sepeda motor sendiri. Saya selalu berpesan untuk selalu hati-hati dan tidak perlu tergesa-gesa. Tugas saya mengantar dan menjemput Faiq, sudah tidak ada. Tinggal antar jemput Faiz.

00000

Sejak sebelum menikah sampai sekarang, saya tidak suka keluar rumah kalau tidak untuk hal penting. Saya tidak suka jalan-jalan, berbelanja, atau melakukan aktifitas yang mengeluarkan banyak uang. Bagi saya, bekerja, mengurus anak, menulis, menyalurkan hobi dan melakukan perjalanan, sudah cukup menyita waktu. Saya tidak akan melakukan kegiatan “me time” tetapi mengorbankan anak-anak.

Bagi saya, anak-anak adalah segalanya. Saya dan suami akan berbagi tugas. Kami sadar, semua pekerjaan tidak bisa diselesaikan oleh satu orang saja. Kalau sekali tempo, kami harus melakukan semuanya, itu karena pasangan ada tugas keluar kota atau tugas sampai menginap.

Anak-anak biasa, kalau masuk rumah, salah satu di antara Ayah dan Mami, tidak ada di rumah, mereka pasti bertanya,” Ayah mana? Mami mana?”

Kalau kami lengkap, saya, suami, Faiq-Faiz, berada di rumah, ternyata banyak hal bisa kami lakukan bersama. Kami kompak dalam hal berbagi peran.


Karanganyar, 7 Juli 2017