Sabtu, 01 Juli 2017

Lebaran Momentum Silaturahmi di Masjid


Hari Ahad, 25 Juni 2017 kami menuju lapangan Minggiriran untuk menunaikan shalat Id. Meskipun berhalangan untuk shalat, Faiq tetap turut serta ke lapangan. Sengaja kami datang lebih pagi. Alhamdulillah, kami berada di shaf pertama untuk perempuan.

Kami melantunkan takbir sembari menunggu jamaah shalat Id yang datang. Udara begitu sejuk, tidak panas. Pukul tujuh lebih, shalat Id dimulai. Pada rakaat kedua, saya mendengar Imam membaca ayat-ayat akhir dari surat Al Ghasyiyah dengan suara bergetar, tercekat, sepertinya menangis. Demikian dalam makna dari surat tersebut.

Usai shalat Id, kami mendengarkan khutbah sampai selesai. Zaman sekarang, kesadaran umat muslim sudah demikian tinggi. Ketika saya masih kecil, bila shalat telah selesai, para jamaah banyak yang meninggalkan lapangan untuk pulang. Hampir separo jamaah yang tidak mendengarkan khutbah sampai selesai. Sekarang pengetahuan jamaah sudah bertambah baik. apalagi sebelum shalat, panitia memberitahukan kepada jamaah untuk tidak meninggalkan khutbah. Khutbah diikuti sampai selesai. Toh, khutbah juga tidak terlalu lama.

Sampai di rumah, saya kemudian memesan mie ayam di warung tetangga. Mengawali bulan Syawal dengan mengkonsumsi mie ayam, bukan opor ayam, lontong dan ketupat. (ada cerita lain mengapa hari nan fitri ini tidak diawali dengan makan opor ayam dan ketupat).

Baru saja akan menyantap mie ayam, para tetangga datang ke rumah untuk bermaaf-maafan dengan Ibid an Bapak serta kami, anak-anaknya. Dari tahun ke tahun, semakin banyak yang bersilaturahmi ke rumah Bapak. Tentu saja, yang dulu remaja, kini sudah berkeluarga dan memiliki anak.

Pukul Sembilan, saya, Ibu dan Bapak menuju Masjid Al Ikhwan. Masjid Al Ikhwan adalah tempat saya menimba ilmu agama dan berbagi ilmu. Di tempat inilah, dahulu saya belajar banyak hal, belajar banyak karakter orang.

Di masjid berkumpul jamaah yang akan bersilaturahmi, merayakan Idulfitri dan saling bermaaf-maafan. Ibu masuk masjid kemudian panitia menempatkan Ibu di dekat Ibu-ibu yang sudah sepuh. (di dalam masjid khusus perempuan, sedangkan laki-laki berada di luar). Saya harus mengawasi Ibu. Maklum, Ibu sudah banyak lupa. Jadi, agar Ibu tidak bingung, saya harus menuntun Ibu.

Saya memperhatikan orang-orang yang berada di dalam masjid. Anak-anak, remaja, dewasa, dan tua, menjadi satu dalam suasana suka cita. Beberapa dari Ibu-ibu sepuh, saya masih mengenalnya. Beberapa orang yang dulu masih imut sekarang sudah dewasa, atau yang seusia dengan saya, saya juga mengenalnya. Sekitar 20 tahun lamanya kami tak bersua. Ternyata, wajah saya tidak berubah. Mereka sangat mengenal saya di usia yang tak muda lagi.

Ibu berusia 71 tahun, badannya masih sehat tapi daya ingatnya sudah berkurang. Ibu cenderung menjadi pelupa. Bagi yang tidak sabar menghadapi orang tua yang pelupa, pasti bawaannya akan marah. Sebenarnya alasan apakah yang membuat orang mudah marah menghadapi orang tua yang pelupa? Sederhana saja, biasanya apa yang diutarakan orang tua tidak sejalan dengan jalan pikiran kita.

Ketika silaturahmi di masjid, saya melihat Ibu-ibu yang usianya sebaya dengan Ibu juga bermacam-macam kondisinya. Ada yang sakit-sakitan, ada yang hidupnya tergantung dengan obat, ada yang hidupnya tergantung dari transfuse darah dan lain-lain. Dengan melihat dan mendengar cerita beberapa orang yang saya temui, saya tetap bersyukur. Meskipun sekarang menjadi pelupa, tapi Ibu tetap sehat dan diberi umur panjang. Shalat dan puasa juga tidak ditinggalkan Ibu. Bahagianya saya mendapatkan Ibu dengan kondisi seperti ini. Tetap sehat ya Bu…..

Akhirnya saya, Ibu dan Bapak meninggalkan masjid dan pulang. Ibu dan Bapak mampir ke rumah tetangga non muslim. Tetangga non muslim juga kedatangan tamu-tamu muslim. Ada apakah ini? Biasa, tetangga non muslim juga terbuka menerima tamu muslim atau bertamu ke rumah tetangga muslim di saat lebaran. Tidak bermaksud apa-apa, hanya bermaaf-maafan saja.

Selanjutnya, Ibu dan Bapak menuju rumah Mbah Wazilah Wido Suroto (mbah putri). Pada hari-hari biasa, Bapak sering mengisi pengajian yang diselenggarakan di rumah mbah Wido. Mbah Wido usianya lebih dari 80 tahun dan masih sehat.

Semoga tahun lebaran ini lebih bermakna dari tahun sebelumnya. Selamat Idulfitri, mohon maaf lahir dan batin. Taqoballah minna wa minkum.


Karanganyar, 1 Juli 2017