Minggu, 23 Juli 2017

Yuk Nabung, Stop Utang

Nabung dan gadai

Sejak kecil, saya suka menabung uang recehan. Saya masih ingat, ketika kelas 5 SD, saya menabung dengan cara memasukkan uang receh ke dalam tabungan yang terbuat dari tanah liat (celengan). Celengan ini ukurannya tidak terlalu besar. Pada masa itu memang sebagian anak seusia saya, kalau menabung ya uangnya dimasukkan ke dalam celengan.

Setelah serasa cukup banyak uang yang saya kumpulkan (celengan tidak pernah saya bawa, ambil, jadi celengan tetap berada di tempat), saya berniat untuk memecah celengan. Tapi apa yang terjadi sungguh mengejutkan. Celengan saya ringan bahkan tidak ada suara khas uang receh dalam tabungan. Padahal lubang untuk memasukkan uang juga tidak berubah menjadi lebih besar. Apakah thuyul telah mengambil uang saya? Olala…. Tentu saja thuyul tidak mau mengambil uang receh dengan nominal 5, 10, 25, atau 50 rupiah. Akhirnya, celengan saya balik. Bagian bawah bukan lagi tanah liat utuh, melainkan sudah ditempeli kertas tebal.

Tidak usah terlalu lama saya menemukan siapa pelaku pengambilan uang celengan tersebut. Pokoknya ada yang ngaku. Hayo, kalau ada yang berani mengaku silakan ngacung.

Waktu SMP dan SMA, saya juga sering menabung. Meskipun uang saku terbatas, saya tetap menabung. Saya suka menyimpan uang. Tujuan saya menabung adalah untuk membeli barang kesukaan saya.

Kalau sampai sekarang, di saat saya tidak imut lagi, masih suka menabung, itu karena menabung adalah gaya hidup saya. Kini saya mulai merasakan manfaat menabung. Bukan hanya uang dan emas, gabah saja juga saya tabung. Saya memang bukan tipe pemboros. Apa yang saya beli dan saya miliki, semua itu memang saya butuhkan. Saya tidak memaksakan diri membeli barang yang tidak saya butuhkan. Saya juga tidak mau membeli barang hanya untuk memenuhi gaya hidup. Kebetulan saya dan suami juga memiliki kesamaan, tidak suka belanja. Jadi kami memang sudah klop.

Saya termasuk orang yang suka membeli barang dengan bayar tunai. Kalau belum punya uang, ya tunda dulu pembeliannya. Seandainya ada kebutuhan mendesak, tapi kami belum memiliki dana yang cukup, biasanya suami meminjam uang ke koperasi (kondisi kepepet).

Tips menabung ala saya: mengumpulkan semua uang receh, menabung di awal terima gaji, menabung dalam bentuk emas (tidak mudah tergiur untuk menjual), menabung secara konsisten dan gunakan uang tabungan seperlunya.

00000

Ketika saya mau menikah, saya bertanya pada calon suami (berapa uang yang akan diberikan untuk saya dan barang-barang apa saja  yang akan dibawa saat pasok tukon) tentang sesuatu yang akan dibawa saat pasok tukon. Suami mengatakan pada saya sejumlah uang dan barang yang rencananya akan diberikan pada saya. Bukan bermaksud matre, saya bilang seandainya uangnya ditambah bisa atau tidak? Katanya, itulah uang yang dia kumpulkan selama mendapatkan gaji CPNS. Saya kompori lagi, mbok hutang koperasi gitu. Jawabannya sungguh tegas! Katanya, dia bisa hutang koperasi, tapi nanti tiap bulan sisa gaji yang diberikan pada saya setelah menikah jumlahnya lebih sedikit. Ini baru permulaan, ternyata dia tidak mau berhutang.

Yang kedua, setelah 2 tahun ikut mertua, tiba-tiba mertua menyarankan kepada suami untuk membangun rumah. Saya belum memiliki tabungan sama sekali. Tabungan saya hanya sebatas kayu, bata, dan besi. Saya usul, tidak usah membangun rumah kalau dana yang harus dipersiapkan besar. Menyewa rumah mungil perumahan tipe 21 saja. Atau membeli perumahan tipe 21 lewat KPR.

Ternyata rencana saya dan suami diketahui mertua. Bapak mertua bilang kalau kami tinggal di perumahan tipe 21, mereka tidak akan menjenguk/berkunjung ke rumah kami. Menurut saya saat itu, itu adalah suatu ancaman. Pokoknya kami harus membangun rumah sendiri.

Karena kami tidak memiliki dana sama sekali, maka kami minta bantuan Bank. Sungguh berat kehidupan kami setelah menempati rumah sendiri yang tutup jendela dan pintu belum sempurna. Ada kejadian yang sampai sekarang tidak akan saya lupakan. Suatu hari, saya benar-benar tidak memiliki uang yang cukup. Susu yang biasa diminum Faiq habis. Faiq minta dibuatkan susu. Saya menitikkan air mata sambil berkata,”Nok, hari ini minum teh dulu ya. Besok Mama belikan susunya.” Faiq mengangguk. Saya merasa sangat bersalah.

00000

Bagi saya, hutang pada bank untuk membangun rumah, adalah pengalaman yang terberat saat itu. Lambat laun, ekonomi semakin mapan. Kami bisa menutup pinjaman dari bank. Selanjutnya, saya menabung untuk menyempurnakan rumah kami. Alhamdulillah, bisa mengaci tembok, memasang keramik lantai, membuat dapur dan lain-lain.

Tahun 2008, kami harus berurusan dengan bank lagi. Kali ini benar-benar kami membutuhkan bantuan bank. Saya dan suami harus membiayai pengobatan Ibu mertua (Bapak mertua meninggal tahun 2006). Ibu divonis mengidap tumor limfa (ganas). Tentu saja biaya yang harus kami keluarkan banyak dan kami tidak memiliki sejumlah uang untuk pengobatan Ibu.

Usaha kami untuk pengobatan dan demi kesembuhan Ibu tidak kurang-kurang. Manusia berusaha, tapi Allah yang menentukan. Tahun 2009 Ibu meninggal dunia. Setelah Ibu meninggal dunia, saya dan suami ingin sesegera mungkin melunasi hutang bank. Tidak lama kemudian, setelah Allah menurunkan rezeki lewat suami, kami bisa melunasi pinjaman dari bank.

Kembali kami menabung lagi dan menabung. Suatu hari, suami mengutarakan niat untuk membeli kendaraan roda empat. Tujuannya agar kami berempat kalau mudik atau bepergian bersama tidak repot. Saya bilang tidak. “Kita belum membutuhkan kendaraan. Kalau mudik, Ayah dan kakak bisa naik sepeda motor. Mami dan thole naik bus. Kakak kan lebih suka naik motor.”

Suatu malam saya coret-coret menghitung bila hutang pada koperasi. Misalnya, kami meminjam uang 70 juta. Kami mecicil selama 5 tahun atau 60 bulan. Tiap bulan kami harus setor 2.217.000 rupiah. Jasa koperasi tiap bulan 1.050.000 rupiah.

Bagi saya mobil belum kami butuhkan dan tidak penting. Uang  1.050.000 rupiah ini, bagi saya sangat besar. Menurut saya, uang itu bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Hidup tidak terasa sempit. Kalau tidak punya hutang, mau makan rasanya enak, dan tidur juga nyenyak. Mungkin suami kecewa dengan pendapat saya dan sudah menjadi kesepakatan (terpaksa sepakat).

Beberapa bulan kemudian, suami dapat rezeki nomplok (warisan yang di luar perhitungan sama sekali), kami dapat tunjangan sertifikasi. Menabung! Itulah kesepakatan kami, dan Alhamdulillah bisa kami tabung dalam bentuk sebidang tanah. Saya sangat bersyukur, dengan tak memiliki hutang, hidup kami terasa nyaman. Kalaupun ada sedikit pinjaman koperasi, kami masih merasa ringan untuk mencicil.

Prinsip kami yaitu tiap bulan harus bisa menabung dan sebisa mungkin menghindari hutang. Saya tidak anti berhutang, saya juga tidak menghalangi bagi mereka, atau siapa saja berhutang. Toh yang akan melunasi juga yang berhutang sendiri. Hutang itu sangat memberatkan. Kata orang-orang yang tahu bidang ekonomi “berhutang itu, kita kerja, yang untung yang memberi hutang. Kita tidak menikmati jerih payah kita.” Bener juga ya.

Yang sudah telanjur berhutang, mari cepat-cepat menyelesaikan. Agar kehidupan kita tenang, nyaman, damai, tidak emosi, murah senyum, dan waktu kita tidak habis untuk membayar bunga atau jasa.

Tulisan ini tidak bermaksud menyinggung siapa-siapa, kalau ada yang memiliki kejadian atau mengalami hal serupa, itu hanya kebetulan saja. Tulisan ini sarana untuk koreksi diri saya sendiri.

Karanganyar, 23 Juli 2017