Rabu, 30 Agustus 2017

Hebatnya Anak SMA Berwirausaha


Saya biasa berbincang-bincang ringan dengan Dhenok. Dhenok, anak pertama saya, sekarang kelas XII SMA. Dahulu, sewaktu kelas 5 SD, Dhenok pernah berjualan jajanan di kelasnya. Sebetulnya, saya tidak mengajari hal demikian. Mungkin ada yang sinis memandang saya. Saya keterlaluan, membiarkan anak mencari uang sendiri.
Waktu itu, Dhenok dan temannya bekerja sama berjualan di kelas karena tidak ada pedagang yang biasa menjajakan dagangan di luar pagar sekolah. Untuk sementara waktu, pedagang dilarang untuk berjualan di sepanjang depan sekolah. Waktu itu akan diadakan lomba kebersihan.
Modal untuk berjualan adalah patungan. Dalam perjalanan waktu, teman Dhenok minta berhenti. Jadilah modal temannya dikembalikan dan keuntungan dibagi dua. Selanjutnya, Dhenok berjualan sendiri. Dhenok kulakan di pasar menggunakan sepeda onthel. Sebagai orang tua, saya tidak melarang. Saya mendukung sepenuhnya.
Selain berjualan jajanan, Dhenok juga membuat mainan dan asesoris dari kain flannel. Sekali lagi, saya bangga karena dengan kesadaran sendiri Dhenok sudah mau berwirausaha.
Kelas 6 berhenti berjualan jajanan. Di SMP, Dhenok dan teman-teman berjualan kalau pas ada bazaar. Karena sudah terbiasa berjualan, saya tidak khawatir dengan usahanya. Di SMA juga demikian, bazaar digunakan untuk berjualan makanan dan minuman praktis siap santap tapi tetap sehat.
Nah, beberapa hari terakhir, saya melihat jiwa wirausahanya muncul lagi. Dhenok menawarkan buku-buku, novel, baik yang baru maupun seken secara online. Tidak cukup sampai di situ, Dhenok juga jual beli album Korea, foto, poster dan lain-lain.
Beberapa pelanggannya mengaku puas dengan pelayanan yang diberikan Dhenok. Pujian dari pelanggan dilihat dari pengemasan barang, bonus yang diberikan dan waktu yang tepat dalam pengiriman. Bagi Dhenok, keuntungan kecil tidak masalah, yang penting dia bisa menyediakan barang yang dibutuhkan pelanggan.
Kadang, saya terharu melihat Dhenok yang semangat online tapi nggak begitu semangat belajar (semoga belajarnya bukan sekadar menggugurkan kewajiban). Saya masih ingat, waktu Dhenok masih kecil pernah bilang,”Ma, aku nggak usah kuliah. Lulus SMA buka toko di rumah simbah putri (pinggir jalan raya). Kalau jualan kan uangnya bisa banyak. Kalau kuliah, kita malah membayar, uang kita habis.”
Bagi saya, sekarang Dhenok sudah bisa berpikir secara dewasa. Dhenok bisa memilih dengan penuh tanggung jawab. Saya percaya, dukungan saya akan memberikan kontribusi keberhasilannya. Saya mendukung Dhenok berwirausaha, tapi saya juga mendorong untuk giat belajar. Belajar itu hukumnya wajib, tidak pakai tapi-tapian.
Dhenok itu memang unik. Semoga Allah memberikan kemudahan untukmu ya, Nok. Sukses berwirausaha dan sukses akademiknya.
Nah, Bapak/Ibu yang memiliki putra/putri remaja, dukung mereka berwirausaha. Berikanlah modal untuk mengawali usahanya. Jangan biarkan mereka buta wirausaha. Jangan biarkan tangan-tangan mereka lumpuh. Biarkan mereka melakukan action mulai sekarang. Banyak usaha yang bisa dilakukan untuk mereka.

Karanganyar, 30 Agustus 2017