Sabtu, 19 Agustus 2017

PAGAR BAMBU RUMAH KAMI

Tahun 2002 yang lalu, ketika saya dan suami menempati rumah baru kami, rumah belum sempurna selesai. Jendela masih ditutup dengan kayu bekas mengecor. Pintu ditutup papan ala kadarnya. Intinya, rumah belum rapat benar. Ruang yang diperkeras lantainya baru satu kamar, yang kami tempati untuk tidur.
Samping rumah adalah kebun tebu. Ada batas antara tanah kami dengan tanah tetangga, yaitu pagar bambu. Ya, hanya bambu yang memisahkan antara pekarangan kami dengan tanah tetangga. Meskipun hanya dengan bambu tapi jelas ada batasnya.
Rumah kami berada di tengah sawah dan kebun tebu. Kami belum memiliki tetangga seperti sekarang. Walaupun sekarang memiliki tetangga (jaraknya agak jauh), tetap saja seperti tak memiliki tetangga. Oleh sebab itu pagar mangkok belum memberikan rasa aman. Kami tetap membutuhkan pagar bambu, pagar besi atau perpaduan antara pagar tembok dan besi.
Bila ada pagar, paling tidak orang asing tidak bisa leluasa keluar masuk halaman rumah. Lebih-lebih, orang asing tidak leluasa keluar masuk teras dan garasi kami. Mengapa demikian? Kalau rumah kami berpagar, paling tidak tamu akan berusaha membuka pintu lebih dahulu. Apalagi tamu tak diundang yang suka mengintai rumah kosong, tidak mudah untuk masuk halaman.
Pagar rumah juga memberikan rasa nyaman dan aman buat kami yang memiliki anak kecil. Hanya pagar bambu yang mampu kami pasang. Kami belum mampu untuk memasang pagar besi secara permanen. Namun demikian, kami berharap rumah kami bisa lebih aman daripada bila tidak berpagar. Semoga ada rezeki berlebih bisa untuk memasang pagar permanen.
Kalau kami memiliki tetangga yang berdekatan dengan rumah kami, maka pagar mangkok lebih aman daripada pagar tembok. Saya dan suami bersyukur, meskipun jauh dari tetangga, tetapi setiap hari berusaha untuk mendekat pada tetangga. Upaya kami agar dekat dengan tetangga adalah dengan menyapa mereka dan bersikap ramah.
Pagar bambu yang kami pasang di garasi juga memiliki fungsi agar ayam tidak leluasa masuk ke dalam garasi dan buang kotoran di dalam garasi. Saya bercita-cita untuk memasang pagar permanen agar si kecil tetap aman meski berada di luar rumah (berada di halaman). (Kahfi Noer)

Karanganyar, 19 Agustus 2017