Jumat, 20 Oktober 2017

Kualitas Hidup Ditentukan Oleh Kualitas Shalat


Setiap masuk waktunya shalat atau azan berkumandang, kami (guru dan murid) tidak segera menunaikan shalat berjemaah. Oleh karena istirahat pada pukul 11.55 WIB maka kami baru bisa melaksanakan shalat pada saat itu. Bagi kami tidak masalah, toh waktu untuk menunaikan shalat zuhur masih panjang.

Mendirikan shalat tepat waktu setelah azan, dengan berjemaah dan dilaksanakan di masjid, itu sangat utama. Tidak setiap orang bisa melaksanakan shalat berjemaah di masjid dengan tepat waktu. Dengan demikian, bagi mereka yang bisa melaksanakan dengan baik maka kualitas hidupnya lebih baik.

Orang yang sudah menjaga shalatnya, dia akan menjaga tutur kata dan perbuatannya. Orang tersebut akan berhati-hati dalam berbicara. Setiap yang dikatakannya pasti sudah dipikirkan baik dan buruknya serta akibat yang ditimbulkan.

Orang yang sudah menjaga shalatnya lima waktu, tidak akan menyakiti orang lain secara verbal maupun perbuatan. Kalau ada orang yang mendirikan shalat berjemaah di masjid dengan tepat waktu, tapi lisannya membuat orang lain terancam dan tidak nyaman, maka kualitas shalatnya patut dipertanyakan.

Saya mengajak siapa saja terutama diri saya pribadi untuk menjaga kualitas shalat, menjaga lisan dan perbuatan. Jangan sampai orang lain merasa tidak aman dengan lisan kita. Kita menyakiti secara verbal maupun perbuatan.

Mulai dari sekarang, tahan lisan kita. Karena sekali sudah keluar, lisan tidak dapat ditarik kembali. Sekali lisan kita melukai orang lain, kita tidak dapat mengobatinya hanya dengan permintaan maaf.

Bertutur katalah yang santun. Bicaralah seperlunya sebab berlebihan dalam bicara bisa “menjerumuskan” kita sendiri.


Jagalah shalat kita, jagalah sujud kita.