Kamis, 21 Desember 2017

Di Jepang : Ibu Memilih Tidak Bekerja dan Menjadi Ibu Rumah Tangga Full

Momong
dok.pri

Saya sering membaca tulisan di FB maupun di blog tentang keputusan seorang perempuan setelah menikah. Setelah menikah, ada yang memutuskan tetap bekerja (di luar rumah) dan sebagian memilih untuk berhenti bekerja dan menjadi Ibu Rumah Tangga secara penuh. Tentu saja semua sudah dengan pertimbangan dan melalui diskusi dengan pasangan. 

Ada yang nyaman setelah menikah dan memiliki anak tetap bekerja. Semuanya bisa dikondisikan. Ibu tetap bekerja, anak ada yang menjaga dan aman, pasangan tidak komplain. Ibu bekerja, di rumah memiliki asisten rumah tangga, sehingga saat bekerja tidak khawatir dengan anak yang ditinggalkan. Atau Ibu bekerja, anak dititipkan di Taman Penitipan Anak, pekerjaan rumah tangga dikerjakan dengan cara bekerja sama dengan pasangan. Umumnya, yang seperti ini antara suami dan istri sudah memiliki komitmen dan semuanya berjalan lancar. Perekonomian juga tidak bermasalah.

Ada yang bahagia dengan keadaan menjadi Ibu Rumah Tangga Full dan berhenti bekerja (di luar rumah). Perempuan/ibu yang memutuskan untuk menjadi Ibu Rumah Tangga penuh, sudah siap dengan semua yang akan dilakukan di rumah. Merawat dan mengasuh anak, melayani keperluan suami, mengerjakan pekerjaan rumah dan lain-lain dengan senang hati. Meskipun pemasukan/penghasilan keluarga hanya dari suami, tetapi semua bisa aman-aman saja secara ekonomi.

Saya melihat beberapa teman yang full menjadi ibu rumah tangga dan ibu bekerja di luar rumah, masing-masing merasa bahagia, hepi dan menikmati keadaan masing-masing. Saya sangat senang antara ibu bekerja dan ibu rumah tangga full bisa bahagia tanpa perlu mengusik satu sama lain.

Hanya saja, saya kurang suka kalau salah satu di antara mereka mengkritik atau nyinyirin ibu-ibu yang kondisinya tidak sama dengan mereka. Kita tidak perlu menilai si A yang full sebagai ibu rumah tangga atau ibu bekerja. Biarkan mereka bahagia dengan keputusannya. Kita tidak tahu titik kebahagiaan seseorang berada di mana. Bahagia itu ada di hati. Kita tak perlu menilai. Pokoknya tidak perlu sinis menilai seseorang hanya karena kondisi perempuan / ibu yang kita nilai tidak sama dengan kita. Mereka boleh beda ‘kan? Mereka punya pendapat ‘kan? Bukankah kita juga tidak mau dipaksa menjadi seperti mereka. Belum tentu kalau kita dinyinyirin juga bisa menerima sinisan mereka? Lantas, mengapa kita malah repot sendiri?

Pada suatu hari, saya membaca status seseorang yang menceritakan keadaan perempuan/ibu-ibu yang tinggal di Jepang. Ibu-ibu (yang sudah memutuskan untuk menikah) biasanya tidak bekerja dan full menjadi ibu rumah tangga. Secara ekonomi, keluarga tersebut dipenuhi oleh pasangannya atau suaminya. Tugas ibu adalah merawat, mendidik anak-anak dan mengurus rumah tangga. Kelebihannya: oleh karena pengasuhan anak langsung pada ibu, singkat cerita (secara umum) anaknya menjadi berkarakter. Lalu penulis membandingkan dengan “orang yang tinggal di Indonesia”. Setelah menikah, sebagian ibu tetap bekerja (di luar rumah). Pengasuhan anak dipercayakan pada orang lain. Dibandingkan dengan anak yang tinggal di Jepang di atas, ternyata karakter anak berbeda (tanda petik kurang berkarakter). Tapi ada juga lo, yang ibunya full sebagai ibu rumah tangga, tetapi anaknya tidak berkarakter. Sedangkan, keluarga lain ibunya bekerja di luar rumah tetapi anaknya tetap berkarakter.

Saya membaca dengan senyum-senyum sendiri. Aku horaaaa papa, batin saya. Tidak semuanya anak yang ditinggal bekerja ibunya di luar rumah seperti yang ditulis orang tersebut (kurang berkarakter). Saya menahan diri untuk memberikan komentar. Beda pendapat tentu boleh, tapi jangan memberikan penilaian negative pada pendapat orang lain.

Ibu bekerja, pasti memiliki alasan mengapa dia harus bekerja dan meninggalkan anaknya untuk diasuh orang lain. Ibu yang full sebagai ibu rumah tangga juga memiliki alasan mengapa dia harus meninggalkan pekerjaan. Hal ini tidak perlu diperdebatkan.

Belum lama ini, saya membaca tulisan yang diposting di blog. Isinya tentang alasan mengapa perempuan yang tinggal di Jepang memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya dan full menjadi ibu rumah tangga. Padahal mereka sudah mapan, karirnya bagus, jabatannya juga sudah tinggi.

Di Jepang, perempuan yang mau menikah berarti sudah memikirkan secara matang. Siap menikah, berarti siap punya anak. Kalau siap punya anak berarti siap mengasuh dan merawat anaknya sendiri. Itu artinya dia harus full bersama anaknya. Mengapa demikian? Menurut tulisan yang saya baca, di Jepang tidak ada perempuan yang menjadi pembantu rumah tangga dan tidak ada tempat penitipan anak seperti yang ada di wilayah Kabupaten Karanganyar, kota saya. Kesimpulannya, ibu-ibu yang tinggal di Jepang mau tidak mau harus momong anaknya sendiri. Nah, kalau anaknya cukup umur dan sudah sekolah (sudah besar), biasanya ibu-ibu ini akan kembali bekerja.

Ooooo, jadi itu ta alasannya kenapa di Jepang menjadi ibu rumah tangga itu ya harus full.  Kesimpulan saya: di Jepang gak ada perempuan yang berprofesi sebagai asisten rumah tangga dan tidak ada tempat penitipan anak. Gitu saja!
Karanganyar, 21 Desember 2017