Minggu, 24 Desember 2017

Tantangan Naik Perahu di Waduk Gajah Mungkur (3)

Semangat naik perahu
dok.pri

Faiz dan Jeje berlari-lari kecil bermain di sekitar tempat kami menikmati pecel gendar. Keduanya berbicara, entah apa yang dibicarakan. Saya lihat kalau salah satunya lari, maka yang lain mengikuti. Dunia anak-anak, dunia bermain-main. Saya tidak khawatir karena Faiz banyak yang memperhatikan.

Faiz sudah tidak sabar ingin naik perahu, duduk di atas perahu, benar-benar berada di atas air. Bukan hanya naik perahu berhenti di darat. Faiz memang diberi tantangan oleh teman-teman saya. Jawabnya dengan penuh percaya diri,”Aku berani!”

Saya membatin, halah Iz, Iz, kamu memang berani tapi simboknya akan berpikir ulang untuk naik perahu. Tapi saya tidak mau kalah dengan Faiz, gengsi dong…. Anaknya saja berani, mosok simboknya tidak berani. Padahal sungguh, saya paling takut dengan air dan yang berhubungan dengan air termasuk naik kapal. Apa iya, anaknya naik kapal dititipkan pada orang lain sementara maminya jalan-jalan sendiri? Sebelum menuju dermaga, saya sempat membeli mainan boneka gajah dari akar wangi. Harganya murah, hanya Rp. 5.000,00 saja.

Boneka gajah akar wangi
dok.pri

Jeje tidak mau naik perahu, benar-benar takut, padahal Ibunya pingin naik perahu. Biarpun telah dibujuk banyak orang dan disuruh jejer Faiz, tetap saja tidak mau. akhirnya Jeje tidak naik perahu. Yang tidak ikut naik perahu jumlahnya banyak.

Kami menuju tempat pemberangkatan. Satu perahu disewa dengan harga Rp. 200.000,00. Tempat yang dituju adalah karamba. Kalau perorangan naik perahu untuk jarak terdekat sampai karamba, biayanya sepuluh ribu rupiah. Katanya, kalau sampai bendungan/pintu air biayanya tambah. Dan, untuk sampai PLTA biayanya dua kali lipat karena jaraknya memang cukup jauh.

Di atas air, deg-degan
dok.pri

Bismillah, Alhamdulillah bisa naik perahu untuk kedua kalinya. Pertama kali naik perahu waktu masih SD kelas 1, sekitar empat puluh tahun yang silam, di Pantai Kenjeran Jawa Timur. (Wow, saya sudah tak muda lagi). Saya, Faiz dan teman-teman mengenakan pelampung. Ini wajib bro!

Perjalanan dimulai, pelan-pelan. Sepertinya keseimbangan belum tercapai. Haitsyah, apa pula ini, hukum Fisikanya keluar. Dada tetep saja berdegup. Allahu akbar, zikir ayo zikir berdoa semoga selamat sampai tujuan. Setelah jarak yang ditempuh cukup jauh, perahu berjalan dengan normal. Masya Allah, saya berada di atas air. Faiz berada di samping saya. Faiz digoda teman-teman saya,”Ayo Iz, ndang mancing.” Faiz hampir membuka tasnya.

“Nggak usah Iz. Mancingnya besok sama ayah saja.”
Faiz tidak merengek-rengek alias ngedrel. Anak itu menurut pada apa yang dikatakan maminya.
“Boleh berdiri, Mi?”
“Boleh.”

Saya memperhatikan anak itu. Pingin nangis rasanya, terharu. Setiap hari, Faiz selalu dekat dengan Ayahnya. Setiap hari kalau di rumah tidak ada Ayah, Faiz akan menangis berada pada taraf mengamuk. Bagaimana caranya, dia harus bertemu Ayah. Kalau dia sudah mengamuk, apakah saya marah? Tidak! Saya selalu teringat masa kecilnya yang sakit-sakitan dan keluar masuk rumah sakit. Saya merasa bersalah kalau ingat ketika kecil Faiz sering sakit.

“Faiz tidak pusing?”Tanya saya.
“Tidak. Mami pusing ya?”
“Iya, Iz. Ini namanya mabuk air.”

Setelah perahu berjalan di antara karamba, perahu berbalik arah dan kembali ke dermaga. Alhamdulillah, kami selamat sampai di tempat semula. Saya tidak sempat foto-foto. Maklum, saya harus menggandeng Faiz ke mana saja dia melangkah.

Karamba
dok.pri

Kepala saya agak pusing. Ternyata mbak Lina juga pusing. Semoga nanti setelah makan siang, pusingnya hilang. Nah, setelah naik perahu, kami mencoba berkeliling naik sepur kelinci.


Perjalanan kami belum selesai. Kami harus mengantre karena sepur kelincinya hanya satu (3 gerbong).