Jumat, 24 Maret 2017

Keuntungan Menanam Dan Panen Sayuran Belakang Rumah

            MENANAM KACANG HIJAU
Sewaktu aku masih mengajar dan tinggal di Blora, suami mengatakan menanam kacang hijau di sawah. Biaya untuk tenaga, benih, pupuk dan lain-lain jumlahnya luar biasa banyak. Karena aku tidak tahu-menahu tentang pertanian, aku sempat protes dan keberatan. Aku tidak mau apa yang aku lakukan tidak punya dasar. Kalau dasarnya hanya ikut-ikutan pada orang yang berhasil, tanpa memiliki ilmu sedikit pun berarti siap untuk gagal total.
Honor-honor yang aku terima selama mengajar di Blora setelah menikah, masuk dalam biaya-biaya pertanian. Aku pasrah. Sebenarnya ide terjun ke dunia pertanian sudah sejak lama suami utarakan. Bahkan katanya kelak biaya sekolah untuk “anak-anak” berasal dari bercocok tanam. Aku manut saja. Toh percuma saja kalau aku tidak setuju atau membantah.
Setelah tinggal di Karanganyar, waktu itu usia kandunganku sudah cukup kuat untuk diajak “bekerja keras”, kacang hijau mulai panen. Jarak antara rumah dan sawah cukup jauh. Belum lagi dalam kondisi hamil aku tidak mungkin berpanas-panas untuk memanen kacang hijau. Kami berinisiatif memanen kacang hijau pada sore hari setelah matahari tidak terik lagi. Karena mulai memanen kacang hijau sudah sore, maka sebantar saja sudah maghrib. Kami tak membawa hasil panen dalam jumlah banyak.
Sabar, itulah kuncinya. Setiap pulang mengajar mengupas polong-polong kacang hijau, lalu menjemurnya. Namum suami ternyata bukan orang yang sabar lagi telaten. Kacang hijau dipanen harus tepat waktu. Kalau waktunya panen tidak segera dipetik, maka esok harinya polong kacang hijau akan pecah dan isinya tumpah jatuh di atas tanah dengan sendirinya. Malah suami bosan memanennya.  
Setelah hasil panen dikumpulkan semua dan dijual, hasilnya jauh dari harapan. Jangankan untung, balik modal saja tidak. Suami bilang,” maaf ya dik kita kali ini belum berhasil.” Kecewa, itulah kata-kata yang ada dalam hatiku. Bagaimana tidak? Seandainya uang yang digunakan untuk membiayai “kebun” itu aku gunakan untuk kepentingan keluarga maka aku tak perlu berhutang koperasi untuk menyiapkan perlengkapan bayi.

MENANAM PADI
Setelah anakku lahir, suami disuruh mertua untuk menanam padi. Bayanganku kali ini masih negatif. Bagaimana tidak?  Menanam padi seluas 3500 meter persegi. Kalau gagal lagi atau maksimal impas, aku katakan merugi. Usaha yang dibangun kok merugi alias tidak mendapatkan untung, maka perlu belajar dulu tentang usaha yang akan dijalani.
Usaha yang luar biasa, dan suami kadang begadang demi “mendapatkan air jatah” untuk sawah. Sebab bila air jatah tidak ditunggui maka akan dialirkan ke sawah lain oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Tidak heran sering terjadi bentrok antara petani satu dengan yang lain  karena berebut air. Sepulang dari mengajar suami juga langsung ke sawah untuk melihat tanamannya.
Perjuangan dan pengorbanan suami tidak sia-sia. Alhamdulillah, hasilnya memuaskan. Dari hasil panen ini kami bisa menabung kayu, besi dan material lain yang akan digunakan untuk membangun rumah.

MENANAM JAGUNG
Setelah merasa berhasil menanam padi, mertua menyuruh kami untuk mencoba komoditas lain. Pada musim kemarau di nama air tidak begitu melimpah, menanam jagung pilihan yang tepat.
Kunci utama dari bercocok tanam adalah rajin merawat dan “menyambangi” sawah. Dengan sering menengok sawah, kami jadi tahu perkembangan tanaman. Atau kalau ada sesuatu yang tidak beres dengan tanaman bisa segera diatasi.
Saat panen jagung, sungguh aku tidak menyangka sama sekali. Panen hanya mengandalkan keluarga, yaitu suami, adik ipar dan pembantu (aku ganti yang momong anakku, karena pembantu memilih ikut panen). Dari hasil penjualan jagung kering, kami bisa mencukupi konsumsi untuk tukang-tukang kami yang bekerja membangun rumah.

MENANAM KACANG TANAH
Sukses menanam padi dan jagung, suami mencoba menanam kacang tanah. Akan tetapi sayang, ketika tanaman kelihatan bagus hasilnya, mertua meminta pada suami supaya tanaman kacang tanah diteruskan mertua. Ikhlas, itu yang harus aku lakukan. Bagaimanapun sawah itu juga milik mertua. Kami hanya diberi ijin untuk mengelolanya.
Setelah kacang tanah dipanen, dan kami menempati rumah kami sendiri (masih di lingkungan sawah tempat kami bercocok tanam), kami mulai memikirkan usaha sendiri. Walaupun sawah letaknya hanya di belakang rumah kami, bukan berarti kami bisa seenaknya menanam sayuran atau apa saja. Semua harus minta ijin pada mertua lebih dahulu.

MENANAM LOMBOK
Setelah Bapak mertua meninggal, sawah yang biasanya digarap Bapak sendiri kini tidak diolah sendiri melainkan dengan sistem bagi hasil dengan petani penggarap. Ibu mertua tidak repot mengurus ini-itu untuk sawah yang akan ditanami padi. Ibu cukup menyumbang separo pupuk, bila telah panen Ibu mendapatkan separo bagian (untuk biaya panen ditanggung Ibu dan petani penggarap sawah).
Khusus untuk belakang rumah (yang berimpit dengan rumah), suami diperbolehkan menanam sayuran. Setelah belajar pada orang yang sudah berpengalaman, suami akhirnya mencoba menanam lombok merah. Dari menanam lombok ini, aku jadi tahu istilah-istilah pertanaian serta hama penyakit yang menyerang tanaman. Ada lalat buah, layu fusarium, cambuk, dan lain-lain.
Dengan harga stabil relatif tinggi, sungguh aku tak pernah menduga sama sekali kalau untungnya “luar biasa”. Karena perawatannya optimal, jumlah panennya maksimal. Teman suami yang memberikan “pelajaran lombok” mengatakan kami termasuk pemain baru yang berhasil.
Pada saat menanam lombok, ini merupakan tamanan pertama yang kami usahakan setelah menempati rumah di dekat sawah. Ada perbedaan yang kami lakukan saat panen kali ini, tidak seperti panen sebelumnya. Yaitu kami menyedekahkan sebagian panen kami untuk orang lain (teman guru, tetangga dan saudara), sebelum kami menjualnya. Artinya sedekah pada saat panen pertama. Uniknya, teman-teman atau tetangga datang dan memanen sendiri.

MENANAM KACANG PANJANG
Akhirnya tanaman lombok mulai tua dan buahnya mulai kecil-kecil. Setelah menimba ilmu pertanian dari “orang pintar”  bertani, kami disarankan menanam kacang panjang. Untuk kacang panjang, umurnya relatif pendek. Buah mulai dipanen pada umur 45 hari setelah tanam.
Ternyata memperlakukan tanaman kacang panjang tidak sama dengan lombok. Kalau yang ini lebih ekstra. Mulai menanam bibit, memasang turus, mengikat antara turus satu dengan yang lain, merempel daun bagian bawah dan mengkondisikan tanaman untuk membelilit pada turus.
Sayang, tanamannya terlalu subur, terlalu banyak pupuk. Saking suburnya, tanaman rimbun sekali. Begitu terserang hama; ulat dan cambuk, kami kewalahan untuk mengusir secara alami. Kami mulai melirik berorganik.
Sewaktu panen perdana, kami mengundang tetangga dan teman-teman guru untuk memetik polong kacang panjang. Semua bisa mengambil sepuasnya. Bagi kami kacang panjang yang dipetik akan memberikan polong berikutnya lebih banyak.
Karena polongnya banyak, kadang-kadang kami tidak dapat menyelesaikan panen dalam satu kali panen. Apalagi waktu hujan turun dengan deras. Jelas, kami tidak dapat berbuat banyak. Lebih baik menghentikan kegiatan memanen dari pada kena resiko. Padahal kacang panjang yang tidak segera dipanen, keesokan harinya ukurannya terlalu besar dan tidak laku dijual.
Hari berikutnya kami menyiasati dengan memanen sebagian di pagi hari dan sebagian dipanen sepulang mengajar. Dengan cara seperti ini kami bisa menyelesaikan panen dalam satu waktu panen.
Kacang panjang jenis hijau yang kami usahakan ini termasuk komoditas yang laku di segala cuaca. Tidak heran, sejelek-jelek harga kacang panjang kami tetap untung. Akhirnya aku menyadari bahwa Allah memberikan jalan pada kami. Usaha kami di bidang pertanian ini termasuk bisa diperhitungkan. Dengan seperti ini semoga harapan suami dahulu yakni ingin menyekolahkan anak-anak dari hasil pertanian bisa terwujud.

MENANAM MENTIMUN
Setelah panen kacang panjang berakhir, kami menanam mentimun. Untuk tanaman mentimun karena diusahan tegak, tidak dibiarkan menjalar di atas tanah, maka kami harus mengikat batang mentimun pada turus. Mengikat batang mentimun pada turus sangat menyita waktu.
Mentimun mulai dipanen saat usia 40 hari setelah tanam. Mentimun termasuk sayuran umur pendek. Memanen mentimun memerlukan tenaga besar. Ya, karena buahnya yang berat, kandungan airnya tinggi. Kami harus memindahkan mentimun tersebut dari sawah ke halaman rumah. Sedikit demi sedikit memindahkan hasil panen. Ya, kami harus sabar.
Waktu itu harga jual mentimun dari aku seribu rupiah per kilogram. Pedagang pasar menjual kembali dua ribu rupiah per kilogram. Total hasil panen lebih dari dua ton. Lebih dari dua juta uang yang kuterima. Kebetulan pedagang yang aku setori hasil panen masih saudara sendiri.
Dengan modal satu jutaan, kami mendapatkan untung lebih dari satu juta. Uang dapat balik kurang dari dua bulan. Dengan keberhasilan ini semakin mengukuhkan niat kami untuk terus mengolah sawah/kebun untuk sayuran.
Dari beberapa tanaman yang telah kami usahakan, kami jadi lebih paham tentang pertanian. Dari penyediaan bibit, mengolah tanah, memupuk, merawat, membasmi hama, memanen dan analisis keuangannya. Walaupun tidak terlalu detail yang aku tulis, tapi cukup memberikan informasi tentang setiap tanaman. Mulai menanam sampai memanen dan memasarkan.
Dengan menuliskan setiap  kali menanam sayuran, sedikit banyak menambah pengetahuan. Bila diperlukan setiap saat, aku memiliki catatan. Sayangnya catatan kecil itu sering hilang karena buku yang dipakai juga buku campur sari. 

Nah, ini pengalaman saya menanam sayuran. Sebenarnya sekarang ingin memulai menanam sayuran lagi, tapi waktunya perlu diatur sedemikian rupa agar kegiatan harian bisa tertata rapi. bagi yang ingin mencoba menanam sayuran, silakan mulai dari skala kecil. Tapi kalau sudah niat terjun bisnis sayuran, mangga mawon kalau langsung dalam jumlah yang besar.

Kamis, 23 Maret 2017

Ibu Minta Pulsa Tidak Menipu

Seorang teman satu kantor menulis pesan melalui sms “Selamat Idul Fitri. Mohon Maaf Lahir dan Batin. Bu Im. Minta pulsa ke no hp ini 20 rb saja.” Saya tersenyum sambil mengirim pulsa dari Yogyakarta menuju Karanganyar.

Lebaran Tahun Lalu

Senin, 20 Maret 2017

Mesin Jahit Rusak


Siang ini dua teman saya yang baik hati dan tidak sombong menawarkan memperbaiki mesin jahit. Sebut saja Sanjay dan Akhsay. Sanjay bahkan membawa onderdil yang dibutuhkan. Keduanya guru mesin. Saya tahu di dalam tas keduanya ada senjata tajam. Tapi saya cuek saja.

Beberapa waktu yang lalu, Sanjay sudah berusaha memperbaiki mesin saya yang tiba-tiba kalau untuk menjahit benangnya putus padahal kain yang dijahit tidak tebal.

Awalnya dikira kuku macannya yang bermasalah. Kuku macan itu bagian mesin jahit yang dekat dengan sekoci. Ternyata kuku macannya baik-baik saja bahkan tidak mengaum #haiyah.

Akhirnya pengatur jarak benang diganti dan semua distel lagi. Tahu nggak, siang tadi listrik mati, jadi dinamo harus dilepas terus pakai manual digenjot. Badalahhhhh nggak punya tali lulang/kulit sapi. Ada akal, pakai tali rafia. Semua jadi lebih mudah karena ada orang yang baik.

Tapi kok masih putus-putus benangnya. Ada yang tak beres. Dua pakar mesin jahit itupun geleng2.

"Bu, ada jarum yang lain?"
"Yes."

Setelah jarum diganti ternyata benangnya enggak putus2 lagi. Kesimpulannya, yang bermasalah bukan onderdil yang berat2, ternyata jarum yang pertama/sebelumnya tadi tajam. Ngerti ngono mbok wingi-wingi jarumnya diganti.

Padahal dua teman tadi terlanjur bawa drei, obeng, kater, silet, palu dan lain-lain.
Ternyata, kadang masalah kita sepele tapi kita selalu mikir mencari solusi secara rumit.

Minggu, 19 Maret 2017

Perlengkapan Olahraga Untuk Orang yang Aku Sayangi

Ketua Penyelenggara Cabang Bulutangkis
PORKAB 2017
dok.pri

Kalau ditanya siapa orang yang saya sayangi, saya akan menjawab Ibu dan Bapak, saudara kandung, suami dan anak-anak, serta keponakan-keponakan. Ibu dan Bapak adalah dua orang yang mencintai, menyayangi dan mengasihi saya sejak saya lahir hingga saat ini. Sudah sepantasnya saya melakukan hal yang sama, menyayangi beliau dengan sepenuh hati.
Saudara-saudara saya adalah orang-orang yang menyayangi dan mendukung saya. Mereka secara penuh memperhatikan saya. Di antara bentuk perhatiannya adalah turut serta membiayai pendidikan saya (ketika saya masih sekolah/kuliah) dan memperhatikan keadaan anak-anak saya (sampai sekarang). Hubungan kami antar saudara memang sangat erat. Tentu saja saya juga sangat menyayangi mereka. Saya tidak pernah melupakan jasa saudara-saudara saya.
Yang tidak terlewatkan begitu saja adalah anak-anak. Anak-anak adalah motivator saya. Mereka banyak memberikan inspirasi untuk saya. Setelah berumah tangga dan memiliki anak-anak, tentu saja ada suami yang wajib saya sayangi. Kali ini yang akan saya tuliskan adalah suami adalah orang yang saya sayangi. Bukan berarti saya menomorsatukan suami dan menomorduakan orang tua dan saudara saya.
00000
Ada cerita unik ketika saya pertama kali bertemu dengan suami.
Aku Ingin Naik Haji Bersamamu
Aku ingin naik haji bersamamu. Kata-kata itu aku dengar tahun 1995 beberapa hari setelah kita saling mengenal. Baru beberapa hari. Aku menanggapi dengan santai, Insya Allah. Eit, tapi mana mungkin? Impossible! Aku di Yogyakarta, kamu di Karanganyar. Jawabmu, ada cara kita bisa naik haji bersama. Aku diam. Teman kita yang lain, dari Blora juga bilang,”Mbak, aku ingin kita naik haji bersama.” Oh, berarti kita usahakan tahun pemberangkatannya sama ya. Biarpun kita beda kabupaten, beda provinsi.
00000
Dahulu, saya tak begitu memedulikan kalimat Aku Ingin Naik Haji Bersamamu. Kata seorang mahasiswa yang baru beberapa hari saya kenal karena saya dan dia satu kelompok ketika melaaksanakan Kuliah Kerja Nyata, di Sleman.
Saya tersenyum menanggapinya. Ah, mana mungkin? Dia berasal dari Kabupaten Karanganyar, sedangkan saya dari Yogyakarta. Misalnya bisa berangkat pada tahun yang sama, tapi untuk bertemu di Tanah Suci tentu saja tidak mudah.
Tujuh belas tahun kemudian. Saya mendengarkan laki-laki tersebut mengucapkan kalimat yang sama,” Aku Ingin Naik Haji Bersamamu.” Tahun 2012, uang yang ada di genggaman tangan hanya cukup untuk mendaftar haji satu orang. Saya bilang kepada laki-laki tersebut,”Berangkatlah lebih dahulu. Setelah sampai di Tanah Suci, panggil aku dan anak-anakmu.”
“Aku ingin naik haji bersamamu, kita cari solusinya. Karena denganmu semuanya akan mudah. Kita akan melakukan banyak hal bersama-sama di Tanah Suci.” Air mata saya meleleh.
Ternyata laki-laki itu tidak ingkar janji. Laki-laki yang saya kenal 17 tahun yang lalu tetap ingin bersama saya pergi ke Tanah Suci. Siapakah laki-laki yang berani mengucapkan kalimat Aku Ingin Naik Haji Bersamamu?
Laki-laki tersebut sebelum berkenalan dengan saya ternyata 5 tahun sebelumnya telah memperhatikan saya (ah, jadi ge-er saya). Menurut pengakuannya, tahun 1990, saya pergi ke kampus naik sepeda onthel. Ternyata dia juga naik sepeda onthel. (Saya Jurusan Pendidikan Kimia dan laki-laki itu Jurusan Pendidikan Olahraga, di IKIP N Yogyakarta). Dia hapal dengan rute yang saya tempuh. Tapi saya sama sekali tak pernah tahu laki-laki tersebut. Nah, tahun 1995 saya mengambil mata kuliah KKN. Laki-laki tersebut juga mengambil mata kuliah KKN. Bukan kebetulan, rasanya Allah sudah mengatur semuanya. Saya dan laki-laki tersebut berada pada kelompok kecil yang sama. Bisa ditebak ceritanya.
Setelah melalui jalan yang berliku-liku, akhirnya kami bisa mendaftar haji bersama dan ketika saya ditanya oleh petugas DEPAG tentang muhrim, laki-laki tersebut menjawab,”Saya, suaminya.”
Terima kasih, sudah kaupercaya melahirkan, merawat, membesarkan anak-anakmu. Tak pernah saya sangka ternyata  Insya Allah, Aku  Akan Berangkat Haji Bersamamu.
00000
Jalan Santai Guru-Siswa Ultah Kabupaten
dok.pri
Rasanya sudah banyak yang suami berikan untuk saya dan anak-anak. Selama ini kami saling mendukung pekerjaan kami masing-masing. Suami sebagai guru olahraga, tentu saja selain kegiatan mengajar, kegiatan olahraga di luar dinas tidak sedikit. Saya sangat mendukung kegiatannya. Demikian juga suami sangat mendukung kegiatan mengajar dan menulis saya (saya  sebagai guru dan penulis).
Selama ini saya sudah diberi fasilitas yang memadai, seperti laptop, kamera, dan lain-lain. Sepertinya, saya belum pernah memberikan sesuatu yang selalu dibutuhkan suami untuk menunjang kegiatan mengajar dan olahraga di luar dinas. Suami terlibat aktif dalam kegiatan olahraga terutama cabang bulutangkis di luar jam mengajar. Seperti aktif dalam kepanitiaan PORKAB (Pekan Olahraga Kabupaten), POPDA (Pekan Olahraga Pelajar Daerah), O2SN (Olimpiade Olahraga Siswa Nasional), Bupati Cup dan lain-lain.

Pembina PMR, Jumbara 2016
dok.pri

Suami aktif berolahraga bulutangkis dan tenis lapangan. Oleh karena kegiatan di luar rumah (untuk olahraga) sangat padat, maka suami memerlukan peralatan olahraga yang cukup memadai dengan kualitas yang baik. Saya pernah melihat nota pembelian sepatu, raket bulutangkis dan raket tenis, wow….harganya tidak ada yang murah.
 Untuk keperluan olahraga, suami menggunakan uang selain gaji. Biasanya kalau mendapatkan honor dari kepanitiaan olahraga (baik di kecamatan maupun di kabupaten), suami hanya bilang ke saya,”Mi, aku dapat rezeki.” Saya cukup sadar diri, itu bukan uang gaji, jadi saya tidak mau rakus memintanya. Suami akan membelanjakan uang tersebut untuk membeli sepatu, raket (bulutangkis atau tenis) dan lain-lain. Pernah suatu hari saya dan anak saya menanyakan kepadanya, kalau suami ulang tahun kepingin hadiah apa. Jawabannya,”Nanti Ayah beli sendiri saja.”
Mungkin suami sadar, uang untuk membeli raket, sepatu, aksesoris dan lain-lain harganya tidak murah. Mungkin suami saya merasa kasihan kalau saya dan anak saya harus mengeluarkan uang yang banyak untuk membeli peralatan olahraga. Tapi benar lo, saya ingin memberikan sesuatu yang spesial dan bermanfaat untuk mendukung profesi suami.
Peralatan Olahraga Tak Murah
dok.pri

Nah, tulisan ini sebenarnya bentuk dari cerita saya tentang suami yang saya ikut sertakan dalam lomba ngeblog yang diselenggarakan oleh www.elevenia.co.id. Siapa tahu dapat masuk nominasi, terus menang, terus dapat hadiah. Lumayan ‘kan kalau dapat hadiah, bisa untuk membeli peralatan olahraga buat suami.

Karanganyar, 19 Maret 2017

Kamis, 16 Maret 2017

Isteri Ikhlas Dipoligami

Hai suami!
Dahulu, dirimu bersusah payah, berjuang untuk bertahan, meniti segala macam usaha denganku. Jatuh bangun, terseok dan gagal bersamaku. Tapi kita tidak patah semangat dan tetap saling menguatkan.
Waktu kita habis untuk berusaha, berikhtiar dan berdoa. Siang dan malam, pagi dan petang, hujan dan panas tak kita hiraukan untuk memohon kepadaNya agar kita bisa bertahan. Lalu kita berhasil melewati masa sulit.
Hai Suami!
Kehidupan kita berangsur membaik. Apa yang kita cita dan idamkan terkabul. Lambat laun kebahagiaan itu mewarnai rumah sempit kita. Perekonomian semakin membaik bahkan kita bisa dibilang lebih mapan.
Hai Suami!
Tiba-tiba dirimu menjadi asing bagiku. Engkau ingin berbagi bahagia dengan perempuan yang lain. Sebelum berbagi bahagia, maka tengoklah ke belakang. Siapa yang mendampingimu bersusah payah? Kalau engkau mau berbagi bahagia, maka berbagi susah dan derita dahulu dengan orang lain. Apakah perempuan itu mau dan bisa?
Hai perempuan lain!
Maukah kamu bersusah-susah sekian puluh tahun sebelum berbahagia? Jangan lihat kebahagiaan seseorang di saat ini saja. Tapi lihat dan bacalah sejarah perjuangan seseorang di masa lampau! Bersama siapa dan siapa pendampingnya di saat dia berada di titik nol?
00000

Tulisan ini terinspirasi dari status FB seorang sahabat yang lagi membicarakan tentang poligami.

Selasa, 14 Maret 2017

Tips Membereskan Pakaian Agar Rumah Tampak Rapi

Pekerjaan rumah yang dilakukan seorang Ibu atau perempuan, tidak akan pernah ada habisnya. Bagi perempuan yang bekerja di luar rumah, memerlukan waktu khusus atau jadwal khusus untuk melakukan masing-masing pekerjaan. Memasak, mencuci pakaian, menyeterika, mencuci piring, merapikan seluruh ruangan, maupun kamar merupakan pekerjaan rumah yang selalu akan dikerjakan (pinginnya) dalam waktu bersamaan (kalau bisa). Akan tetapi tenaga kita sangat terbatas. Melakukan beberapa jenis pekerjaan, harus bergantian. Tidak mungkin kita bisa melakukan sekaligus.
Salah satu contoh pekerjaan yang harus segera dikerjakan adalah membereskan pakaian agar rumah tampak rapi. Adapun beberapa macam kegiatan membereskan pakaian yang bisa dilakukan agar rumah tampak rapi adalah:
1.    Bebas pakaian di ruangan yang sering digunakan untuk beraktivitas selain kamar
Sering kita menaruh pakaian di ruangan-ruangan selain kamar. Misalnya karena tergesa-gesa waktu berganti pakaian, lalu pakaian yang tidak kita kenakan kita taruh ditempat yang tidak semestinya. Sebenarnya, bisa kita lakukan untuk membiasakan diri menaruh pakaian pada tempatnya, misalnya keranjang. Dengan demikian, pakaian yang tidak kita pakai terdapat dalam satu wadah saja. Lebih baik lagi kalau wadah tersebut memiliki tutup.

2.    Bebas pakaian di dalam kamar
Kamar merupakan tempat yang selalu kita gunakan untuk beraktivitas.  Kamar, tidak hanya kita gunakan untuk beristirahat (tidur). Kalau kita tidak memiliki ruang kerja khusus, kadang-kadang kita asyik bekerja di dalam kamar daripada di ruang lain. Alasan lebih tenang dan santai inilah yang membuat kita betah bekerja di dalam kamar. Sama halnya dengan ruangan lain yang kadang terdapat pakaian, di kamar juga demikian.

Bila kita ganti pakaian, sering kita membiarkan pakaian yang tidak kita pakai menumpuk/digantung di dalam kamar. Selain membuat kita merasa tidak nyaman, tumpukan pakaian juga bisa digunakan untuk tempat persembunyian nyamuk. Sebaiknya kamar pun bebas dari pakaian. Mungkin kita bisa menyediakan keranjang pakaian yang memiliki tutup agar kamar kelihatan rapi.

3.    Mencuci pakaian
Sebaiknya, mencuci pakaian dilakukan secara rutin, setiap hari, dua hari sekali atau sesuai kebutuhan. Biasanya kita mencuci pakaian dalam jumlah tertentu. Sebenarnya bila kita mencuci pakaian rutin setiap hari, maka pakaian kotor tidak lagi kita lihat. Tapi dengan alasan tertentu (menghemat waktu), kita mencuci pakaian kalau sudah dalam jumlah banyak. Hal ini tergantung dari kebiasaan masing-masing orang.

4.    Melipat pakaian
Setelah pakaian kering, kita bisa melipat pakaian terlebih dahulu sebelum ada waktu untuk menyeterika. Sebagian dari kita akan melipat semua baju, lalu dimasukkan ke dalam lemari sebelum diseterika. Dengan melipat pakaian, segera setelah pakaian kering akan mengurangi kusut. Pakaian juga tetap wangi setelah dilipat kemudian dimasukkan ke dalam lemari. Untuk pakaian harian yang dikenakan di rumah, sebagian orang tidak perlu diseterika. Tapi, bagi orang yang merasa “harus” sempurna, melipat pakaian saja tidak cukup. Semua harus diseterika sebelum masuk dalam lemari kemudian dikenakannya.

5.    Menyeterika pakaian
Ibu-ibu/perempuan sibuk yang tidak memiliki asisten rumah tangga, semua pekerjaan rumah akan diselesaikan sendiri atau berbagi tugas dengan suami dan anak-anak. Bila tidak menggunakan jasa seterika pada laundry, pekerjaan menyeterika adalah pekerjaan yang membosankan dan memakan waktu yang lama. Ada kiat khusus bagi Ibu yang sibuk dan tidak mendapatkan tuntutan dari anggota keluarga lainnya, yaitu menyeterika pakaian seperlunya saja. Biasanya pakaian yang akan digunakan untuk bekerja/bepergian yang akan diseterika. Ibu-ibu bekerja akan menggunakan waktu sebaik mungkin.

6.    Memasukkan pakaian dalam lemari/kotak ajaib
Setelah diseterika, biasanya pakaian akan masuk dalam lemari/loker, kotak ajaib. Memasukkan pakaian ke dalam lemari/kotak ajaib adalah cara tepat agar ruangan tampak rapi dan bersih. Biasanya Ibu-ibu melakukan pekerjaan seperti ini tanpa keluh-kesah. Semua berjalan semestinya. Dengan atau tanpa bantuan suami, Ibu-ibu akan melakukan pekerjaan membereskan pakaian dengan suka cita. Karena Ibu-ibu tahu, membereskan pakaian agar ruangan tampak rapi membuat nyaman bagi Ibu-ibu sendiri.

Semoga bermanfaat dan selamat beraktivitas.

Senin, 13 Maret 2017

Ternyata Candi Borobudur Itu Dekat

Mudik saya kali ini, bertemu Ibu dan saudara-saudara perempuan saya hanya sebentar saja. Sebelum maghrib, saya dijemput saudara perempuan yang rumahnya di dekat rumah Ibu. Alhamdulillah, akhirnya sampai di rumah Ibu. Dua saudara perempuan saya lainnya juga datang ke rumah Ibu, tapi kedatangan mereka hanya untuk transit semata. Ibu dan 3 saudara perempuan saya, serta Bulik akan pergi ke Surabaya. Mereka berlima akan menjenguk Pakde (kakak Ibu) yang sedang sakit.
Jadilah, Bapak sendirian di rumah. Saya, suami dan si kecil tidur di rumah Bapak. Sedangkan Dhenok tidur di rumah kakak saya bersama dua keponakan saya. Saya tidur dengan nyenyak. Sebelum subuh, suami membangunkan saya dan mengajak saya pergi ke Borobudur setelah salat subuh. Saya membayangkan Borobudur itu jauh sekali sehingga dengan malas saya menolak.
Saya menyuruh suami untuk mengajak Dhenok dan Thole saja. Rupanya Dhenok juga tidak bersemangat. Ketika membeli sarapan nasi gudheg di pasar, saya bilang pada suami, mbok ya kalau membuat acara jangan dadakan. Kalau semalam sudah dibicarakan, tentu saya mau diajak jalan-jalan.
“Borobudur kan jauh,”kata saya.
“Borobudur itu dekat, Mi,”sahut Dhenok.
“Dari rumah sini, kita hanya memerlukaan waktu 2 jam saja,”kata suami.
Hah, dekat sekali. Wah, saya jadi menyesal begitu diberi tahu kalau Borobudur hanya dekat saja. Tidak memakan waktu lama dengan ditempuh naik sepeda motor. Nasi sudah menjadi bubur. Waktu semakin siang, tidak mungkin saya pergi jauh-jauh.
Sebelum jam sebelas, saya meninggalkan rumah Bapak dan kembali ke Karanganyar. Dengan pulang lebih awal, saya berharap sampai di Solo masih ada bus yang membawaku sampai Karanganyar.
Di perjalanan, naik bis, saya membayangkan Borobudur yang sangat dekat. Seandainyaa saya tahu dari awal, tentu saya bisa sampai di candi lagi. Ya, tak perlu disesali, masih ada waktu. Semoga saya diberi umur panjang dan sehat agar bisa ke Borobudur lagi.
Sebenarnya saya sudah dua kali berwisata ke Candi Borobudur. Yang pertama ketika saya masih SD (1980/1981) dan yang kedua tahun 1994 setelah Merapi erupsi. Yang kedua ini yang paling berkesan karena baju kotor, debu-debu abu vulkanik membuat baju saya kotor semua.

Karanganyar, 13 Maret 2017

Jumat, 10 Maret 2017

Tiba-tiba Ketua Guru Amnesia

Tiba-tiba Ketua Guru Amnesia
Sejak dahulu, gaji diterima setiap tanggal 30, kecuali bulan Februari, gaji diterimakan tanggal 28. Hari ini seorang teman guru bilang dengan keras lagi disengaja pada karyawan TU.
“Bu, hari ini gajian!”
“Ndak tahu ya. Belum ada perintah.”
“Lo, gajian kok mau tanggal 29, tahun ini bukan tahun kabisat lo Bu.”
Sampai siang hari tetap saja tidak ada tanda-tanda akan gajian. Maharani memberanikan diri meninggalkan perguruan, disusul guru yang lain. Padahal hari ini ada agenda untuk mengadakan kunjungan ke rumah siswa. Sebenarnya daftar nama siswa yang akan dikunjungi sedang disiapkan. Apa kabar siang? Sepertinya ketua guru bukan amnesia tapi sengaja menahan gaji dan uang transport.
00000
Tiba-tiba menjadi pelupa. Entah lupa beneran atau pura-pura lupa dan tidak tahu. Sudah 4 bulan ini, ketua guru belum memberikan uang transport. Maharani tidak ambil pusing soal uang transport. Dia sadar kalau tidak mendapatkan uang transport karena presensi sidik jarinya terlambat satu menit.
Terlambat satu menit itu tidak berarti terlambat mengajar. Jam mengajar dimulai pukul tujuh tepat. Sedangkan, Maharani harus datang paling lambat pukul tujuh kurang sepuluh menit. Daripada tergesa-gesa, mengejar waktu hanya untuk mendapatkan uang tiga ribu rupiah per hari, mending tidak dapat uang transport tapi perjalanannya tenang.
Maharani tidak tahu, alasan apa yang digunakan ketua guru sehingga uang transport 4 bulan teman-temannya belum keluar. Ketua guru selalu bilang dalam minggu ini atau paling lambat minggu depan. Kenyataannya, semua pada gigit jari.
Apakah tiba-tiba ketua guru terjangkit penyakit amnesia? Semoga saja tidak, sebab repot juga kalau amnesia. Kasihan teman-teman guru lainnya kalau sampai tidak mendapatkan uang transport.
00000

Menjadi Lebih Kaya Dengan Menulis

Menulis adalah aktivitas yang bisa dilakukan oleh siapa saja, tidak dibatasi oleh usia dan jenis kelamin tertentu. Menulis bisa dilakukan oleh anak-anak, remaja maupun orang dewasa. Pekerjaan menulis juga bisa dilakukan oleh laki-laki dan perempuan.
Menulis adalah pekerjaan hati. Menurut saya, menulis yang dilakukan karena niat berbagi maka pekerjaan ini tidak menjadi beban berat bagi penulisnya. Berbagi, tidak terbatas pada materi dan jasa saja. Tulisan juga bisa kita bagikan untuk orang lain dan bisa diambil manfaatnya oleh orang lain.
Dengan niat berbagi inilah maka kita sebagai penulis memiliki kewajiban untuk menyebarluaskan tulisan kita. Bagaimana cara menyebarkan tulisan kita? Ada banyak cara dan kemudahan untuk membagikan/menyebarkan tulisan kita. Di antaranya lewat media sosial (facebook, blog, twitter), dibukukan, dan dibagikan lewat media massa (contoh : Koran, majalah, tabloid).
Karena niatnya berbagi inilah maka kita sebagai penulis kadang-kadang harus rela menulis tanpa menerima honor, bayaran, atau gaji. Akan tetapi kita tetap bisa kaya dengan menulis, bahkan mungkin lebih kaya. Sebelumnya, jangan menilai kekayaan seseorang hanya dengan jumlah materi. Kekayaan di sini memiliki makna yang luas. Kekayaan kita berupa ilmu yang terus bertambah dan berkembang, saudara yang banyak karena silaturahmi kita (interaksi kita dengan orang banyak), dan mungkin tawaran untuk menulis yang akhirnya dibayar.
Kalau ilmu kita berkembang dan semakin luas, bisa jadi inilah awal dari keberhasilan kita. Kita bisa menulis lebih berkualitas dan bisa dijadikan buku yang berkualitas. Kalau buku kita berkualitas, tentu banyak yang berminat, bukan? Ujung-ujungnya adalah buku kita bisa diterima oleh orang lain dan laku. Nah, pada akhirnya kita kecipratan rezeki. Kalau sudah demikian, menulis bisa membuat kita kaya, bukan?
Beberapa teman penulis yang saya kenal, mereka bisa lebih kaya hanya dengan menulis. Bagi teman saya, menulis bisa dilakukan dengan tetap berada di rumah. Mereka menulis pada saat-saat waktu luang atau meluangkan waktu. Pekerjaan di rumah tetap selesai, mengurus anak juga oke dan rekeningnya semakin gendut saja.
Oleh sebab itu, jangan remehkan pekerjaan menulis. Pada saat ini, menulis merupakan pekerjaan yang bisa diandalkan atau menjanjikan. Yang penting, kita menulis yang berkualitas, tidak asal-asalan dan tidak asal kejar setoran. Rezeki menulis itu tidak akan pernah salah waktu datangnya.
Bagaimana kalau setelah menulis, kita tetap tidak menjadi kaya? Jangan salahkan pekerjaan menulis atau hasil tulisan kita. Cobalah untuk membuat tulisan yang lebih baik lagi. Yaitu dengan cara belajar menerima pendapat orang lain dari buku-buku, artikel atau tulisan orang lain. Kita memang harus terbuka, mau menerima tulisan/pendapat orang lain. Kalau kita mau maju, jangan menganggap tulisan kita paling baik.
Jadi, ingin lebih kaya tidak? Kalau ingin lebih kaya, ayo menulis.

Karanganyar, 10 Maret 2017  

Rabu, 08 Maret 2017

Calon Besan

Sudah menjadi rahasia umum tentang hubungan perbesanan antara Maharani dan Kumar Khan. Awalnya memang pembicaraan yang sambil lalu saja. Suami Maharani, Mahendra adalah guru olahraga. Teman Maharani, yaitu Kumar Khan juga guru olahraga. Puja, anak Maharani, dulu adalah atlet Tae Kwon Do dan Adit, anak Kumar Khan adalah atlet bulutangkis. Teman-teman Maharani sangat setuju kalau Maharani dan Kumar Khan berbesanan.
Teman-teman juga memberikan kompor untuk memanas-manasi. Kumar Khan kaya, ternaknya banyak, anaknya satu, sawahnya luas dan panennya melimpah. Menurut pandangan teman-teman, Maharani juga seperti itu. Jadi keduanya sederajat.
Sepertinya ketua guru tidak tahu hal ini. Setiap Maharani ngobrol dengan Kumar Khan, selalu saja Kumar Khan dipanggil untuk suatu keperluan. Seolah-olah ketua guru curiga pada Maharani dan Kumar Khan. Jangan-jangan keduanya terlibat hubungan terlarang.
Pada suatu hari, Kumar Khan dipanggil ketua guru. Di dalam kantor ketua guru, Kumar Khan ditanya-tanya tentang hal pribadi.
“Pak Kumar, jangan sampai ada hal-hal yang bisa merusak nama baik sekolah.”
“Maksudnya apa, Pak?”
“Begini, saya lihat Pak Kumar sangat dekat dengan Ibu Maharani. Di luar, sangat santer berita kedekatan antara Pak Kumar dan Ibu Maharani.”
“Tidak perlu dilanjutkan Pak. Mohon maaf, ini urusan pribadi antara saya dan Ibu Maharani. Sebaiknya Bapak jangan berprasangka buruk.”
“Hubungan itu harus dihentikan, Pak!’
“Oh, tidak bisa.”
Plok! Muka ketua guru memerah seperti habis ditampar. Setelah Kumar Khan keluar ruangan, ganti Maharani yang dipanggil ketua guru.
“Ibu Maharani tahu, mengapa saya panggil?”
“Tidak.”
“Tentang hubungan Ibu Maharani dengan Pak Kumar Khan.”
“Oh, memang tidak boleh ya.”
“Jelas dong.”
“Alasannya apa Pak?”
“Jangan ada berita miring di luar sana tentang hubungan Ibu Maharani dengan Pak Kumar Khan.”
“Oh.”
“Tolong, hentikan hubungan itu.”
“Tidak bisa, Pak.”
“Mengapa?”
“Itu urusan pribadi saya Pak.”
Tidak lama kemudian, Maharani pamit keluar ruangan. Ketua guru pusing. Akhirnya ketua guru memanggil salah satu guru senior.
“Biarkan saja mereka dekat, Pak.”
“Bapak malah mendukung?”
“Mereka dekat bukan karena selingkuh, Pak. Mereka berdua merencanakan menjalin hubungan besan. Artinya mereka menjodohkan anak-anak mereka.”
Ketua guru lunglai, lemas, malu, mukanya seperti ditampar.


Karanganyar, 8 Maret 

Selasa, 07 Maret 2017

Traktor Quick (Kunjungan Industri SMK Tunas Muda Karanganyar)

Foto-foto ini diambil oleh Kahfi Noer di ruangan ketika petugas dari Traktor Quick menyampaikan pemaparan tentang CV Karya Hidup Sentosa. Setelah pemaparan, dilanjutkan keliling melihat kegiatan di pabrik. Tapi sayang, selama berada di dalam pabrik, tidak boleh mengambil gambar. 

Penyerahan Cindera Mata

Malu aku malu

Mas Anjas Sadar Kamera

Duo kakak beradik

Menunggu acara dimulai

CV Karya Hidup Sentosa


Pendiri CV KHS

Produk yang pertama dihasilkan

Catatan: Foto diambil dari dpkumen milik Noer Ima Kaltsum (Kahfi Noer)








Senin, 06 Maret 2017

Kunjungan Industri di MMTC Yogyakarta - Studio Radio TV

Radio

Studio Radio


Ruang Proses Pengeditan Sebelum Tayang 


Ayo Siaran

Televisi
Lampu-lampu panggung


Di Panggung Ini Pementasan Berlangsung


Membutuhkan banyak kamera untuk mengambil gambar
dari beberapa sudut


Layar monitor tulisan berjalan
di belakangnya ada kamera


Tulisan di meja difoto kamera di atasnya
lalu ditayangkan pada layar 


Tombol pengatur waktu siaran dan iklan
di atas kertas ada mic untuk siaran

Catatan: Semua gambar dokumen milik Noer Ima Kaltsum (Kahfi Noer)








Jumat, 03 Maret 2017

Pulang Kampung Setelah Urusan Dunia Selesai

Pulang kampung

Setelah ikut mendampingi siswa-siswi melaksanakan kunjungan industry di Bengkel UD Rekayasa Wangdi, MMTC Yogyakarta dan CV. Karya Hidup Sentosa, saya langsung ke rumah Ibu dan Bapak. Rombongan menuju Pantai Parangtritis.
Alhamdulillah, saya bertemu dengan Ibu, Bapak, keponakan (mbak Afi) dan kakak nomor 2 (mbak Anna). Waktu saya lebih banyak saya gunakan untuk berbincang-bincang dengan Ibu dan Bapak. Sebelumnya, the panas sudah dihidangkan oleh Bapak untuk saya. Maklum, ke rumah Bapak ibaratnya hanya “mampir ngombe” karena hanya beberapa jam saja.
Bapak mulai bercerita tentang tetangga yang beberapa waktu yang lalu meninggal dunia. Bulan Januari, saya dan Bapak sempat membicarakan tetangga saya yang sakit ginjal. Awalnya sang tetangga mengeluh sakit maag. Bertahun-tahun keluhannya seperti itu. Tapi ternyata, setelah sekian tahun kemudian, yang terjadi adalah kondisi yang lemah dan bukan sekadar sakit maag seperti yang dikeluhkan, melainkan sakit ginjal. Tetangga harus menjalani cuci darah dua kali dalam seminggu.
Singkat cerita, seminggu sebelum meninggal, tetangga memanggil semua anak dan menantunya. Setelah berkumpul, beliau mengatakan bahwa sepertinya beliau sudah tidak bisa untuk melaksanakan ibadah haji. Uang tabungan untuk pergi naik haji dan tabungan yang lain (lebih dari 50 juta rupiah ) dibagikan untuk ketiga anaknya dan isterinya dan sisanya untuk diinfakkan ke masjid. Yang diinfakkan jumlahnya jutaan rupiah (tidak perlu saya sebutkan). Selain itu, tetangga juga berwasiat.
Sehari sebelum jadwal cuci darah, tetangga saya minta seluruh anggota keluarga dikumpulkan. Bapak saya yang bukan siapa-siapa (bukan saudara, hanya tetangga dekat) juga diminta anggota keluarganya datang. Rupanya mereka merasa tenang dengan kehadiran Bapak. Mereka minta didoakan. Bagi Bapak, doa yang paling utama adalah dari anak, isteri dan keluarganya. Tapi, menurut mereka, Bapak lebih tahu dan keberadaan Bapak membuat mereka tenang.
Beberapa saat kemudian, Bapak pamit untuk melaksanakan shalat. Di rumah, belum juga shalat, kembali Bapak dipanggil untuk ke rumah tetangga. Setelah shalat, Bapak membaca Alqur’an di rumah tetangga. Suasana tenang, sejuk. Sesekali anggota keluarga mendekati tetangga saya.
Oleh karena, dari pagi Ibu dan Bapak berada di rumah tetangga dan Ibu belum makan, maka Ibu mengajak pulang untuk makan dahulu. Sampai di rumah, belum sempat Ibu dan Bapak makan, kembali Bapak dipanggil keluarga tetangga saya.
Bapak melihat tetangga saya seperti orang tidur. Setelah minta kaca/cermin, cermin didekatkan pada hidung tetangga. Tidak ada uap sama sekali.
“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Bapak sudah meninggal.”
Tidak ada teriakan histeris. Mereka menangis tapi tetap tenang karena sudah mengikhlaskan sejak lama.
Waktu itu saya mendapatkan pesan WA group keluarga. Saudara kandung meminta untuk semua anak-anak Bapak untuk melayat. Dari keenam anak Bapak, hanya saya yang tidak melayat. Saudara saya dari Blora juga melayat.
Bapak bilang,”Pak Marsono itu orang baik. Orang desa yang tak tahu apa-apa, tapi mau belajar agama. Beliau juga dermawan, kalau sedekah tidak tanggung-tanggung. Semoga khusnul khotimah.”
Saya mendengarkan cerita Bapak dengan perasaan terharu. Bapak, sesepuh itu tetap sehat. Dibutuhkan banyak orang. Saya pandangi wajah Bapak, memang teduh.
Jam delapan malam, saya harus ke Malioboro sesuai janji saya untuk ikut rombongan pulang kembali ke Karanganyar. Waktu saya pamit Ibu dan Bapak:
“Hati-hati ya momong anak-anak. Ojo lali shalate,”kata Bapak.
“Hati-hati ya,”kata Ibu.
“Ojo lali panenane,”kata mbak Anna.
Gerimis mengiringi perjalanan saya dari kampung halaman tercinta sampai tempat parkir Abu Bakar, timur stasiun Tugu. Terima kasih ya, mbak Afi sudah mau mengantar Bulik yang cantik ini.

Karanganyar, 3 Maret 2017  
*Foto : dokumen Noer's