Senin, 08 Januari 2018

STOP KETERGANTUNGAN PADA SUAMI

Hari Ahad, saya dan teman-teman pergi bersilaturahmi. Saya menuju rumah teman (pemilik mobil). Sampai di rumah teman, saya lihat ban depan sepeda motor kempes. Oleh karena perkiraan saya nanti pulangnya awal, saya tidak begitu mencemaskannya.

Dugaan saya keliru. Ternyata siang sampai sore, selama perjalanan pulang, turun hujan deras. Saya tidak mengambil sepeda dan   menambalkan ban. Saya diantar pulang ke rumah oleh pemilik mobil. Sepeda motor saya titipkan di rumah teman saya.

Hari Senin keesokan harinya, saya ke kantor diantar suami. Dengan demikian, pulangnya dijemput suami. Sebenarnya, pagi-pagi saya sudah berpesan pada suami untuk memompakan sepeda onthel atau kereta angin. Bagi saya, daripada tergantung suami (diantar dan dijemput) lebih baik gowes saja. Suami memaksa agar saya mau diantar.

Pulang sekolah saya dijemput suami dan diantar mengambil motor. Ban roda depan kempes. Ban yang kempes dipompa. Suami pergi untuk menambalkan ban. Sebentar kemudian sudah kembali ke rumah teman saya. Ternyata bannya hanya kurang angin, bukan bocor.  .

Sehari ini diantar jemput oleh suami, rasanya seperti lima belas tahun yang lalu. Dulu saya diantar jemput suami karena tidak punya kendaraan yang lain. Lalu saya memutuskan untuk naik sepeda onthel atau gowes sampai sekolah.

Kini setelah ada sepeda motor yang lain, saya bisa mandiri, tidak tergantung suami. Saya bebas datang dan pulang (sekolah). Saya bisa menjemput anak saya dan bisa bepergian sendiri (asal tidak jauh).


Terima kasih motor lawasku. Semoga aku bisa lebih mandiri lagi dengan sepeda motor lawas, amin.