Rabu, 21 Februari 2018

CALON PENGANTIN DILARANG MEMEGANG BARANG

Foto. dokumen Tyan Wardana

Saya tidak memaksa Anda untuk mempercayai hal-hal di luar nalar atau logika. Silakan, Anda mau percaya atau tidak. Saya juga tidak akan mempengaruhi Anda. Bagi saya, apa yang telah saya alami, mereka alami, bukti bahwa semua yang awalnya kita tidak percaya menjadi percaya.

Kalau Anda tidak setuju, jangan lantas mengatakan kami telah melakukan syirik. Sekali lagi, semua kembali pada Anda, mau percaya atau tidak.

Dahulu, ketika saya diajak calon suami (sekarang menjadi suami) ke rumahnya. Kebetulan di rumahnya sedang ada acara memasak penganan untuk persiapan pernikahan kami. Waktu itu, calon Ibu mertua membuat ceriping, keripik/kerupuk. Saya menyebutnya rengginan (renggenang).

Proses pembuatan rengginang cukup lama. Mula-mula beras ketan dikukus, lalu dicetak. Selanjutnya ketan yang sudah dicetak tersebut dikeringkan/dijemur. Setelah kering, rengginan mentah digoreng.

Ketika saya mendekat di dapur, calon mertua saya dan kerabatnya melarang. Saya dilarang memegang ketan masak. Katanya, kalau saya nekat memegang ketan, nanti rengginannya tidak bisa jadi sesuai harapan.

Oleh karena keluarga calon suami percaya hal itu, maka saya menurut. Saya sekadar menghormatinya saja. Saya sendiri sebagai muslim, tidak percaya.

Nah, tadi siang, teman saya yang baru saja menikah bercerita.

“Bapak, Ibu,  boleh percaya, boleh tidak percaya. Kemarin waktu kami mau berangkat ke rumah calon istri, kerabat saya dan tamu yang ada di rumah repot menyiapkan segalanya yang akan dibawa ke rumah calon istri. Sebenarnya saya sudah diingatkan tidak boleh memegang apapun yang akan dibawa ke rumah calon istri.

Merasa tidak enak hati, saya ikut-ikutan memegang pisang raja yang akan dibawa. Ternyata setengah jam kemudian, pisang yang saya pegang berubah jadi gosong warnanya. Sedangkan pisang yang tidak saya pegang tetap baik kondisinya.”

Teman saya menunjukkan fotonya. Bagi saya, semua itu tinggal percaya atau tidak pada awalnya. Kalau memang percaya dengan hal semacam itu, kalau melanggar biasanya akan terjadi apa-apa. Bila tidak percaya, semua akan baik-baik saja.

Bukan berarti saya syirik. Keluarga kami tidak mempercayai hal semacam itu dan kami baik-baik saja. Kini setelah mertua saya sudah tidak ada (meninggal), saya dan suami menjalankan sesuatu hanya karena Allah. Kalau ada sesuatu yang terjadi, itu semata-mata takdir.

Karanganyar, 21 Februari 2018