Sabtu, 10 Maret 2018

BUKAN SECANGKIR KOPI SUSU TERAKHIR


Umar dan Hakim mengenakan jaket. Keduanya hendak ke bengkel. Fitri membuka plastik berisi kacang rebus.

“Kopi susu tanpa gula,”kata Fitri sebelum Marwan menyiapkan kopi susu panas.
“Tumben tanpa gula. Sepertinya lagi mengurangi karbo ya.”
“Pingin saja.”

Sebentar kemudian kopi susu sudah berada di atas meja.

“Fitri, jangan lupa hari Minggu hadir pada acara pernikahan Santi.”

Sebenarnya Fitri tidak mau membahas hal satu ini, takut nanti menyinggung Marwan. Ternyata Marwan sendiri yang memulainya.

“Insya Allah aku datang pada acara istimewa sahabat karibku.”
“Fit, sebenarnya beberapa hari ini aku mau menanyakan sesuatu padamu tapi kok rasanya berat. Seperti ada beban. Setiap bertemu kamu, rasanya serba salah.”

“Kenapa? Kamu itu seperti berhadapan dengan orang yang baru kamu kenal saja. Bicaralah, aku akan mendengarkan.”
“Fit, 19 tahun kita berteman dan akrab. Demikian juga dengan Hakim dan Umar. Kalian sudah aku anggap saudara sendiri. Kita sering melakukan banyak hal bersama-sama.
Memang, untuk masalah pribadi, kita masih membatasi untuk bercerita. Mungkin kali ini saat yang baik aku mengatakannya padamu.”

Fitri mulai menyimak dengan serius. Kali ini tanpa Hakim dan Umar, jelas suasananya jadi berbeda. Fitri berharap semoga bisa mendengarkan tanpa memotong cerita Marwan. Apapun yang dikatakan Marwan, semoga tidak ada hal yang membuat kecewa.

“Belasan tahun yang silam, istriku pernah mengatakan bahwa dia ikhlas seandainya aku mencari pendamping yang lain. Saat itu, aku tidak menanggapi omongannya.

Mungkin karena aku menganggap bahwa kata-kata  istriku diucapkan ketika dia sedang sakit. Aku berkonsentrasi dalam penyembuhan sakitnya. Aku tidak pernah mempunyai pikiran untuk menikah lagi.

Beberapa bulan terakhir, aku bertemu dengan orang istimewa, yang benar-benar membuatku menyukai orang tersebut. Ketika aku bertanya pada istriku apakah keikhlasannya andai aku menikah lagi, masih berlaku untuk saat ini. Jawabnya adalah ya, masih berlaku.

Aku seperti mendapatkan lampu hijau. Tidak perlu waktu yang lama, aku bisa menyelami orang tersebut. Kamu tahu, siapa yang aku maksud.”

“Siapa?”
“Santi. Tak perlu aku jelaskan mengapa Santi keluar dari kantor. Kamu pasti tahu jalan ceritanya. Aku mau membantu Santi keluar dari masalah. Semoga niat baikku diridhai-Nya.”

“Jadi? Wan, kamu akhirnya sama….” Fitri mengambil beberapa butir kacang lalu ditimpukkan ke arah Marwan.
“Apa-apaan, kamu Fit.”
“Semoga samawa. Salam buat istrimu, mbak Riana. Benar-benar hatinya mulia.”

Keduanya tersenyum. Fitri menyeruput kopi susu buatan Marwan.
“Kopi susu ini bukan cangkir yang terakhir, kan?”goda Fitri.
“Masih ada cangkir yang lain untuk hari esok.” (TAMAT)

00000

Cerita ini hanya fiktif belaka, bila ada kesamaan nama tokoh, tempat, kejadian dan waktu. Itu hanya kebetulan saja.