Jumat, 09 Maret 2018

MARWAN DAN SECANGKIR KOPI SUSU






Sudah 19 tahun mereka bersahabat. Sembilan belas tahun, bukan waktu yang singkat. Dalam kurun waktu tersebut, tentu saja banyak hal sudah dibagi termasuk pengalaman. Ada yang unik dalam persahabatan ini. Meskipun dekat sudah lama, bersyukur tidak ada hal-hal yang membuat mereka jauh. Meski bersahabat dan akrab, tetap saja mereka membatasi diri untuk hal yang sangat pribadi.

Fitri, Marwan, Umar dan Hakim. Empat cangkir kopi susu tertata di atas meja. Berempat mereka memainkan cangkir masing-masing. Fitri mengambil kopi susu dengan sendok kecil lalu diseruputnya. Hakim menuangkan sedikit kopi susu di atas lepek. Umar menghangatkan telapak tangannya dengan memegang cangkir. Marwan langsung mengambil cangkir dan meniup kopi susu panas.

“Kopi susu buatan Marwan memang mantap tiada duanya,”puji Fitri.
“Nikmatnya tiada tara karena tak berbayar,”Umar menimpali.
“Apalagi menyeduhnya dengan sejuta cinta,”Hakim mulai menggombal.
“Nggak usah menyanjung berlebihan. Ada berita baru nih,”kata Marwan
“Gosip apaan?”
“Kemarin, istriku dapat hadiah berupa kopi susu. Nah, biar adil, sekarang aku kasih sendiri-sendiri saja. Mulai besok, kita buat kopi susu sendiri,”kata Marwan
“Ooooo, tidak bisa.” Terdengar koor dari Fitri, Umar dan Hakim.

Fitri tersenyum. Marwan dan secangkir kopi susu adalah perpaduan yang pas. Untuk mendapatkan kopi susu yang sama nikmatnya, sudah sepantasnya kalau mereka bertiga kamu buatkan.
Pisang rebus dan kacang rebus sudah menipis. Fitri memberi kode untuk menghabiskan kopi susu dan kembali untuk mengerjakan pekerjaannya.

00000