Sabtu, 10 Maret 2018

MENJADI BUKAN YANG PERTAMA




“Aku sadar, mungkin banyak orang yang tidak percaya dengan yang aku lakukan. Tapi semua telah terjadi. Aku memutuskan untuk segera menikah ada alasan tertentu. Mungkin kamu juga akan mengatakan tidak masuk akal.

Benar, kata orang cinta telah membutakan seseorang. Dengan berbagai pertimbangan, tentu saja pendapat dari orang tuaku, aku memutuskan segera mengakhiri kesendirianku.

Aku berharap, dengan menikah dan berumah tangga, hatiku benar-benar tenang dan perjalananku kutempuh tidak sendirian.

Berat rasanya untuk mengatakan padamu, orang yang telah aku anggap sebagai sahabat sejak tiga tahun yang lalu. Fit, nantinya aku bukanlah perempuan yang pertama bagi calon suamiku.”

Fitri kaget! Artinya? Ah, mana mungkin Santi? Pasti Santi sedang bercanda!

“Ada perempuan lain yang sudah mendampingi calon suamiku. Tapi percayalah, aku bukan pelakor. Mereka yang datang secara baik-baik. Perempuan itu memintaku untuk menjadi pendamping suaminya.

Orang tuaku menyerahkan semuanya padaku. Dan aku semakin yakin, aku bisa bersamanya.”

Fitri membayangkan Marwan yang kecewa melihat kenyataan ini. Pasti wajahnya kusut. Kemudian secangkir kopi susu berubah menjadi secangkir kopi pahit lagi getir. Wan, tabahkan hatimu ya.

Setelah ini, tidak ada lagi empat cangkir kopi susu seduhan Marwan untuk dinikmati berempat. Tak ada lagi bincang-bincang ringan ditemani ubi rebus dan kacang rebus. Meja itu akan kosong di saat istirahat sore. Fitri menarik nafas panjang. (BERSAMBUNG)

00000