Jumat, 20 April 2018

BLUS TANPA KANCING BAJU

Setelah selesai dijahit, baju tinggal diobras, diitik-itik dan dipasang kancing. Oleh karena saya tidak memiliki mesin obras dan itik, maka saya harus menggunakan jasa obras di dekat Pasar Jungke.

Sebenarnya saya bisa meluangkan waktu di sela-sela jam kosong tidak mengajar ke Pasar Jungke tapi untuk izin pasti dipersulit. Kalau ke Pasar sepulang sekolah, tempat jasa obras sudah tutup. Akhirnya saya hanya bisa menunda waktu, berharap saat libur tidak mengajar bisa ke Pasar Jungke.

Waktu terus berlalu, dan sampailah pada Hari Kamis. hari di mana pakaian seragam yang dikenakan adalah batik hijau yang selesai saya jahit belum berkancing. Itu saja saya mengakali menjahit kelim dengan jarak panjang karena masih akan saya bongkar (belum diobras).

Lalu bagaimana dengan kancingnya? Dalang tidak kekurangan cerita dan lakon. Pagi harinya bagian kancing saya kaitkan dengan peniti. Haha, karena saya memakai kerudung besar, jadi baju saya kelihatan aman terkendali.

Seperti biasa, kalau baju saya jahit sendiri, teman saya selalu mengoreksi. Dan taraaaa, korektornya tertawa melihat kenyataan bahwa saya menggunakan banyak peniti. Mereka bilang, Bu Ima kok dilawan.

Sekali ini saja blus tanpa kancing baju. Memang jahitan mesin dan tangan saya hasilnya rapi sehingga pas dan nyaman di badan saya.

Mungkin ini isyarat agar saya membeli mesin obras.

Semoga bermanfaat.