Rabu, 18 April 2018

MENJAHIT DAN MENULIS


Bapak saya bukan penjahit, tapi bisa menjahit. Seragam SD - SMA, baju lebaran kami, dijahit Bapak. Tiap Bapak menjahit, saya cuma memperhatikan. Saya tidak punya niat untuk belajar menjahit karena Bapak juga bukan tipe "orang" yang sabar mengajar menjahit.
Tahun 2000, ketika dhenok masih baby, saya belajar menjahit dengan cara ikut-ikutan kursus. Saya tidak sabar mengikuti kursus. Saya ingin cepat langsung praktek bukan teori semata.
Ketika pertama kali praktek adalah membuat blus lengan pendek, kancing satu di belakang. Teman-teman saya dan instruktur kursus mengatakan kalau hasil jahitan saya baik/halus. Baju kedua, ketiga dan seterusnya, saya jahit dengan penuh kesabaran.
Sekarang, kalau mau menjahit baju, tidak asal jahit. Saya tetap sabar, bila ada yang kurang baik, saya rela untuk membongkar dan memasang kembali.
00000
Pertama kali menulis waktu kelas II SMA, tahun 1988. Sama halnya dengan menjahit, ketika menulis, saya sabar menulis di buku lalu menyalin dengan mesin ketik. Zaman dulu, komputer masih langka (jangan memikirkan kemudahan seperti sekarang, dengan main delete bila keliru dan kirim surat elektronik). Sabar adalah kata kuncinya.
Persamaan kegiatan menjahit dan menulis adalah harus dilakukan dengan sabar. Persamaan yang lain adalah the power of kepepet bila sudah dekat dengan DL akan dikerahkan.
Beruntung saya memiliki kemauan belajar menjahit dan menulis. Dengan metode "mengintip" orang lain, alhamdulillah ilmu saya sedikit bertambah.
Ibarat gelas yang awalnya kosong, saya memilih mengisinya dengan ilmu. Kali ini baru ilmu menjahit dan menulis, isinya.
00000
Semoga tidak bosan melakukan aktivitas menjahit dan menulis.