Rabu, 30 Mei 2018

NIKAH SIRI


Pulang dari mengajar, aku kaget mendapatkan istriku membukakan pintu untukku dengan wajah cantik. Wajah cantik yang tidak seperti biasanya. Istriku tidak suka berdandan. Bahkan saat mengajar atau acara resmi pun hanya berdandan tipis-tipis. Hanya bedak dan lipstrik yang menghiasi wajahnya.

Aku tidak perlu bertanya. Mungkin dia hanya ingin tampil beda saja. Atau mungkin dia memberi kejutan padaku. Ah, biarlah. Aku tidak perlu berkomentar atau sekadar berbasa-basi.

Ketika anak gadisku pulang sekolah dan mendapati Maminya berdandan, dia terkejut. Secara spontan berseru,”Mami mau ke mana? Kok dandan pakai pensil alis segala. Pangling lo aku!”

Istriku tersenyum, tidak membalas seruan dan kekagetan anakku. Keesokan harinya, ketika berangkat mengajar, istriku tampil biasa saja, tidak reka-reka. Benar kan, Cuma pingin belajar berdandan. Atau diam-diam istriku mempersiapkan lomba rias wajah?

Lebih dari seminggu, setiap pulang sekolah, di rumah istriku selalu berdandan cantik. Lama-kelamaan aku terbiasa dan tidak kaget lagi.

Tiba-tiba pagi ini istriku berdandan cantik sebelum pergi mengajar. Nggak salah, nih? Ah, biarlah. Mungkin dia ingin tampil beda, atau mungkin akan ada acara setelah mengajar.

Ternyata setiap hari istriku berdandan cantik sebelum pergi mengajar. Wah, berarti ada kemajuan. Sebenarnya, tanpa memakai kosmetik berlebihan, istriku kelihatan cantik, sederhana dan bersahaja.

00000

Hari ini, aku mendapatkan undangan syukuran. Teman SMA-ku menikah lagi. Aku mengajak istriku. Sesampai di rumah temanku, aku bergabung dengan teman-teman SMA. Istriku bisa bergabung dengan mereka karena memang sudah mengenal teman-temanku secara akrab.

Tiba-tiba datanglah rombongan calon mempelai laki-laki. Istriku bengong. Aku menyenggol lengannya.
“Nggak usah bengong begitu,”aku mengingatkan.
“Itu kan Pak Dedi, teman kantorku.”
“Aku tahu sudah lama,”jawabku singkat.
“Dia kan masih beristri.”
“Ceritanya nanti saja kalau sudah pulang.”
Setelah acara selesai, kedua mempelai berdiri di dekat pintu gerbang untuk menyalami tamu-tamu yang akan pulang. Pak Dedi kaget begitu bersalaman denganku dan istriku. Pak Dedi kelihatan sekali kikuk.

00000
Pulang dari mengajar, istriku bercerita. Pak Dedi meminta padanya untuk tidak bilang pada siapa-siapa kalau dia menikah lagi secara siri. Biarlah, dalam waktu dekat ini semua masih bisa dirahasiakan.

Aku jadi ingat, dulu istriku sering bercerita. Pak Dedi ini seorang laki-laki tapi banyak omong, banyak menilai orang lain dan tidak bisa menjaga perasaan orang lain. Pak Dedi bilang kalau istriku wajahnya pucat karena tidak berdandan. Aku sih nggak masalah. Karena aku terbiasa dengan kesederhanaan istri.

Aku bahagia, bahkan sangat bahagia berumah tangga dengan istriku. Aku yang jadi suaminya saja bahagia, mengapa orang lain terlalu sibuk berkomentar?

Kalau Pak Dedi menikah lagi dengan temanku yang berstatus janda, berarti dia tidak bahagia dengan istri pertamanya? Sampai-sampai menikahnya saja disembunyikan. Berarti istri pertamanya tidak tahu kalau Pak Dedi menikah lagi? Ah, masa bodoh!