Selasa, 22 Mei 2018

PETANI REBUTAN AIR

Keluarga kecil saya telah 16 tahun menempati rumah di tengah sawah. Pada musim hujan, petani menanam padi,  itu biasa hal. Pada musim kemarau, petani menanam padi, itu pemandangan yang membuat hati dag dig dug.

Bila air masih mencukupi, biasanya petani bisa memanen gabah meskipun dalam jumlah sedikit. Akan tetapi bila air tidak mencukupi, bisa saja tanaman kering kerontang. Pengeluaran petani untuk biaya  menanam hilang dengan sia-sia.  Jangankan tanaman bisa dipanen, mungkin sebelum berbuah tanaman sudah mati.

Kadang-kadang pada musim kemarau, para petani menjadi tidak sabar dan lekas emosi. Hal ini berkaitan dengan pembagian air. 

Sebenarnya, petugas pengairan bagian pembagi air sudah adil membagikan air sesuai jadwalnya. Akan tetapi beberapa petani melakukan kecurangan. Kecurangan mereka adalah dengan cara menyumbat saluran air pada sawah milik yang berhak menerima air. Tujuannya adalah air dialirkan ke sawah mereka.

Ternyata tidak hanya siang hari. Pada malam hari pun, rebutan air dilakukan. Kadang-kadang dalam berebut air ini terjadi pertengkaran hebat dan masing-masing tidak mau mengalah. 

Bagi orang yang sabar, bila merasa dicurangi maka mereka akan mengembalikan pada pemilik jagad raya. Alhamdulillah, selama ini di sekitar rumah saya tidak pernah terjadi percekcokan hebat. Yang jelas, pada saat pembagian air malam hari, para petani dengan setia menunggu sawahnya sepanjang malam sampai pagi hari.

Musim kemarau sekarang ini, sawah di sekitar rumah ditanami padi. Sekarang waktunya tanaman berbuah. Persediaan air masih ada. Semoga pada saat panen, para petani bisa memanen hasil kerja kerasnya selama 3 bulan.

00000