Rabu, 13 Juni 2018

BANJIR TAHU MENJELANG LEBARAN



Judul di atas tidaklah berlebihan dan saya tidak bohong. Hampir setiap tahun, setiap menjelang lebaran, di rumah banjir kiriman tahu dari tetangga. Apakah ini berlaku di rumah tetangga lainnya? Jawabannya adalah belum tentu.

Lebih dari sepuluh tahun terakhir, setiap menjelang lebaran, tetangga-tetangga yang memiliki usaha produksi tahu mengirim tahu putih untuk keluarga saya. itulah bentuk penghormatan mereka kepada Bapak saya (bukan ge-er atau pamer lo).

Bapak adalah orang yang sangat dihormati di sekitar rumah. Pada usia senjanya, 76 tahun, Bapak dianggap sebagai orang yang dituakan. Selain umurnya yang sudah tua, juga karena Bapak terlibat langsung dalam kegiatan sosial. Bapak mengisi pengajian (atau tausyiah), mengajari membaca Alquran untuk Bapak/Ibu tetangga, menjadi Imam ketika berjemaah sholat dan kegiatan sosial lainnya.

Di sekitar rumah Bapak berdiri beberapa pabrik tahu. Dahulu waktu saya masih sekolah, kadang sangat terganggu dengan polusi udara dan suara dari pabrik tahu yang beroperasi tak mengenal waktu. Setelah anak-anak Bapak sudah tidak menempuh pendidikan lagi, polusi-polusi tersebut sudah tidak mempengaruhi kami. (Sebenarnya tetap mempengaruhi, tapi kami sudah bisa menurunkan idealisme kami untuk hidup tenang, nyaman).

Dua hari puasa terakhir atau menjelang lebaran, tetangga-tetangga yang memproduksi tahu datang memberi tahu kepada Bapak/Ibu. Oleh karena bila dikumpulkan jumlahnya banyak, kadang-kadang keluarga saya kesulitan untuk mendistribusikan. Kalau ditaruh di ember bisa mencapai 2 ember besar.

Anak-anak bertugas mendistribusikan tahu-tahu tersebut kepada kerabat-kerabat. Pokoknya harus habis. Sebab kalau tidak segera habis, kami repot untuk menghangatkan tahu agar tidak basi. Bila dimasukkan ke dalam kulkas, juga akan memenuhi kulkas lalu makanan yang lain harus dikeluarkan dari kulkas.

Alhamdulillah, bagaimanapun juga kami sangat bersyukur karena rezeki datang tanpa kita pinta. Nah, mungkin yang menjadi kendala saat-saat lebaran, tahu hanya dilihat sebelah mata. Tentu saja makanan yang lain yang lebih laris untuk diambil.

Kadang-kadang, saya mudik tidak terlalu lama. Saya ingin segera balik ke Karanganyar dengan membawa tahu. Bukan untuk saya konsumsi sendiri, tahu-tahu tersebut pada akhirnya juga akan saya bagikan ke tetangga.

Bagi orang lain mungkin hanya dibilang ah Cuma tahu. Akan tetapi bagi saya dari tahu ini filosofinya luar biasa. Tahu bisa mempererat persaudaraan. Tahu putih kalau sudah digoreng akan disantap sebagai teman ngobrol. Kalau kebetulan keluarga kecil adik saya yang “hobi banget dengan mpek-mpek Palembang” datang, tahu goreng bisa dimakan dengan cuko. Tambah nikmat dan mantap.

Meskipun banyak tetangga yang memberi tahu, tapi Bapak tidak pernah menolak dengan berkata,”maaf, saya sudah memiliki banyak tahu.” Tidak! Bapak tetap menerima pemberian tahu dari tetangga-tetangga. Rasanya, tidak berlebihan kalau saya mengatakan banjir tahu menjelang lebaran.