Kamis, 21 Juni 2018

MBAK FAIQ BUKAN MAS FAIQ


Hari ini, saya menghadiri acara HBH yang diselenggarakan oleh sekolah kami. Sebenarnya, undangan ditujukan untuk Bapak/Ibu guru/karyawan beserta keluarganya. Saya datang sendirian. Kebetulan suami ada tugas di sekolah. Si kecil ikut Ayahnya dan yang besar ada rencana bepergian ke Solo bersama teman karibnya.
Alhamdulillah, ada seorang teman yang baik hati bersedia saya barengi. Sebenarnya ada seorang teman yang menawarkan untuk bareng naik mobilnya.
Singkat cerita, acara HBH dimulai. Saya sangat bersyukur karena semua guru dan karyawan bisa hadir. Dari mereka, ada yang mengajak pasangan dan anaknya, mengajak anaknya saja, mengajak pasangannya atau sendirian seperti saya.
Ada yang berkesan dalam acara ini. Seorang teman mengajak Ibunya anak-anaknya (sebut saja Ummu Faiq). Teman saya, secara agama sudah berpisah. Akan tetapi belum dicatatkan di Pengadilan Negeri Agama.  Teman saya dan Ummu Faiq beda kota tempat tinggalnya. Namun demikian, keduanya bisa berbagi merawat anak-anaknya. Dua anak tinggal di ponpes dekat rumah teman saya, dua lainnya tinggal dekat dengan Ibunya (satu di Ponpes Purbalingga, dan  satu anak lainnya ikut Ibunya).
Sudah lama saya tidak bertemu dengan Ummu Faiq karena beliau sekarang tinggal di Banjarnegara. Ketika saya mengenal Ummu Faiq, beliau belum memakai cadar. Sekarang Ummu Faiq bercadar. Saat bersalam-salaman, saya memeluk Ummu Faiq. Saya berbisik,”masih ingat dengan saya?”
“Ibunya Faiqah ya. Masih ingat kok Bu.”
Saya bukannya sok akrab dengan teman-teman atau pasangannya. Insya Allah, saya tulus ramah dan dekat dengan orang yang menjadi teman saya
00000
Oya, nama anak sulung teman saya sama dengan nama anak sulung saya, yaitu Faiq. Kalau anak saya perempuan, sedang anak teman saya laki-laki. Saya lebih dulu mengajar di SMK daripada teman saya. Suatu saat teman saya bilang,”Bu, teman-teman sering menyebut Faiq Faiq. Kupikir menyebut nama anakku, ternyata yang dimaksud putrinya panjenengan.”
Saya tersenyum. Masih mending menyebutnya hanya Faiq. Ada lo yang menyebut Mas Faiq (karena belum pernah ketemu). Saya membetulkan,”Maaf, bukan Mas Faq tapi Mbak Faiq. Anakku cewek yo!”
Akhirnya, teman saya terkekeh sembari minta maaf.
00000