Selasa, 26 Juni 2018

MENIKAH ITU YANG PENTING SAH (BAGIAN 1)


MENIKAH ITU YANG PENTING SAH

Beberapa bulan sebelum kakak sulung menikah, ada acara lamaran. Keluarga kami sudah menyiapkan barang-barang yang akan dibawa untuk lamaran. Semua barang dibungkus dengan rapi. Kami dari Yogyakarta, calon ipar tinggal di Kabupaten Blora. Kakak saya dan calon istri saling mengenal waktu mengajar di sekolah yang sama (di Blora).
Ketika lamaran, hanya Bapak, Ibu dan anak-anak saja yang datang ke Blora. Kakak saya minta bantuan teman guru yang mengajar di Blora, sebagai sesepuh atau orang yang dituakan untuk mewakili keluarga Bapak (saat melamar). Bapak tidak mengajak tetangga atau saudara ikut ke Blora. Alasan Bapak tidak mengajak tetangga atau saudara adalah tidak mau merepotkan waktu dan tenaga mereka.
Kami dari Yogyakarta menuju Blora naik kendaraan umum (bus). Dari rumah sampai Blora, kami harus 4 kali ganti bus. Alhamdulillah, semua berjalan dengan lancar.
Beberapa bulan kemudian, kakak sulung menikah. Kebetulan akad nikah tidak jatuh pada hari Minggu. Oleh karena pas hari kerja, hanya Bapak, Ibu dan seorang kakak perempuan yang bisa menyaksikan akad nikah. Kerabat dari pihak Ibu yang datang  hanya Pakde Sumiharjo dan istri (dari Surabaya). Mengingat kondisi yang tidak memungkinkan untuk semua bisa hadir pada acara resepsi pernikahan, kakak saya bisa menerima keadaan itu.
Beberapa hari setelah akad nikah, keluarga ipar mengantarkan kakak saya dan istri ke rumah Bapak dan Ibu. Di rumah Bapak dan Ibu tidak ada acara besar-besaran layaknya ngundhuh mantu. Bapak hanya mengundang beberapa orang tetangga dan kerabat dekat.
Keadaan keluarga kami memang sederhana dan biasa. Bapak dan Ibu tidak memaksakan diri untuk mengada-adakan sesuatu yang tidak bisa dijangkau, semampunya saja. Bagi keluarga kami, menikah itu yang penting sah. Bila tidak sama seperti pada umumnya, tidak lantas merasa nanti dibicarakan orang. Namanya hidup bermasyarakat, selalu menjadi bahan pembicaraan, entah itu baik atau tidak baik.