Jumat, 08 Juni 2018

SUDAH WAKTUNYA MELEPASKAN ANAK GADIS

SUDAH WAKTUNYA MELEPASKAN ANAK GADIS

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat membaca status/tulisan di FB, yang intinya anak yang sudah akil baligh harus mandiri secara finansial. Di dalam tulisan itu disebutkan usia kurang lebih15-17 tahun, anak harus sudah memiliki penghasilan dan bisa menghidupi dirinya sendiri. Saya pikir ini benar, benar sekali. 

Ada banyak cara untuk mendapatkan penghasilan. Yang paling familiar adalah dengan berjualan. Berjualan barang atau benda, makanan, minuman atau menjual jasa. Prinsipnya, asal tidak malu, anak bisa memperoleh penghasilan.

Sebagai orang tua, harus memberikan dukungan penuh. Dukungan tersebut bisa berupa modal atau dorongan motivasi/semangat. 

Ternyata anak sulung saya sudah remaja dan waktunya mandiri. Saya selalu mengikuti perkembangannya. Sejak kelas 5 SD, anak gadis saya sudah mau berjualan makanan kecil di sekolah. Dia tidak malu dan alhamdulillah hasilnya bisa untuk menambah uang jajan. 

Waktu SMP dan SMA, saya juga mengarahkan untuk berjualan makanan kecil dengan cara dititipkan ke kantin, tapi anaknya tidak mau. Hanya saja kalau pas market day, hasilnya lumayan. Ketika di SMA ada pensi, anak saya dan teman-teman berjualan makanan dan minuman selama beberapa hari. Kerja sama yang baik ternyata bisa mendapatkan keuntungan yang banyak.

Di akhir kelas XII, anak saya sudah mau kembali untuk berjualan secara online. Tentu saja modalnya dari orang tua. Setelah lulus SMA, saya dan suami mengarahkan untuk hidup mandiri mulai sekarang.  Insya Allah, anaknya akan kuliah di Yogyakarta. Saya bilang jualan online-nya tetap berlanjut. Syukur alhamdulillah kalau nanti bisa membuka usaha di rumah orang tua saya di Yogya selama dia kuliah.

Berapapun hasilnya, anggap saja untuk melatih kemandirian. Masalah untuk hidup sehari-hari, tetap kami yang mencukupi. Paling tidak, dia memiliki penghasilan.

Pulang dari buka puasa bersama teman-teman SD-nya, Dhenok bercerita kalau teman-temannya juga ada yang menyambi bekerja. Ada yang jadi tukang parkir, kerja di bengkel atau berjualan. Mungkin dia merasa ada teman senasib sudah memperoleh penghasilan saat masih sekolah.

00000

Setelah UN yang lalu, anak saya bilang kalau mau ke Yogyakarta naik kereta, sendirian. Awalnya, saya tidak mengizinkan tapi dia bilang kalau Ayah mengizinkan. Ya, akhirnya saya mengizinkan. 

Ketika saya bercerita kepada seorang teman, dia mengatakan,"Bu, anak panjenengan sudah besar. Sudah waktunya dilepas. Jangan khawatir, dia sudah besar. Jangan panjenengan anggap seperti anak kecil."

Saya baru sadar, Dhenok bukan lagi anak yang ke mana-mana harus didampingi orang tua. Saya juga baru sadar, saya bukan lagi seorang Ibu dengan usia 29 tahun seperti ketika melahirkannya.

00000

Semoga sukses di dunia maupun di akhirat.