Selasa, 02 Oktober 2018

HUKUMAN MEMBENTUK KARAKTER SISWA


HUKUMAN MEMBENTUK KARAKTER SISWA
Oleh : Noer Ima Kaltsum

Saya membuka pintu gerbang sekolah hendak pulang. Ketika sepeda motor saya keluarkan ke luar gerbang, berhentilah sebuah sepeda motor di depanku. Astaghfirulloh, saya kaget. Si pengendara tidak turun dari sepeda motornya. Helm masih menutupi kepalanya. Si pengendara hanya membuka kaca helm. Laki-laki tersebut menyapaku,
“Bu Ima masih ingat saya?”
Kening saya berkerut. Jelas saya tidak hafal laki-laki tersebut, bahkan mungkin malah tidak mengenalnya sama sekali.
“Siapa ya? Coba helmnya dilepas. Kalau masih tertutup seperti itu saya tidak ingat,” pinta saya.
“Saya Agus Triyono, Bu. Muridnya Ibu yang dulu dihukum lari bolak-balik dari ujung utara sampai lapangan basket,” kata laki-laki tersebut sambil melepaskan helm dari kepalanya.
Setelah helm dilepas, barulah saya mengenali wajah dan profilnya.
“Oh, ya. Panjenengan (Anda) Agus, yang kepalanya sedikit petak itu. Bu Ima ingat. Dulu panjenengan Ibu hukum karena tidak lengkap memakai atribut sekolah. Ayo Mas Agus, mumpung sudah sampai di sekolah, mampir dulu. Bapak dan Ibu guru yang lain masih berada di kantor lo.”
“Terima kasih, Bu Ima. Saya buru-buru, ada keperluan. Lain kali saja saya silaturahmi ke sekolah. Salam untuk Bapak dan Ibu guru saja.”
“Baiklah nanti saya sampaikan. Hati-hati ya Mas Agus. Bekerjanya yang semangat.”
Setelah sebentar basa-basi, Agus pamit dan pergi meninggalkan saya. Saya cukup menggelengkan kepala. Ingat sekitar tahun 2002-2004. Ketika itu kesepakatan antara saya dan murid-murid, bila melanggar tata-tertib sekolah pada saat saya mengajar hukumannya push up atau lari. Murid-murid konsekuen, bila melanggar tata-tertib mereka sudah menjalankan hukuman sendiri.
Suatu saat saya bertemu lulusan SMK tempat saya mengajar. Saya mengingat-ingat anak tersebut. Lalu anak tersebut mengatakan kalau dulu ketika terlambat/membolos sekolah disuruh push up. Kalau terlambat masuk pagi hari Cuma push up lima kali. Kalau membolos tidak mengikuti pelajaran tanpa keterangan, hukumannya push up dua puluh lima kali.
Lain dulu lain sekarang. Dulu murid-murid taat dan patuh pada guru. Hukuman yang harus dijalani murid karena melanggar aturan sekolah, benar-benar bisa diterapkan dan membuat murid jera.
Bahkan apabila pelanggaran yang dilakukan murid sudah pada taraf yang mengkhawatirkan, biasanya wali murid dipanggil untuk datang ke sekolah. Komunikasi dan kerja sama antara sekolah dan wali murid untuk kepentingan murid sangat diperlukan.
Sekarang jamannya telah berubah. Guru tidak diperkenankan memberi hukuman fisik kepada siswa. Apabila pihak sekolah atau guru memberi hukuman fisik biasanya dikatakan melanggar Hak Asasi Manusia.
Beberapa bulan yang lalu sekolah kami kedatangan Pengawas dari Disdikpora. Waktu itu Bapak Pengawas berkata/berpesan kepada Bapak/Ibu guru agar tangan kami jangan sekali-kali menyentuh siswa. Guru tidak boleh memberi hukuman fisik.
00000
Kemajuan teknologi dimanfaatkan oleh guru untuk memajukan pendidikan anak didiknya. Metode pembelajaran lebih bervariasi, guru dituntut untuk lebih kreatif. Segala usaha dikerahkan untuk murid-muridnya, terutama agar lulus UN.
Saya mengajar sejak tahun 1997. Kala itu murid-murid menghormati guru-gurunya seperti menghormati orang tua mereka sendiri. Murid-murid taat dan patuh terhadap peraturan yang dibuat sekolah.
Sekarang sudah mulai ada pergeseran. Jujur saja, tidak hanya murid-murid tempat saya mengajar melainkan sebagian murid-murid pada umumnya sulit untuk dinasehati. Kadang ada salah paham antara guru dengan siswa, guru dengan wali murid, guru dengan masyarakat.  Guru dan pihak sekolah kadang-kadang bingung menentukan sikap.
Pada tahun 1997-2005, hukuman yang saya berikan untuk murid-murid (hukuman fisik yang tidak memberatkan) bertujuan untuk memberi pelajaran kepada mereka. Kenyataannya mereka merasakan manfaatnya setelah lulus dari SMK dan telah bekerja.
Saya masih berhubungan dengan murid-murid yang sudah lulus. Kalau tidak secara langsung, biasanya lewat dunia maya. Lewat facebook mereka sering bercerita tentang pengalamannya selama sekolah di SMK. Banyak dari mereka yang mengaku bahwa keberhasilan mereka sekarang ini adalah hasil pendidikan yang keras dari sekolah. Keras dalam arti yang luas.
Mereka berterima kasih kepada Bapak/Ibu guru yang telah mendidik dengan baik. Bahkan pernah suatu hari, masih dalam suasana lebaran, beberapa siswa datang ke rumah saya. Mereka mengatakan pendidikan karakter (disiplin, tanggung jawab, kerja sama dan lain-lain) bermanfaat setelah terjun di dunia kerja.