Rabu, 05 Desember 2018

KETEMU MANTAN DI KANTOR PENGADILAN AGAMA

Aku berusaha menguatkan temanku. Kuat, kamu harus kuat. Jangan ada air mata dalam drama ini. Kamu berani mengambil keputusan, berarti kamu sudah menyiapkan mental.

Aku duduk di ruang tunggu. Kulihat muka-muka kusut dan murung memenuhi ruang tunggu. Mungkin keberadaan mereka di sini dengan tujuan yang sama, yaitu mengurus perceraian.

Kantor Pengadilan Agama adalah tempat menakutkan bagiku. Masalah keluarga yang tak lagi bisa diselesaikan dengan kepala dingin, akan berakhir di sini. Seperti halnya Diva, teman dekatku. 

Kubuka buku yang aku bawa dari rumah. Untuk mengisi waktu luang, kusempatkan membaca beberapa lembar halaman. Paling tidak, aku tidak menganggur.

Tiba-tiba aku mendengar suara laki-laki yang tak asing di telingaku. Laki-laki yang pernah meninggalkan luka di hatiku. Ada apa dengan laki-laki itu? Mengapa dia berada di sini? Aku yakin, dia memiliki urusan sendiri. Tidak mungkin dia sedang mencariku karena suatu kepentingan.  

Laki-laki itu memandangku. "Maharani, ada apa kamu di sini?"
"Tidak apa-apa. Kamu sendiri, kenapa berada di sini?"
"Mau sidang. Hari ini adalah pembacaan keputusan."
"Oh!"

Oh, ternyata usia pernikahanmu yang baru seumur jagung, harus berakhir di Pengadilan Agama. Semoga hari ini kamu mendapatkan keputusan yang terbaik. Ternyata menikah bukan sekadar adanya ijab qobul, melainkan banyak yang harus dipertimbangkan.

Terima kasih, dulu kamu telah memberikan luka. Beruntung aku, hubungan kita berakhir di saat pendekatan. Andai telah terjadi pernikahan, pasti aku lebih terluka.