Selasa, 18 Desember 2018

KURIR NGEYEL

Tulisan di bawah ini dimuat di Solopos, Senin, 17 Desember 2018 dengan disunting seperlunya. Terima kasih Solopos.

AH TENANE
KURIR NGEYEL
Oleh: Noer Ima Kaltsum
Tiga orang cucu perempuan Mbah Gembus tinggal di rumah Budenya, depan rumah beliau. Salah satu cucu Mbah Gembus adalah Genduk Nicole. Sejak SMA Genduk sudah jualan album K-Pop secara online.
Dengan demikian, Genduk biasa berinteraksi dengan kurir sebuah ekspedisi barang. Rumah Mbah Gembus dan rumah yang ditempati Genduk berhadap-hadapan. Oleh karena waktu kuliah Genduk dan saudaranya tidak tentu, maka barang kiriman dialamatkan rumah Mbah Gembus.
Suatu sore, seorang kurir bernama Jon Koplo datang. Sambil mengetuk pintu rumah Mbah Gembus, dengan lantang Koplo mengucap, “Permisi, paket!”
Kebetulan Genduk berada di rumah. Genduk menyahut, “Ya, Mas.”
Koplo masih mengetuk pintu rumah Mbah Gembus. Rumah Mbah Gembus tidak ada yang membuka pintu. Genduk bertanya pada Koplo.
“Paket untuk siapa, Mas?”
“Genduk Nicole.”
“Saya Genduk Nicole, Mas.”
“Alamat rumah dalam paket ini no. 75. Rumah njenengan no. 70.”
“Tapi saya Genduk, Mas.”
Genduk lantas menuju rumah kakeknya. Mbah Gembus membuka pintu. Setelah pintu terbuka, Mbah Gembus bilang pada Koplo sambil menunjuk cucunya, “Dia Genduk Nicole, Mas.”
Koplo kelihatan malu sekali karena ngeyel. Dia ngeyel karena takut salah orang. Setelah menyerahkan barang, Koplo pamit lalu pergi.
“Biasanya kan yang menerima kamu tidak ada masalah. Kok yang ini kurirnya ngeyel ta, Nduk?”
“Dia kurir baru, Mbah. Bukan yang biasanya.”
Dalam hati Genduk bilang, “Kurir anyar, ngeyel sisan.”
00000