Sabtu, 29 Desember 2018

RENANG SEBAGAI TERAPI

Renang Sebagai Terapi
Ayah, F1 ,dan F2 sore ini ke kolam renang. Kebetulan Ayah mau ngajak terapi kerabatnya yang kena stroke. Renang di sini bukan berarti melakukan gerakan berat seperti  kegiatan renangnya anak-anak sekolah.Yang penting nyemplung air  kolam, tidak kudu berenang. Biasanya kalau sudah nyemplung kolam, kaki dan tangan akan menyesuaikan melakukan gerakan secara otomatis. 
Informasi yang pernah kami peroleh dari teman Ayah (penderita stroke) adalah renang bisa digunakan sebagai terapi, asal kondisinya baik dan tidak merasa kedinginan (menyesuaikan dengan keadaan tubuh penderita stroke).
F1 waktu SMP pernah diajar Ayah (F1 sekolah SMP tempat Ayah mengajar), termasuk saat pelajaran renang. Saat masih kecil F1 juga terbiasa dilatih renang Ayah minimal seminggu sekali. Demikian juga F2, dia dilatih renang oleh Ayah langsung. F1 dan F2, membujuk saya untuk ikut renang, minimal nyemplung kolam. Tapi saya tidak mau karena memang takut air, lebih-lebih takut kram. Padahal nyemplung air tidak harus renang, yang penting berada dalam air. Pokoke takut! Akhirnya saya ditinggal di rumah sendirian.
Renang merupakan olahraga air. Di samping untuk kepentingan olahraga, renang juga untuk terapi. Seorang teman, suaminya mengalami 'sakit pada sendinya'. Setelah  rutin menjalani renang ternyata sembuh. Sampai sekarang masih berlanjut. Terapi yang biayanya sangat terjangkau. Teman suami yang mengalami stroke, juga mendapatkan manfaat dari renang, terutama dalam mengatur nafas. Setelah rutin berenang, otot-ototnya tidak kaku lagi. Renang membuat tubuh menjadi rileks.
Silakan dicoba. Mungkin beberapa waktu yang akan datang, saya akan mencoba untuk nyemplung kolam renang dulu.