Rabu, 18 September 2019

Royalti, Buku Antologi, dan Kontributor




Ini cerita tentang aku yang penulis pemula. Aku bukan orang terkenal. Aku hanyalah orang biasa yang sedang belajar nulis. Ikut komunitas menulis diminta buat contoh tulisan, ya legawa saja ketika ternyata tulisanku balak belur dibantai oleh kurator. (Hiperbola: Ben ketok menderita banget sebagai anggota baru pada suatu komunitas ora iso nggaya blas dan ora iso kemayu. Nggak bisa pencitraan, karena memang tulisanku pancen layak dicoret sana sini).


Karya fenomenal  aku tak punya, tulisan yang mejeng di media baru satu dua, arep nggaya paling malah dibully.


Nah, kesempatan baik ditawari menjadi kontributor sebuah buku antologi. Tapi ya nggak begitu saja diterima tulisannya. Ikut seleksi. Taraaa, tulisan sa"uprit" bisa ikut mejeng dalam sebuah buku. Sujud syukur, shalatnya lebih khusuk, kembali merapal dan melangitkan doa yang lain.


Teretetetttt.
Setiap kontributor wajib promo buku, wajib beli buku meski hanya satu eksemplar, karena buku tersebut dicetak secara indie. Kamu pasti tahu, bukan? Bila buku diterbitkan secara indie berarti kelahiran buku tersebut dibiayai sendiri. Dalam hal ini mestinya para contributor mengumpulkan modal dengan cara patungan. Ternyata para penulis di sini tidak dipungut biaya karena sudah ada yang “memberi pinjaman” untuk mencetak buku antologi. Karena aku sudah ngerti pengertian dicetak penerbit mayor atau indie, ya sebagai penulis kudu semangat promosi.


Cetarrrr. Meski indie, ternyata penjualannya baik. Sebagai penulis, dapat potongan harga kalau beli bukunya. Dengan membeli beberapa buku lalu dijual kembali, penulis sudah mendapatkan untung. Atau bisa saja penulis gencar mencari pembeli dengan sistem Pre Order. Beberapa bulan kemudian ada berita, para kontributor diminta untuk mengumpulkan nomor rekening karena ada sejumlah royalti yang akan dibagikan. Aku sujud syukur lagi. Alhamdulillah, tidak sia-sia punya buku rekening. Akhirnya dapat menikmati transferan royalty. Keren, bukan? Jadi penulis itu memang yang diharapkan adalah honor, royalty, dan buku laku keras di lapangan.


Aku tidak melihat berapa jumlahnya. Pokoknya bahagia banget dapat royalti. Bayangkan saja, nulis hanya sedikit, lalu jadi buku, dapat royalti pula. Bandingkan bila nulisku banyak, ditawarkan ke penerbit mayor ternyata ditolak. Mau nerbitkan secara indie tapi nggak punya modal. Tetap saja sebagai kontributor aku bersyukur banget karena merasa sangat beruntung.


Jadi, kalau ada penulis yang ikut jadi kontributor buku, dapat royalti kok nggak bersyukur rasanya pingin nantang. La wong mungkin tulisanmu itu membuat Penanggung Jawab pusing kepala, dengan revisi lebih dari 50 persen. Lantas keuntungan hasil penjualan buku dibagi buat seluruh kontributor, kok kamu mengeluh. Bayangkan, seandainya kamu diminta untuk patungan, lalu bukunya tidak laris manis seperti kacang goreng. Jangankan untung, balik modal saja Alhamdulillah. Seandainya tidak balik modal, bisa nangis berjemaah!


Kukasih tahu ya, bersyukurlah. Rezekimu bakal lancar. Royaltimu adalah rezeki halal, jadi berkah banget hidupmu.


Kalau kamu pingin royalti gede, ya nulis buku dewe sing apik ben lolos Penerbit mayor. Tinggal ongkang-ongkang royalti lancar.


Kenapa aku selalu bersyukur dengan honor dan royalti yang kuterima? Karena itu halal, berkah dan melancarkan rezeki dari pintu-pintu yang lain.


#catatanimapenulis
#berbagiinspirasi


Buku antologi di atas dicetak secara Indie dengan penjualan yang lumayan baik. Sekarang sedang dibuka PO kedua.

Kamis, 12 September 2019

Seni Berbenah Rumah Ala Marie Kondo (Konmari Method)


7 langkah beberes rumah ala Marie Kondo atau Konmari Method
1. Satukan sesuai ukuran
2. Simpan barang berdasar barang yang paling sering dipakai
3. Semua akan terlihat sangat berantakan sebelum terlihat rapi
4. Kumpulkan semua barang yang kalian punya
5. Simpan barang dalam wadah
6. Melipat pakaian ala Marie Kondo
7. Pastikan barang yang kalian simpan benar-benar disukai dan digunakan

Prinsip utama Konmari Method
1. Kuatkan tekad untuk merapikan, jadikan kesempurnaan sebagai target
2. Luangkan waktu khusus untuk berbenah
3. Rapikan sekaligus, jangan sedikit-sedikit
4. Pilihlah berdasarkan kategori bukan lokasi
5. Rajin menyimpan benda sama dengan menimbun
6. Gunakan metode yang sama agar cocok dengan kepribadian
7. Memulai berbenah berarti membuka lembaran hidup baru

Kamis, 05 September 2019

Orang Lumpuh Tetap Dapat Melaksanakan Ibadah Haji



Judul Buku              : Orang Lumpuh Naik Haji
Penulis                      : Mulyanto Utomo
Penerbit                     : PT Smart Media Prima
Cetakan                     : 2019
Tebal                          : xix + 184
ISBN                           : 978-602-51864-2-4
Buku ini berisi kisah seorang difabel dengan keterbatasan fisiknya tetap dapat melaksanakan ibadah haji. Bila seorang difabel saja bisa melaksanakan ibadah haji, maka bagi orang yang sehat jasmani dan rohani, fisiknya masih kuat dan normal, harus optimis.

Puisi Tak Harus Puitis


Beberapa waktu yang lalu, aku mengikuti workshop yang diselenggarakan oleh Kamar Kata. Salah satu narasumbernya adalah mas Yuditeha. Kebetulan mas Yuditeha memberikan materi tentang tulisan non fiksi.

Nah, waktu beliau menyampaikan penulisan puisi, aku dibuat bengong. Kenapa? Apakah karena aku terpana melihat beliau? Bukan! Mas Yuditeha menyampaikan membuat puisi tidak harus menggunakan kata-kata puitis bahkan terlalu puitis. Kata-kata lempeng aja nggak apa-apa. Beliau memberikan contoh.

Kenapa tidak kudu kata-kata puitis? Karena tidak semua orang bisa menggunakan kata-kata puitis, memilih diksi, dan lain-lain. Dah tulis saja, sambil belajar.

Banyak orang yang memiliki potensi menulis cerpen dan puisi tapi tidak mau memulai karena mereka merasa tidak bisa merangkai kata-kata puitis.

Yuk, menulis puisi. Bebas saja. Nulisnya lempeng juga nggak papa. Kalau sudah selesai nulis, endapkan 1 x 24 jam. Besok dibaca lagi. Ada yang janggal nggak. Ada yang aneh nggak. Kalau ada, ya tinggal direvisi.

#berbagiinspirasi
#catatanimapenulis