Jumat, 14 Februari 2020

Pengalaman Pertama Membuat Paspor Haji



Khusus calon jemaah haji, pembuatan paspor sangat mudah. Saya dan calon jemaah haji lainnya hanya membawa beberapa dokumen asli untuk keperluan pengecekan saja ke kantor Imigrasi. Mengapa demikian? Sebab semua persyaratan pembuatan paspor telah kami kumpulkan jauh hari. Semua persyaratan dikumpulkan secara kolektif di KBIH, lalu pihak KBIH menyerahkannya ke kantor Kemenag. Di kantor Kemenag persyaratan yang kami kumpulkan benar-benar dicocokkan dengan data yang telah masuk. Bila ada kekurangan, maka calon jemaah haji tidak perlu mondar-mandir ke kantor imigrasi. Kekurangan tersebut cukup diselesaikan di Kantor Kemenag Kabupaten Karanganyar.

Saya dan calon jemaah haji dari Kecamatan Kerjo dan Kecamatan Karanganyar datang ke Kantor Imigrasi sesuai jadwal yang telah ditentukan. Kebetulan calon jemaah haji dari Kecamatan Kerjo mendapatkan antrean lebih awal. Setelah calon jemaah haji dari Kecamatan Kerjo telah diambil foto dan sidik jarinya, giliran kami selanjutnya.

Proses pembuatan paspor tidak sampai 10 menit. Oleh karena biaya pembuatan paspor sudah dibayarkan secara kolektif, maka setelah foto kami bisa langsung pulang. Memang khusus calon jemaah haji, waktu untuk membuat paspor juga khusus, yaitu setelah selesai jam kantor alias setelah jam tiga sore baru bisa dilayani.

Alhamdulillah, saya dan calon jemaah haji dari KBIH yang sama tidak mengalami kesulitan. Semua sudah beres dan semua dokumen untuk persyaratan sudah komplit. Namun demikian, bagi calon jemaah haji yang masih ada kekurangan dokumen, petugas dari Kantor Kemenag siap untuk membantu menyelesaikannya. Calon jemaah haji tidak perlu panik dan khawatir. Semua bisa diselesaikan dengan baik asal mau mengikuti prosedur.

Oya, dokumen yang saya dan suami kumpulkan adalah fotokopi KTP, Kartu Keluarga, dan fotokopi surat nikah. Untuk paspor, nama yang ditulis minimal 3 kata, misalnya namaku Noer Ima Kaltsum. Kebetulan nama suami terdiri atas satu kata, maka ditambah nama ayahnya. Masih kurang satu kata, maka ditambah nama kakeknya. Untuk penambahan nama kakek harus disertai surat keterangan yang dikeluarkan oleh lurah setempat dan disahkan oleh camat setempat. Mudah, bukan? Ya, karena kami, para calon jemaah haji mendapatkan perlakuan yang sangat istimewa.

Sebetulnya hari itu paspor langsung dicetak, tapi paspor diserahkan kelak saat kami sudah masuk di Asrama Haji Donohudan sebelum terbang ke tanah suci.

Selasa, 28 Januari 2020

Cek Kesehatan Kedua Calon Jemaah Haji Kabupaten Karanganyar




Rabu, 22 Januari 2020 akan dilakukan pemeriksaan kadar gula dalam darah puasa dan tidak puasa. Pemeriksaan ini untuk kepentingan calon jemaah haji Kabupaten yang akan berangkat ke Tanah Suci tahun ini. Jam 23.00 dianjurkan untuk makan (apa pun, yang penting makan). Sebab bila terlalu lama berpuasa, kadar gula dalam darah yang diperiksa hasilnya kurang baik.


Malam sebelumnya aku sudah mencoba untuk makan terakhir dengan nasi putih dan telur asin. Alhamdulillah, masih kuat untuk puasa. Ini baru latihan, riilnya masih keesokan harinya. Mengapa harus pakai latihan? Karena kebiasaanku kalau pagi minum air putih hangat lalu sarapan buah. Mengko ndak lali alias lupa!
Kuikuti tahapan demi tahapan semua persiapan menuju menjadi lebih sehat.

Tanggal 2 Oktober 2019 yang lalu, waktu cek kesehatan pertama untuk calon jemaah haji, aku dibuat kaget dengan berat badanku yang menembus angka 59. Pantas saja badan terasa berat. Jalan kaki di terminal dan berlari mengejar Bus Mira atau Sumber Selamat agak kesulitan. Mudah terengah-engah.

Kuputuskan untuk mengurangi berat badan dengan mengurangi porsi makan. Aku memilih pagi hari sarapan buah. Siang makan biasa, nasi, sayur, dan lauk. Nasinya cukup 5 sendok makan saja. Sore hari makan sayur dan protein.

Camilan cukup buah dipotong-potong. Yang murah meriah, aku memilih pisang dan pepaya. Sesekali semangka, melon, apel, buah pir, dan buah pemberian orang-orang.

Seminggu turun 1 kg. 2 minggu turun 2 kg. Setelah turun 4 kg, dan berat badan 55 kg, aku hanya mengatur pola makan saja. Maklumlah, kalau di bawah 50 kg, nanti aku dibilang kurang gizi dan banyak cacingnya.

Tanggal 22 Januari 2020, cek kesehatan kedua. Berat badanku 55 kg. Tensi 120/80. Alhamdulillah, jalan kaki bisa gesit lagi. Dhengkul alias lutut tak sakit lagi, tidur bisa nyaman. Tanpa minum obat, saat sakit kepala tinggal minum dan makan buah yang banyak.

Banyak cara dilakukan untuk menuju sehat. Makan secara teratur dan gizi seimbang, minum air putih secukupnya, kurangi gula, tepung, gorengan, susu, dan olahraga cukup, sudah bisa menyehatkan badan.

Masih ada 5 bulan untuk memperbaiki semuanya. Semoga Allah memberikan kemudahan dan kesehatan padaku dan suami.

Jam 23.00 mulai puasa dan diakhiri jam 09.00 keesokan harinya dengan pengambilan darah. Pengambilan darah (saat puasa) sukses. Petugas medis memberikan pengarahan. Setelah pengambilan darah ini, boleh makan tanpa jeda lalu puasa lagi selama 2 jam.

I : bolehkah makan soto sampai kenyang dan minum teh manis, mbak?
PM : boleh asal tanpa jeda.
I : kirain 2 jam boleh makan terus menerus pakai jeda.

Keluar dari ruang pengambilan darah, suami telah mengambil buah segar yang kupotong-potong dan teh manis. Buah pir dan pisang siap kami santap. Tiba-tiba beberapa orang mengingatkanku.

"Bu. Sebaiknya minum air putih dan makan snack yang telah kita terima saja. Biar nanti hasil cek darah setelah puasa baik."

Aku dan suami diam. Buah pir dan pisang telah kami santap. Air putih telah kami minum segelas. Lalu sedikit kudapan kami makan.

Orang-orang melihat kami keheranan. Mungkin mereka membatin, kami pasangan ngeyel saat disarankan makan snack.

Ya, aku dan suami biasa pagi hari minum air putih lalu makan buah. Namun demikian bukan berarti kami meninggalkan makanan lainnya. Tetap makan seperti kebanyakan orang, tapi waktunya sudah diatur sedemikian rupa.

Sarapan buah bagi kami sudah biasa, tapi bagi orang lain mungkin dinilai aneh. Aku tidak suka berbantah-bantahan. Ya, tetap menghargai pendapat orang lain dengan caraku.

Dua jam kemudian, jadwal pengambilan darah lagi. Namun saudara-saudara, kali ini petugas medis kesulitan mencari "jalur pengambilan darah" lengan kiriku. Hampir 10 menit, sang petugas gagal memperoleh sekian cc darah. Jarum yang terlanjur ditusukkan tidak pas sasaran. Petugas gembrobyos. Lalu dipanggillah petugas yang lebih senior. Meski sedikit lama, akhirnya berhasil juga proses pengambilan darah.

"Maaf, ya mbak. Kami kesulitan mengambil darah."
"Ndakpapa."

Setelah selesai cek kesehatan waktunya makan siang. Berdua makan pecel serasa orang lain di sekitar kami ngontrak. Hahaha.

Minggu, 19 Januari 2020

Menulis Resensi, Nulis Dapat Duit



Kegemaranku menulis diikuti dengan gemar membaca. Buku, majalah, koran, dan media sosial bisa kujadikan bahan bacaan. Namun, dari bacaan tersebut aku harus menyaring terlebih dahulu. Tidak semua bahan bacaan dan berita kuterima mentah-mentah.
Di antara bacaan tersebut, aku memerlukan waktu yang lama untuk menyelesaikan aktivitas membaca buku. Membaca buku bisa aku cicil. Bila bukunya menarik dan aku membutuhkannya, secepatnya kuselesaikan membaca. Bila buku yang kubaca kurang menarik, aku harus menyelesaikannya dalam jangka waktu lama.
Agar buku yang telah kubaca bisa diingat lebih lama, biasanya aku membuat ringkasannya. Saat ini aku suka membuat ringkasan buku. Isi bukunya hanya diringkas saja. Ternyata meringkas buku lalu memberikan penilaian pada buku tersebut, bisa menghasilkan uang. Ah, benarkah itu? Benar. Bagaimana cara menghasilkan uang dari membaca buku dan membuat ringkasannya?
Ada 3 macam aktivitas setelah membaca, yakni membuat ringkasan, meresensi, dan meriview buku. Aku memilih meresensi buku setelah membaca. Beberapa kali mengirim naskah resensi buku, belum ada yang dimuat, membuatku penasaran. Seperti biasanya, aku ingin menaklukkan sesuatu yang baru bagiku. Kupelajari lagi materi tentang meresensi buku. Kubaca buku yang akan diresensi berulang-ulang, agar yang kutulis benar-benar mewakili isi buku tersebut.
Ternyata syarat dan ketentuan meresensi buku agar bisa lolos di media antara media satu yang lain berbeda. Setelah memahami syarat dan ketentuan, aku kembali mengirimkan naskah resensi.
Senang rasanya, akhirnya tulisanku dimuat di koran Solopos. Aku meresensi buku berjudul AKU DISLEKSIA yang ditulis Diba Tesi Zalziyati. Buku AKU DISLEKSIA diterbitkan oleh Penerbit ANDI, Yogyakarta.
Ada tiga tulisan resensi buku yang dimuat di Solopos. Tulisan kedua adalah resensi buku antologi Ngeblog Seru Ala Ibu-ibu, diterbitkan oleh Penerbit Najmubooks. Tulisan ketiga adalah resensi Buku Orang Lumpuh Naik Haji diterbitkan PT. Smart Media Prima (dimuat hari Minggu, 19 Januari 2020). Pada akhirnya aku berpikir bahwa bila akan berhasil, aku tak boleh menyerah begitu saja saat belum berhasil.


Selasa, 07 Januari 2020

Buku Antologi Mendekap Rindu Baitullah




Tunjangan profesional periode tahun 2011 milik saya dan suami telah cair. Saldo tabungan hanya cukup untuk mendaftarkan satu orang ke Depag sebagai calon jemaah haji. Saya ikhlaskan dana yang ada untuk suami mendaftarkan diri ke Depag. Namun, suami bilang, “Aku akan berangkat ke tanah suci bersamamu.”
“Uang kita tidak cukup. Ayah mendaftar dahulu, kalau ada rezeki lagi nanti aku menyusul.”
“Kita cari pinjaman dulu agar dapat mendaftar dan berangkat bersama-sama.”
“Nanti pemberangkatannya mundur lagi. Daftar tunggunya lebih lama lagi.”
“Mami, aku sudah berkomitmen akan menunaikan ibadah haji bersamamu, bagaimanapun caranya. Selama ini, di sini kita sudah melakukan semuanya bersama-sama. Mencari nafkah, membangun rumah, membesarkan anak-anak, berbakti pada orang tua, suka dan duka kita lewati bersama."
(cuplikan buku Mendekap Rindu Baitullah)

Sabtu, 04 Januari 2020

Buku Mendekap Rindu Baitullah


Buku ini berkisah tentang kerinduan seseorang bisa ke tanah suci untuk umrah atau berhaji merupakan kisah inspiratif. Ternyata setelah menuliskan cerpennya, penulis benar-benar dapat berangkat ke tanah suci untuk melaksanakan ibadah umrah.

Di dalam buku ini ada tulisanku dan penulis lainnya:
list nama untuk di cover buku 
1. Fuatuttaqwiyah el-Adiba
2. Hisyam
3. Noer Ima Kaltsum
4. Marlia
5. Amrina Syahidah
6. Risa Mardyana
7. BintuZen
8. Dian Kinanthi
9. Steffi Budi Fauziah
10. Aina al Mardliyah
11. Dyah Nyenk
12. Dede Sumiati
13. Yunita Soekandar
14 Hamni
15. Fitri Ye
16. Rachma Saleh
17. Anna R Nawaning S
18. Mutik Atun Nasikhah
19. Tien Izza Madinah
20. Umbara Al Mafaaza
21. Lusia Eksi
22. 'Alimah Tina

Buku Mendekap Rindu Baitullah bisa dipesan, dengan harga 65.000 + ongkir. Pengiriman dari Cirebon.
Penasaran dengan cerita mereka?

Kamis, 02 Januari 2020

Buku Menjadi Remaja Tangguh di Era Milenium



BUKU
Judul: Menjadi Remaja Tangguh di Era Milenium
Penulis: Nurul Chomaria
Cetakan Pertama: Januari 2019
Penerbit: Penerbit Metagraf
Tebal: viii + 168 halaman
ISBN: 978-623-7013-75-4

Buku Menjadi Remaja Tangguh di Era Milenium ini aku dapatkan dari seorang teman penulis yang bukunya sudah puluhan. Sebagai orang tua yang telah memiliki anak remaja, aku merasa perlu belajar banyak hal. Pengalaman pribadi dan orang lain merupakan pelajaran yang sangat berharga bagiku.

Membaca buku ini, rasanya seperti duduk bersama anak gadisku lalu ngobrol seperti biasanya. Remaja dengan segala permasalahannya dibahas dalam buku ini. Permasalahan anak remaja tidak melulu soal cinta dan patah hati, melainkan ada  masalah dengan orang tua ketika menginjak remaja kesulitan belajar, perubahan fisik, kesehatan, mentalnya, kesulitan beradaptasi dengan lingkungan, teman sejawat, masalah dengan dunia barunya, dan lain-lain.

Anak-anak remaja jangan dibiarkan berjalan sendirian, memecahkan masalah, dan melakukan apapun sendirian. Sebagai orang tua *wajib* mendampingi anak-anak remajanya agar mereka tetap merasa nyaman dan tidak sendirian. Lebih membahagiakan mereka bila permasalahan yang dihadapi dapat diselesaikan dengan baik.

Buku ini cocok sebagai bahan bacaan untuk remaja, orang tua, dan guru. Kalau kamu ingin memiliki buku ini, bisa langsung pesan pada penulisnya. Semoga bermanfaat.
*Aku sangat terharu, buku ini diberikan padaku secara gratis. Terima kasih mbak Nurul

Rabu, 01 Januari 2020

Resolusi 2020 Diet Untuk Kesehatan



Bagi teman-teman yang memiliki keinginan untuk menurunkan berat badan, yuk action sekarang dan jangan lagi menunda-nunda.

Tetapkan targetnya untuk mencapai berat ideal. Misalnya targetnya seminggu minimal turun 1 kg. Baiklah, setelah itu pilihlah salah satu diet yang ada. Ada DSA, OCD, DEBM, GM, dan lain-lain. Bila ingin diet, aku sarankan kamu jangan mengkonsumsi obat pelangsing, peluruh lemak, dan sejenisnya. Selain mengkonsumsi makanan dengan *tertib* tentu saja diimbangi olahraga teratur.

Berjanjilah untuk sungguh-sungguh menjalani diet. Kalau kamu ingin menjaga konsistensi berdiet, bergabunglah dalam suatu komunitas untuk mendapatkan dukungan.

Kalau mau menurunkan berat badan tapi takut menjalani diet, sebaiknya ubah pola makan. Kurangi porsi makan, minum air putih yang cukup, sayur dan buah jangan ditinggalkan, dan tenangkan pikiranmu. Tidak usah galau dan kemrungsung. Nikmatilah proses menurunnya berat badan. Tidak perlu menimbang berat badan tiap pagi hari. Bisa-bisa stres bila tahu BB belum turun sesuai keinginan. Yuk, lakukan sekarang!

#catatanimapenulis
#akusudahlangsing
#resolusi2020