Kamis, 30 April 2020

Mengapa Perempuan Harus Berdagang?



Mengapa Perempuan Harus Berdagang?

noerimakaltsum.com. Perempuan harus bisa berdagang. Jualan apa saja yang penting ada niat. Kamu juga bisa berjualan barang yang sama dengan orang lain. Tidak ada larangan menjiplak dagangan orang lain. Sebab rezeki sudah ada yang mengatur. Kalau perlu bekerja sama dengan teman-teman yang memiliki barang dagangan yang sama. Percayalah, rezeki nggak bakalan tertukar kok. Kalau memang sudah menjadi rezekimu, pasti daganganmu bakalan laku. Jualannya mulai sekarang ya, jangan ditunda! Kalau nggak laku, gimana? Ya nggak gimana-gimana. Sabar, telaten, tekun, dan pantang menyerah! Anak perempuanku juga mau berjualan lo, nggak pake malu.

Aku punya pengalaman jualan buku. Tentu saja banyak teman yang menjual buku yang sama, soalnya buku yang kami jual adalah buku antologi yang kami tulis rame-rame. Sebagai penulis buku yang diterbitkan secara indie, tentu saja aku kudu giat promosi.  Demikian pula teman-teman juga harus berpromosi. Saingan dong? Ya bersaing dan bekerja sama. Namun, tak semua teman bisa berbisnis atau menjual bukunya. Ya, alasannya macam-macam deh.

Kenapa perempuan kudu berdagang? Ada 2 cerita tentang cerita berjualan. Semoga bisa menginspirasi.

Karena Ibuku Berdagang
Ibu berdagang di pasar secara kecil-kecilan. Keuntungannya cukup untuk memenuhi biaya hidup sehari-hari. Bapak bekerja sebagai tukang kayu (serabutan) dan mendapatkan upah harian. Bila tidak bekerja berarti tidak ada pemasukan. Dahulu, kehidupan keluarga kami bisa dibilang cukup.

Namun, mulai tahun 1988 dan seterusnya, usaha ibu mengalami bangkrut. Ibu tidak bisa bertahan berjualan di pasar. Sejak saat itu kehidupan kami bisa dibilang berada di titik nol. Ibu tetap berjualan meski hasilnya tak seberapa. Bapak bekerja bila ada orang yang membutuhkan jasanya. Orang lain melihat ekonomi keluarga kami kelihatan baik-baik saja. Padahal buat makan, bayar listrik, dan bayar sekolah jelas kesulitan, bahkan barang-barang berharga mulai dijual. Beruntung, kakakku yang nomor 2 sudah bekerja. Kakakku membiayai sekolah adik-adiknya.

Ternyata sekarang baru aku tahu, dulu setiap orang yang melakukan perniagaan, bisa dipandang sebagai orang dalam kategori cukup. Entah itu keuntungannya sedikit atau banyak, minimal bisa untuk membeli beras dan lauk seadanya, tetap dikatakan cukup. Meskipun untuk sehari-hari kadang harus berutang, ibu dan bapak tetap berusaha untuk membayar zakat fitrah 8 x 2,5 kg beras di akhir Ramadan.

Berdagang adalah pekerjaan ibu yang dilakukan sejak masih muda. Sepertinya ibu tidak bisa lepas dari pekerjaan ini. Suatu hari ibu berjualan tahu dan tempe, tapi tidak laku. Jualan tahu dan tempe hanya beberapa hari saja. Lalu jualan jajanan di sekolah dan di rumah.  Pada akhirnya ibu menjual barang dagangan sesuai pesanan secara kredit. Saat itu anak-anak tidak lagi membutuhkan biaya sekolah. Dari berjualan berdasarkan pesanan inilah, ibu bisa menabung emas. Alhamdulillah, ibu naik haji dengan biaya sebagian dari tabungan emas dan sebagian uang kakakku.

Karena ibu berdagang, jadi saat berada pada titik terendah pun orang luar tidak tahu kalau kami pernah makan seadanya dengan tidak kenyang.

Jualan Buku Ngeblog Seru Ala Ibu-ibu
Buku Antologi Ngeblog Seru Ala Ibu-ibu yang ditulis rame-rame alias keroyokan ini ternyata laku keras dan masih banyak yang belum kebagian. Sayangnya setok di rumah habis. Padahal kemarin aku sudah rela menyetok dalam jumlah tertentu dengan perasaan optimis. Nggak banyak sih, karena menyesuaikan kantong.

Namanya juga modal sedikit, jadi nyetoknya juga nggak banyak biar uangnya bisa muter-muter. Ternyata di rumah setok habis, dan setok teman-teman juga sama. Habis! Senang rasanya bila bukunya masih dicari pembaca. Oleh karena buku tersebut diterbitkan secara indie, kami juga mencetak berdasarkan pesanan saja.

Aku hanya bisa berkhayal dan bermimpi naskah buku Ngeblog Seru Ala Ibu-ibu ini direvisi atau dipoles sedikit lalu ditawarkan ke penerbit mayor. Mimpi ya, cuma mimpi. Siapa tahu mak dor jadi kenyataan, laku keras di pasaran dan penjualannya baik.

Namun, ada tetapinya juga lo. Buku Indie diterbitkan dengan biaya sendiri dan semua penulis seharusnya aktif berpromosi agar bukunya yang terjual banyak. Ternyata oh ternyata tidak setiap penulis bisa berbisnis. Entah karena kurang pede, merasa tidak berbakat, atau bingung mau dijual pada siapa.

Menurut "penerawanganku", buku ini sangat "menjual" dan banyak dibutuhkan orang terutama para bloger. Sebab buku ini bukan sekadar buku ngeblog biasa. Penulisnya memang tidak asal-asalan menulis karena di Grup Ibu-ibu Doyan Nulis ini tulisannya harus benar-benar cetar.

Bermimpi di pagi hari, saat berpuasa dalam keadaan lapar, dilangitkan doa-doa, siapa tahu bisa menjadi kenyataan.

Nah, kalau kamu pingin mulai berdagang, silakan pelajari dulu dan lihat pasar, barang dagangan apa yang sekarang laku. Apalagi saat ada pandemi ini, perempuan harus tetap bergerak/melakukan aksi. Kalau aku lihat, kampung-kampung yang tidak ditutup jalannya, para pedagang masih bisa menjajakan dagangan lo. Entah itu sayur, krupuk, daging ayam, susu segar, dan masih banyak lagi. Ada juga yang mengais rezeki dengan menawarkan dagangan di grup WA selama bulan Ramadan.


Jumat, 17 April 2020

43 Paket Sedekah Untuk Mengingat Usia 43 Tahun




noerimakaltsum.com. Tertampar Keras Oleh Sedekahnya Orang Kesempitan


2,5% infaq dan sedekahnya orang yang memiliki kekayaan 100 juta hanya senilai 2,5 juta. Namun bila orang yang dalam kesempitan di saat terdampak korona dengan penghasilan terjun bebas, bisa membuat 43 paket senilai @33.000, lebih dari 25% penghasilannya dikeluarkan, betul-betul menampar mukaku. Malu aku bila selama ini tak bersyukur. Hari ini aku tertampar keras, bahkan sangat keras oleh orang yang dalam kesempitan namun bisa mengeluarkan sedekah dalam jumlah fantastis.



Dari nominalnya, jelas besar sekali. Lebih dari satu juta dari penghasilannya dibelanjakan di jalan Allah. Sungguh perniagaan yang tak mungkin merugi. Seorang ASN, sebut saja Aura, dengan 4 orang anak  memerlukan cukup banyak biaya. Usaha laundry yang dikelola sang suami mengalami penurunan omset yang cukup signifikan. Stay at home, work from home, learn from home, membuat pelanggan laundry menghentikan jasanya untuk sementara waktu. Para pelanggan memilik mencuci dan menyeterika sendiri di rumah.

Pada saat pandemik korona ini, jelas semua berubah secara drastis. Pemasukan dari usaha laundry hanya cukup untuk biaya operasional, membayar karyawan, dan sisanya untuk biaya hidup yang kian berat.  Namun demikian, untuk mensyukuri nikmat  waktu dan kesehatan yang diberikan oleh Allah, tepat di hari ulang tahun ke-43, Aura membagikan 43 paket sembako. Dari 43 paket itu diberikan pada orang yang betul-betul tak mampu dan memerlukan. Ternyata 43 paket tersebut belum mencukupi bila menuruti jumlah orang yang harus disantuni.


Rasanya belum pernah aku melakukan seperti yang dia lakukan. Kalau pernah berbagi, itu jumlahnya tak seberapa. Paling banyak 5 - 10 paket. Hari ini aku mendapatkan pelajaran yang sangat berharga, terutama buat keluargaku. Ketika aku bertanya, “Mengapa di saat kesempitan keuangan, pendapatan menurun, tagihan SPP anak-anak harus segera dilunasi, kamu justeru bersedekah dalam jumlah banyak?”
“Aku terinspirasi seseorang yang tak pernah tanggung-tanggung dalam bersedekah.  Orang tersebut di saat lapang dan sempit tetap bersedekah dan berbagi. Toh dia tidak jatuh miskin. Aku ingin seperti orang tersebut.”


Nikmat mana lagi yang kamu dustakan? Aku hanya bisa bersyukur pada Allah atas rezeki yang telah diberikannya secara cuma-cuma pada keluargaku. Bukan sekadar ucapan syukur di lisan, tapi harus dilakukan dengan perbuatan. Cara bersyukurnya bagaimana? Aku mulai tak perlu menghitung dengan kalkulator manusia. Aku ingin mengeluarkan sedekah sebanyak-banyaknya. Lalu membagikan pada sebanyak-banyak orang meski tiap orang mendapatkan sedikit bagian saja.


Hari berikutnya, bulan berikutnya, atau tahun berikutnya semoga dapat melakukan hal yang sama. Ada perasaan lega bila dapat mengeluarkan sedekah sebanyak-banyak untuk sebanyak-banyak orang. Saatnya belajar ikhlas untuk berbagi.


#catatanimapenulis
#30harinulisxnoerimakaltsum

Foto: dokumen Nur Aufi Syatta


Kamis, 09 April 2020

Bila Aku Menerbitkan Buku, Siapa Pembelinya?





noerimakaltsum.com. Optimis dan yakin, bukuku pasti ada yang membeli. Entah itu sedikit atau banyak. Tentu saja ada syaratnya, yaitu bukunya memang layak untuk dibaca. Nah, bagaimana agar buku kita layak untuk dibaca? Kita wajib memantaskan tulisan!


Untuk menembus penerbit mayor, tidaklah mudah. Bila tulisan kita kalah bersaing dengan tulisan orang lain, masih ada jalan untuk menerbitkan buku. Terbitkan buku secara indie saja. Berapapun jumlah buku bisa kita pesan, tidak harus jumlahnya banyak.


Menerbitkan buku secara indie berarti kita mengeluarkan biaya sendiri untuk mencetak buku. Agar bisa balik modal, buku harus laku. Lalu siapa pembeli buku kita? Bisa jadi teman, saudara, tetangga, temannya teman dan masih banyak lagi.


Jangan malu untuk promosi. Buku kita harus diperjuangkan, lo. Susah payah kita menulis, keluar biaya banyak, kalau buku laku, tentu perasaan kita puas. Jangan bosan untuk promosi.


Semoga buku yang kita tulis berjodoh dan laku di pasaran. Amin.


#catatanimapenulis
#30harinulisxnoerimakaltsum

Selasa, 07 April 2020

Daftar Nama Siswa SD Keputran VIII Yogyakarta Lulus Tahun 1984


Berikut ini siswa-siswa SD Keputran VIII Yogyakarta:

A. Siswa yang telah bergabung di grup whatsapp
1. Noer Ima Kaltsum
2. Nugroho Budi Santosa
3. Nur Wahidah
4. Sri Rustini
5. Susi Ratna Pertiwi
6. Ali Eko Atmojo
7. Muhamad Yahya
8. Joko Tri Haryanto
9. Tanti Sudanardi
10. Eko Rizky Kurniawan
11. Sapto Frimantoro
12. Wisnu Wijayanto
13. Agung Sumarno
14. Surono
15. Bambang Purnomo
16. Setiawan
17. Akhdian Rahayuningsih
18. Bagus Haryanto
19. Rahadi Saptata Abra
20. Okti Herawati
21. Ananto Subaryanto

B. Siswa yang belum bergabung di grup
1. Rina Sugiarti
2. Muh. Kusumawan Herliansyah
3. Agus Setiadi
4. Ari wahyuni
5. Cida Kristiana
6. Titik Wijanarti
7. Suji Yuniati
8. Herlina Tari Setyowati
9. Novi Antara
10. Eko
11. Heriyanto Setiawan
12. Christiati widjanarsasi
13. Bayu
14. Bagus utomo
15. Iswan Chandra (?)
16. Kusmujanto
17. Agus Purwanto

C. Siswa yang telah berpulang
1. FX Heri Kristanto
2. Kristiono Budi Prabowo
3. Padma
4. Momok

Setelah lulus SD, baru sekali diadakan reuni yaitu sekitar tahun 1987/1988. Kini lulusan tahun 1984 sebagian sudah bisa saling tukar informasi dan bersilaturahmi. Semoga niat baik untuk berkumpul setelah 30 tahunan berpisah bisa terwujud. Tulisan ini dibuat dengan harapan bisa mengumpulkan kembali teman-teman seangkatan.

Bagi para pembaca yang merupakan alumni SD Keputran VIII tahun 1984. Silakan tinggalkan jejak. Terima kasih.

#30harinulisxnoerimakaltsum

Senin, 06 April 2020

Kacang Hijau Dibawa Saat Menunaikan Ibadah Haji




noerimakaltsum.com. Untuk tahun 2020 rencananya para jemaah haji Indonesia akan mendapatkan fasilitas makan sebanyak 50 kali di Makkah. Dengan demikian jemaah haji tidak perlu membawa bahan makanan mentah karena sehari-hari makannya sudah terjamin. Namun demikian, bila jemaah haji menginginkan membawa lauk kering dan bahan makanan mentah dari tanah air juga tidak masalah.

Kadang-kadang lidah kita ingin merasakan kembali masakan Indonesia.  Bahan makanan yang sering dibawa oleh jemaah haji Indonesia adalah sambal pecel. Sambal pecel adalah makanan praktis. Bila kita mau mengkonsumsi nasi pecel, maka tinggal seduh sambal pecelnya dengan air panas.

Nah, biasanya sayuran yang disiram sambal pecel adalah bayam, kacang panjang, daun kacang tholo atau mbayung, dan tauge. Lupakan bayam, kacang panjang, dan mbayung bila kesulitan mendapatkannya. Namun, tauge bisa kita buat sendiri. Cara membuatnya sederhana dan mudah.

Ambil kacang hijau secukupnya. Siapkan wadah plastik yang sudah dilubangi. Setelah kacang hijau dicuci bersih, lalu masukkan ke dalam plastik. Plastik ditaruh dalam gayung/mangkuk lalu ditutupi dengan plastik gelap. Siram tiap hari dengan air secukupnya. Setelah 2 x 24 jam, tauge kacang hijau siap dipanen.

Bila akan dikonsumsi dengan sambal pecel, tauge cukup direndam air panas sebentar. Ternyata menyediakan tauge sendiri tidak rumit. Untuk itu bahan makanan mentah  yang akan dibawa saat menunaikan ibadah haji, kacang hijau jangan sampai ketinggalan. Karena kacang hijau ini bisa mengobati rindu masakan tanah air.

#catatanimapenulis
#30harinulisxnoerimakaltsum

Minggu, 05 April 2020

Surat Istitha'ah dari Dinas Kesehatan


noerimakaltsum.com. Calon jemaah haji menjalani cek kesehatan 2 kali. Selain cek kesehatan, calon jemaah haji juga menjalani uji kebugaran 2 kali. Hasil cek kesehatan dan uji kebugaran digunakan untuk menentukan bahwa calon jemaah haji layak berangkat atau tidak untuk melaksanakan ibadah haji.

Dinas Kesehatan akan mengeluarkan Surat Istitha'ah yang akan digunakan sebagai syarat pelunasan BPIH. Alhamdulillah, calon jemaah haji Kecamatan Karanganyar dinyatakan sehat dan layak berangkat ke tanah suci untuk melaksanakan ibadah haji.

Saat Surat istitha'ah dikeluarkan,  keadaan dan situasi di Karanganyar sedang tidak normal. Melalui puskesmas yang ditunjuk dokter tidak dapat membagikan Surat Istitha'ah secara bersamaan kepada calon jemaah haji. Sebagai solusi, ketua rombongan mengambil Surat Istitha'ah anggotanya. Kemudian ketua rombongan membagikan Surat Istitha'ah kepada ketua regu sejumlah anggotanya. 

Ketua regu membagikan ke anggotanya. Namun, bisa fleksibel tahap pembagian Surat Istitha'ah ini. Anggota regu satu bisa mengambilkan anggota regu lain yang alamat rumahnya berdekatan. Ternyata cukup efektif dan tidak menimbulkan kerumunan pembagian sekitar 130-an Surat Istitha'ah ini.

Bagi calon jemaah haji yang telah mendapatkan Surat Istitha'ah dapat melakukan pelunasan BPIH ke bank yang ditunjuk. Selembar Surat Istitha'ah ini sangat berarti bagi calon jemaah haji. Sebab, tanpa Surat Istitha'ah, calon jemaah haji tidak dapat melakukan pelunasan BPIH.

#catatanimapenulis
#30harinulisxnoerimakaltsum

Sabtu, 04 April 2020

Pembayaran Pelunasan BPIH Harus Melalui Bank Syariah



noerimakaltsum.com. Setelah didebet untuk pembayaran Ongkos Naik Haji pada tanggal 6 Januari 2012, saldo tabungan haji di BRI (konvensional) tinggal seratus ribu rupiah saja. Saldo tersebut tidak bertambah karena aku tidak melakukan setor tunai. Selama lebih dari 7 tahun, angga seratus ribu rupiah tidak berubah. Akhir bulan September 2019, aku mengisi lagi tabungan haji milikku dan suami. Masing-masing tabungan kuisi lima juta rupiah. Prosesnya tidak lama. Petugas bank menyarankan agar aku membuka tabungan haji syariah. Sebab untuk pelunasan BPIH harus melalui Bank Syariah.

Pada akhir bulan Desember 2019, aku dan suami membuka rekening tabungan haji BRI syariah. Bulan Februari 2020, diantar anak gadis, aku kembali menambah tabungan masing-masing lima juta rupiah. Bulan Maret 2020, tabungan haji BRI (konvensional) aku pindahkan ke tabungan haji BRI Syariah. Syukur Alhamdulillah, saldo tabungan kami sekitar sepuluh juta seratus lima puluhan ribu.

Para calon jemaah haji tahun 2020 harus sabar menunggu keputusan pemerintah berkaitan dengan ongkos naik haji tahun 2020. Selain itu di Kabupaten Karanganyar, berita acara Surat Istithaah masih menunggu dikeluarkan oleh Dinkes kabupaten. Untuk tahun 2020 ini, calon jemaah haji memang harus sabar. Sabar menanti berita apakah penyelenggaraan ibadah haji tahun ini tetap diadakan atau dibatalkan. Keputusan tersebut dibuat oleh pemerintah Arab Saudi.

Kemenag dan pengurus KBIH Zam-zam memotivasi semua calon jemaah haji tahun 2020. Meskipun belum ada kepastian pemberangkatan, jemaah calon haji tetap menjaga kesehatan dan persiapan fisik, mental, dan spiritual. Kegiatan manasik dihentikan karena sekarang ada peraturan agar menghindari kerumunan dan berkumpul. Aku dan suami secara mandiri tetap mempelajari rangkaian kegiatan manasik haji dan umrah. Aku sendiri setiap hari berjalan kaki sekitar 30 menit untuk memperkuat kesehatan jantung dan menyeimbangkan tekanan darah.

Surat Istithaah keluar dan biaya ONH sudah diumumkan.  Dengan mengucap Bismillahirrahmannirrahim, aku dan suami melakukan pembayaran pelunasan BPIH di Bank BRI Syariah tanggal 26 Maret 2020. Di bank kami bertemu beberapa teman yang bergabung pada KBIH yang sama. Rasanya lega sekali. Teman-teman yang telah melakukan pembayaran tersenyum sumringah begitu mendapatkan souvenir dari bank. Souvenir tersebut berupa kain batik dan kain ihram untuk calon haji laki-laki. Calon haji perempuan mendapatkan kain batik dan mukena.

Mataku basah, kuucap syukur Alhamdulillah. Ya Allah, mudahkan kami melaksanakan ibadah haji tahun ini. Kalimat talbiyah terus kulantunkan dalam perjalanan pulang menuju rumah. Labaikallahumma labaik. Masya Allah, benar-benar merinding.

Biaya BPIH sebesar Rp. 35.972.602,00. Allah cukupkan rezeki kami untuk melunasi BPIH.

#30harinulisxnoerimakaltsum

Jumat, 03 April 2020

Jangan Beri Anak Tugas Sekolah Banyak-banyak



noerimakaltsum.com. Guru dan orang tua adalah mitra. Guru dan orang tua bekerja sama dalam mendidik anak-anak. Di sekolah anak-anak dididik oleh guru. Saat di rumah, kewajiban orang tua mendidik anak-anaknya.

Guru sudah memiliki pengetahuan yang cukup sebagai modal atau #alatperang untuk mengajar dalam kurun waktu tertentu. Bahkan, keterampilannya mengajar sudah dipelajari dan dipraktikkan sejak kuliah di FKIP. Paling tidak saat melakukan Praktik Pengalaman Lapangan, seorang mahasiswa sudah harus siap di kemudian hari untuk mengajar.

Berbeda dengan orang tua yang belum memiliki pengalaman mengajar. Bahkan, saat ini ilmu yang dipelajari puluhan tahun yang silam mungkin sudah dilupakan atau tidak lagi diingat. Dengan demikian, jelaslah bila orang tua kadang hanya memiliki pengetahuan terbatas dan tidak semua orang tua bisa "menyampaikan materi" seperti halnya guru.

Barangkali orang tuanya pintar, tapi menyampaikan ke anak mbulet muter-muter sampai orang tua dan anak pusing sama-sama pusing dan bingung. Karena apa? Karena tidak semua orang tua memiliki keterampilan mengajar. La wong guru saya kelas 1 SMA dulu juga sangat pintar, tetapi beliau menyampaikan materi mbulet dengan kalimat tidak efektif diulang-ulang. Hasilnya bagaimana? Yang kami ingat-ingat adalah kalimat yang diulang-ulang, bukan inti materi pelajaran. Lalu materi pelajarannya bagaimana? Ora dong blas alias sama sekali tidak paham. Sebagian besar dari teman-teman tidak paham.


Selanjutnya, masalah waktu. Sebagian orang tua kemungkinan baik di rumah maupun masih bekerja di luar rumah, sama-sama bekerja. Bila work at home karena memang pekerjaan kantor "terpaksa dikerjakan di rumah" itu artinya hanya memiliki waktu terbatas untuk mendampingi anak-anaknya.


Seorang kerabat memiliki 4 anak yang masih sekolah. Keempat anak ini tingkat pendidikannya berbeda. Diterapkan learn at home karena keadaan memaksa demikian. Anak-anak diberi PR banyak semua. Orang tua ikut mumet karena selama ini belum pernah menerapkan homeschooling. Kadang tugas yang diberikan oleh guru tidak ada di buku pelajaran. Parahnya tugas ini sifatnya berbatas waktu.  Jadi, tugasnya dikumpulkan hari itu juga lewat email, whatsapp, dan lain-lain.


Memang benar adanya kewajiban orang tua adalah mendampingi anak-anak saat learn at home. Namun, orang tua tetap berbeda dengan guru. Gurunya ‘kan mengajar materi yang itu-itu saja alias nglothok di luar kepala.


Pada awal diputuskan learn at home bukan berarti anak diberi tugas setumpuk agar tidak hanya bermain. Coba, ditinjau kembali sebenarnya 14 hari anak di rumah itu tujuannya bukan semata-mata untuk belajar dan mengerjakan tugas sekolah di rumah, melainkan untuk memutus penyebaran COVID-19 (sepertinya begitu)


Banyak orang tua yang mengeluh karena beban pekerjaan di rumah semakin bertambah dan berpotensi menyumbang stress dan penyakit darah tinggi. Orang tua berdoa semoga Covid-19 segera lenyap dari bumi Indonesia. Anak-anak akan kembali ke sekolah. Orang tua akan kembali bekerja di luar rumah, baik kantor, pasar, rumah sakit atau di luar rumah. Anak-anak kembali belajar dengan tenang.

Demikian pendapat saya. Apa pendapatmu? Kita tidak harus sama. Kita boleh beda pendapat karena perbedaan menunjukkan keberagaman.


#tinggaldirumahaja
#catatanimapenulis


Kamis, 02 April 2020

30 Hari Menulis Tanpa Henti



Bukan karena bosan menulis dan tidak ada waktu menulis tetapi aku mempersiapkan tulisan lain yang akan kujadikan sebuah buku. Namun, untuk memberikan semangat pada seorang murid, aku ikut menulis menjawab tantangan 30 hari menulis tanpa henti.

Seorang murid yang sudah lulus beberapa tahun yang silam, kini sedang stay at home. Dia sedang menjalani kuliah jarak jauh karena keadaan sedang tidak memungkinkan untuk kuliah secara offline. Sebab itulah, agar waktunya tidak banyak luang, dia menyibukkan diri dengan belajar menulis.

Sebenarnya belajar menulis itu yang penting kemauan, niat, dan aksi. Selanjutnya, belajar menulis bukan sekadar keinginan sesaat lalu ingin segalanya cepat mendapatkan hasil. Tantangan 30 hari menulis ini bisa untuk menilai bahwa serius belajar atau tidak. Sebab, biasanya orang akan bersemangat di awal-awal dan merasa bosan di tengah jalan.

Oleh karena sedang belajar menulis, maka aku tidak memberikan tema pada tantangan ini. Biarlah muridku mencari tema sendiri, lalu menulis sebisanya. Aku akan memberikan koreksi sebatas penulisan tanda baca dan huruf kapital terlebih dahulu. Namanya juga belajar, jadi koreksiannya tidak perlu banyak-banyak. Tujuannya adalah agar dia tidak mundur secara teratur. Seiring berjalannya waktu, muridku akan tahu bagaimana menulis sesuai permintaan pasar. Menulis tidak lagi sembarang menulis. Bisa menulis karena terbiasa.

Agar disiplin menulis, aku memberikan batasan waktu untuk menulis di facebook setiap hari paling lambat pukul 22.00 WIB. Mengapa demikian? Alasannya adalah agar dia segera menyelesaikan tulisannya. Bagaimana bila ide menulisnya mentok? Ada buku, koran, berita dari media sosial sebagai bahan bacaan dan bahan untuk ditulis.

Apakah belajar menulis  ini berbayar? Tidak! Gratis saja. berbagi ilmu tidak ada ruginya. Namun, bila ada yang ingin mendapatkan materi belajar menulis yang lebih, bisa bisik-bisik ya. Kalau ada yang ingin lebih serius belajar menulis, aku juga menyediakan buku khusus untuk penulis pemula.

Yuk, menulis sekarang juga. 30 hari berturut-turut menulis akan ringan bila kamu serius dalam belajar menulis.

#30harinulisxnoerimakaltsum


Rabu, 01 April 2020

MERDEKA BELAJAR SELAMA LEARN FROM HOME


Selama belajar di rumah, anak-anak sekolah siap belajar secara online duduk manis mengikuti pelajaran sambil ngemil (kalau disediakan camilan). Sayangnya ketika orang tua mendampingi anak yang "katanya belajar jarak jauh" saat membuka classroom ternyata tidak ada materi pelajaran sama sekali. Orang tua hanya mendapatkan tugas berupa soal-soal yang harus dikerjakan putra-putrinya dan dikumpulkan secara online.


Bagi orang tua tugas untuk anak itu hanya sepele, kecil, seujung kuku kelingking, sekali kedip mata selesai dikerjakan. Tentu saja hal itu berbeda bagi anak-anak, apalagi selama 17 hari di rumah. Anak mulai bosan meskipun tetap terpaksa harus menyelesaikan tugas. Betul kata pak gubernur Jawa Tengah, "KLENGER." Klenger di sini bukan karena tugasnya banyak tapi anak-anak sudah bosan dan merasa jenuh.

Konon katanya sekarang anak-anak sekolah harus merdeka belajar. Merdeka belajar itu sebaiknya anak-anak bebas mempelajari apa yang dia suka. Yang suka bercocok tanam ya silakan disuruh tandur menandur menanam sayuran dalam pot atau wadah plastik bekas. Saat masuk sekolah, hasilnya besok dibawa. Yang suka beternak silakan ternaknya besok dibawa ke sekolah (kambing, sapi, kuda). Byuh... fleksibel saja, mungkin yang dibawa lele, ikan-ikan kecil, anak ayam, dan lain-lain. Anak-anak yang suka memasak, hasil karyanya dibawa ke sekolah. Misalnya stik rasa keju, kembang gula, dan lain-lain. Anak-anak yang suka ketrampilan bisa membawa boneka dari flannel atau hasil karya ketrampilannya. Kalau seperti ini baru namanya merdeka belajar. Untuk melengkapi dokumen dan mengembangkan budaya literasi, anak-anak bisa diminta menulis pengalamannya selama merdeka belajar di rumah.



Kalau bisa sebagian kegiatan yang dilakukan di rumah diambil gambarnya sebagai bukti untuk meyakinkan kalau anak-anak benar-benar melakukannya. Tidak semua anak mempunyai kemampuan yang sama di bidang akademik. Misalnya ada tugas yang sama untuk mata pelajaran tertentu, sebaiknya porsinya sedikit saja. Merdeka belajar di rumah bagi orang tua justeru untuk mengetahui minat dan bakat anak-anaknya. Bukan anak belajar di rumah, orang tua tambah stress. Jadi, learn from home benar-benar membuat anak-anak nyaman dan tetap bahagia.


#catatanimapenulis