Minggu, 03 April 2022

Amalan Yang Dipamerkan



Di dalam keluarga besar kami, anak-anak bapak dan ibu biasa memamerkan suatu amalan sebatas di rumah. Tujuannya adalah untuk memotivasi saudara yang lain. Sekecil dan seremeh apa pun amalan yang dilakukan biasanya ditunjukkan. Meskipun terkesan riya’ tetapi ada manfaatnya.

 

Saudara  akan memberikan masukan bila ada saudara lain yang melakukan sesuatu yang dirasa kurang pas. Misalnya dalam bersedekah diusahakan tepat sasaran, sedekah ramai-ramai atau sedekah rombongan yang nanti diatasnamakan orang tua. Namun, biasanya kakak saya nomor kedua yang mengeluarkan sedekah atas nama ibu dan bapak.

 

Pamer amal kebaikan juga diterapkan di rumah. Misalnya, saya bilang sedekah pada seseorang, memberikan kerudung baru dipakai sekali, memberikan sekaleng beras, dan lain-lain. Hal kecil ini diikuti anak-anak. Anak-anak sudah tahu tentang amalan yang dipamerkan sebatas di dalam keluarga, hikmah yang didapat, dan semangat untuk beramal lebih banyak lagi.

 

Saya dan suami memberikan teladan. Sedekah tidak mengharapkan ganti atau dilipatgandakan. Sedekah itu ikhlas. Kalau Allah kemudian memberi ganti yang lebih baik dan lebih banyak, itu hak Allah.

 

F1 anak pertama saya sudah memiliki penghasilan sendiri dari jualan online. F1 tidak pernah menghitung-hitung berapa labanya. Namun, F1 yakin kalau keuntungannya cukup untuk membelikan neneknya berupa paket nasi dan ayam goreng. Biasanya setelah membelikan neneknya makanan, F1 banjir orderan. Uangnya melimpah, keuntungan banyak, dunia dapat, akhirat juga dapat.

 

Baru-baru ini F1 bercerita mendonasikan uangnya “hanya” 10.000 rupiah. Beberapa jam kemudian banjir orderan. F1 bercerita sambil tertawa bahagia sampai terharu (meneteskan air mata). “Allah mengganti secara kontan, Ma.”

 

F2 anak kedua berbisnis kecil-kecilan, yakni jual beli ikan channa dan memiliki sepuluh kambing. F2 juga tidak mau kalah dari kakaknya. F2 juga tidak menghitung-hitung sedekah yang dikeluarkan. Dia percaya kalau yang dikeluarkan akan mendapatkan ganti. Kalau tidak diganti dengan materi, Allah mengganti dengan kesehatan.

 

Selain mengeluarkan sedekah, saya dan suami selalu memberi contoh cara bersyukur atas nikmat yang Allah berikan pada keluarga. Di dalam keluarga kecil kami dan keluarga besar, bersyukur adalah gaya hidup. Beramal rutin meski bentuknya kecil juga menjadi gaya hidup. Alhamdulillah, Allah memberikan kemudahan bagi kami dalam menjemput rezeki.

Jadi, memamerkan amal di dalam keluarga bisa memotivasi agar tidak berhenti berbuat baik dan bersyukur.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar