Sabtu, 04 Februari 2023

Marie Kondo Saja Bisa Menyerah

Beres-beres ala Marie Kondo atau Konmari rupanya sangat menginspirasi banyak orang. Banyak orang yang berbondong-bondong membeli buku, mengikuti kelas, dan meniru hal lain yang berbau Konmari. Meniru hal yang baik memang tidak keliru. Namun, jangan sampai  apa yang kita lakukan sekarang hanya latah semata.

Kalau kita punya niat melakukan sesuatu yang baik, maka niatkan karena Allah dan ibadah. Lakukan secara kontinyu sedikit demi sedikit atau setahap demi setahap. Jangan sampai melakukan hal baru hanya menggebu-gebu di awal lalu bosan.

Kalau melihat foto, video, atau membaca tulisan tentang metode konmari, biasanya pengaruh positifnya langsung terasa. Ibaratnya seperti kesetrum. Setelah praktik, biasanya kita mengajak atau mempengaruhi orang lain untuk melakulan hal yang sama. Sebab, kita merasa apa yang kita lakukan adalah terbaik dan orang lain wajib mengikutinya.

Namun, tunggu dulu. Orang lain tidak sama dengan kita, ya. Cara berpikir, bekerja  mengelola waktu, dan mengelola stres, jelas tidak sama. Beban pekerjaan rumah tidak sama. Kebiasaan anggota keluarga juga berbeda. Anak-anak pun jauh sekali perbedaannya. Jadi, please jangan memaksa mereka untuk sama dengan kita.

Kadang kita keliru membuat kesimpulan. Misal, jangan jadikan anak sebagai alasan rumah nggak apa kalau nggak rapi. Jangan mager. Jangan biarkan dapur dan kamar mandi kotor. Jangan biarkan baju kotor menumpuk. Kosongkan keranjang baju kotor. Cicillah menyeterika ketika anak tidur.

Helo, setiap orang berhak untuk bahagia. Ukuran kebahagiaan seseorang tentu tidak sama dengan kita.

Baiklah, Kondo selalu merapikan isi rumah dengan caranya. Rumah selalu rapi, bersih, dan nyaman untuk ditinggali. Namun, tahukah Anda? Sekarang Kondo tidak seidealis ketika masih lajang. Dia juga berada pada posisi "capai". Kondo yang kini memiliki 3 orang anak, tidak lagi seidealis dahulu. Kini, Kondo memilih memperhatikan ketiga anaknya dan tak ambil pusing dengan rumahnya yang berantakan.

Yakinlah, kita terutama perempuan memiliki keterbatasan fisik dan tenaga. Energi kita digunakan untuk melakukan banyak hal. Tentu saja kita tetap melakukan kegiatan merapikan rumah. Lebih senang lagi bila pasangan membantu, anak-anak turut andil, dan ada asisten. 

Prinsipnya, bila mau rumah kita terlihat lega, rapi, dan tidak berantakan maka kurangi barang yang tak perlu, sediakan wadah dan rak, lalu bersihkan rumah secara kontinyu.

Ratu beberes bisa "bosan" beres-beres. Kita tidak boleh bosan, ya.

00000

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar