Minggu, 13 Juli 2014

Hutanku di Sekolahku

HUTANKU DI SEKOLAHKU

Ada yang menarik dari berita di media cetak bahwa Badan Lingkungan Hidup mendorong semua sekolah menjadi sekolah Adiwiyata. Selanjutnya sekolah beramai-ramai dan berbondong-bondong  untuk melaksanakan program Adiwiyata. Harapannya adalah agar sekolah mendapatkan penghargaan Adiwiyata.
Menurut hemat penulis program Adiwiyata bagus. Selain berprestasi di bidang akademik dan berkarakter diharapkan siswa memiliki wawasan lingkungan.  Halaman sekolah, kebun dan di sudut-sudut sekolah bernuansa hijau dan nyaman.
Banyak hal yang dapat dilakukan untuk membuat sekolah kita hijau, sejuk dan nyaman. Kita tidak perlu mengeluarkan biaya yang besar untuk mewujudkan semua itu. Hijau, sejuk dan nyaman identik dengan tanaman dan tumbuhan. Kita tidak memerlukan tanaman yang harus dibeli dengan merogoh uang banyak.
Semua anggota keluarga sekolah, dari Kepala Sekolah, guru, karyawan dan siswa, bersama-sama mewujudkan program penghijauan. Tumbuhan yang sudah ada kita rawat, tumbuhan yang perlu kita adakan kita usahakan dengan mempertimbangkan nilai ekonomi. Misalnya, bagi sekolah yang sudah ada tumbuhan menahun (pohon buah-buahan), rawat dan pelihara dengan baik. Pohon yang sudah kita miliki sudah memberikan sumbangan udara bersih atau oksigen.
Sebagian besar halaman sekolah sudah diperkeras lantainya. Untuk menambah koleksi tanaman, agar sekolah benar-benar kelihatan hijau, sejuk dan berseri, kita bisa menggunakan pot dari drum (tabulampot) sebagai tempat menanam tumbuhan. Satu contoh tumbuhan yang bernilai ekonomi adalah pohon pepaya (bisa pohon yang lain dan jumlahnya banyak). Disamping buahnya, kita dapat memanfaatkan daunnya untuk sayuran. 
Apabila penataan dan perawatan tanaman buah dalam pot ini rapi, serasi, memadai dan mempertimbangkan nilai estetika, bukan hanya lingkungan hijau yang kita dapatkan tapi bernilai ekonomi. Biasanya di teritisan (depan kelas) ada tempat kosong. Dengan menggunakan barang-barang bekas (contoh gelas plastik dari air mineral yang sama) dapat ditanami sayuran berumur pendek. Contoh: sawi hijau, bayam cabut, daun seledri, daun bawang/loncang dan kangkung darat. Memang ini bukan hal yang baru, tetapi bisa kita laksanakan program penghijauan dengan mempertimbangkan nilai ekonomi.
Selain halaman sekolah dan teritisan, kita bisa melaksanakan program penghijauan di kebun (kalau ada). Yaitu menanam sayuran umur pendek (lagi-lagi sayuran bernilai ekonomi). Misalnya kacang panjang, mentimun atau pare (masing-masing tanaman memerlukan turus/lanjaran). Tanaman-tanaman ini bisa ditanam di pot, plastik polybag, plastik kresek. Selain sayuran berumur pendek, kita juga bisa menanam tanaman obat (kunyit, kencur, jahe) sebagai apotik hidup.
Penulis menyampaikan hal ini (penghijauan yang bernilai ekonomi) karena tahu ada sebagian sekolah yang mengusahakan penghijauan dengan biaya yang banyak untuk membeli tanaman. Sebenarnya kita bisa menekan biaya untuk mewujudkan sekolah berwawasan lingkungan, asal kita pandai-pandai mengelolanya.
Akan lebih baik program penghijauan bukan hanya untuk meraih penghargaan Adiwiyata. Sekolah berwawasan lingkungan harus berkelanjutan, sekarang dan seterusnya. Agar biaya dapat ditekan maka kita menggunakan prinsip memanfaatkan yang ada, dan mengusahakan yang belum ada dengan mempertimbangkan nilai ekonomi. Dengan demikian sekolah kita benar-benar hijau, sejuk, dan berseri. Seperti kita menghadirkan hutan di sekolah kita. (SELESAI)
Karanganyar, 8 Maret 2014