Jumat, 26 Mei 2017

Presentasi Sarana Belajar Penuh Percaya Diri

Beberapa hari terakhir, saya dan teman-teman guru mendapatkan tugas untuk presentasi dan promosi ke SMP/MTs baik negeri maupun swasta di wilayah Karanganyar dan sekitarnya. Bagi saya, presentasi ini adalah tugas lapangan yang menyenangkan. Di sini, saya diberi tantangan yang tidak ringan. Alhamdulillah, saya bisa melaksanakan tugas dengan baik.
Pada dasarnya, saya ini demam panggung alias grogi bila berhadapan dengan orang banyak. Seiring berjalannya waktu, saya bisa mengatasi semua dengan sukses. Ada yang membuat saya suka melaksanakan tugas presentasi, yaitu saya bisa belajar percaya diri.
Kalau pasangan (patner) saya membawa laptop dan LCD, biasanya dalam perjalanan menuju sekolah yang akan dipresentasi, kami mengadakan perjanjian. Ada 2 alternatif, yang pertama saya membuka presentasi dengan memperkenalkan diri dan memberi gambaran secara umum SMK Tunas Muda Karanganyar sedangkan teman saya menyiapkan laptop dan LCD dan menghidupkannya. Atau pilihan yang kedua, saya menyiapkan laptop dan LCD, menghubungkan kabel-kabel dan menyambung kabel ke sumber arus sedangkan teman saya membuka presentasi dengan perkenalan.
Setelah itu, saya akan membagikan brosur. Dalam presentasi ini, bila kami membawa media yang cukup, selalu ada perhatian dari anak-anak SMP/MTs. Biasanya anak-anak suka kalau diperlihatkan video hasil karya siswa multimedia yang telah menempuh ujian praktek.
Anak-anak sangat suka dan tertarik dengan video yang dibuat oleh Mas Paryono dengan pemain Mas Kastolani. Untuk video tanpa komunikasi, anak-anak suka dengan pemeran Mas Yongki.
Dengan media yang kami bawa dan materi yang kami sampaikan, harapan kami, anak-anak banyak yang tertarik bergabung di SMK Tunas Muda. SMK Tunas Muda Karangnayar terletak di Jl. Dr. Rajiman, Ngijo, Kecamatan Tasikmadu (tepatnya sebelah barat Rumah Sakit Umum Daerah yang dikenal dengan Kartini, atau RS Jengglong). Sekolah kami membuka 3 jurusan, yaitu Teknik Pemesinan, Teknik Kendaraan Ringan dan Multimedia.
Keuntungan menimba ilmu di SMK Tunas Muda di antaranya adalah bagi anak yang mengikuti ektrakurikuler Jurnalistik akan diajari menulis untuk dikirim ke media massa.
Nah, guru yang membimbing Ekskul Jurnalistik ini sudah tidak asing dengan dunia tulis menulis. Pingin tahu siapa pembimbingnya? Ayo, bergabunglah ke SMK Tunas Muda Karanganyar.
Demikianlah cara saya menarik simpati anak-anak SMP/MTs. Oleh karena saya setiap hari bergelut dengan dunia tulis-menulis, maka saya juga harus bisa menyampaikan isi tulisan saya. Tidak gampang bicara di depan umum, tapi setidaknya bisa dipelajari.
Beruntung, saya sering berinteraksi dengan teman-teman di sekolah. Dengan banyak interaksi, kosa kata saya juga bervariasi. Kalau ditanya tentang sesuatu, setidaknya saya bisa menjawab dengan tidak sekedar sok tahu.
00000                                 

Karanganyar, 26 Mei 2017

Minggu, 21 Mei 2017

Sudah Sakit Alergi Obat Pula, Capek Deh.....


Setelah melahirkan anak pertama, tiba-tiba saya menjadi alergi antibiotik Pinicilin (dan sejenisnya, seingat saya Amoxicylin dan Amphycylin). Padahal dulu-dulunya tidak. Kalau sudah minum Pinicilin, belum juga obat sampai di lambung atau masih di kerongkongan; badan mulai gatal-gatal. Parahnya daun telinga dan hidung membesar, panas dan gatal. Lebih-lebih pernafasanku terganggu. Benar-benar payah.

Sekarang saya setiap periksa ke dokter selalu bilang di depan, maaf saya alergi pinicilin. Ya, beruntung saya tidak pernah lupa dengan peringatan alergi ini. Suatu saat saya sakit lagi, kepala dan perut saya sakit. Waktu itu saya meluncur ke Puskesmas terdekat. Maklumlah terasa sakit pagi hari, kira-kira dokter yang buka praktek di rumah sudah tutup dan harus dinas di rumah sakit atau puskesmas.

Sekali lagi, saya bilang ke perawatnya kalau saya alergi pinicilin. Tidak lama kemudian saya pulang setelah mendapatkan obat. Sampai di rumah saya segera meminum obat. Tiba-tiba telinga dan hidung saya terasa gatal, panas, dan membesar. Ini adalah tanda-tanda saya alergi obat. Saya tidak berlama-lama memikirkan ada apa denganku. Langsung kembali ke Puskesmas. Lewat komputer, obat saya dicek satu persatu. Ternyata tambah lagi, astaghfirulloh, saya alergi Antalgin.

Sampai di rumah saya merenung, ya Allah... andai saya kau uji dengan sakit, tunjukkan obatnya sekalian ya Allah. Kalau semua obat tidak bisa saya konsumsi karena saya alergi obat, lantas bagaimana saya bisa sembuh?

Suatu hari saya sakit, dan periksa ke dokter. Saya hanya ingat kalau alergi Pinicilin, saya lupa mengatakan kalau juga alergi Antalgin. Bisa ditebak badan saya gatal-gatal setelah mengkonsumsi obat. Saya kembali ke dokter tadi. Benar, dalam resepnya dokter menuliskan Antalgin. Untung dokternya baik hati, beliau tidak marah hanya mengingatkan. Lain kali bilang alergi obat apa gitu ya mbak. Soalnya bisa berakibat fatal.

Benar, setelah saya membaca dari berbagai sumber-sumber bacaan, akibat alergi yang paling fatal prosesnya, pasien shock, jalan pernafasan tertutup, pingsan lalu meninggal dunia. SEREM....

Saya enggak mau sakit. Soalnya kalau sakit saja obatnya sulit banget. Saya juga tidak dapat mengkonsumsi obat yang dijual di pasaran secara bebas. Kepala pusing saja, paling-paling minum teh kenthel, panas dan manis. Kalau gak sembuh juga baru minum paracetamol.

Alhamdulillah, Allah memang tahu kesulitan hambanya. Sekarang saya diberi sehat terus dan tidak gampang sakit. Bila ada sahabat Kompasianer yang juga alergi obat, bersabar saja ya.....
Semoga bermanfaat. Amin.

Karanganyar, 14 Juli 2013
Sumber: www.kompasiana.com/noerimakaltsum 

Minggu, 14 Mei 2017

Belajar Menahan Belanja Mulai Sekarang

Sudah beberapa tahun terakhir, saya memiliki kebiasaan  menyisihkan sebagian kecil dari gaji untuk saya tabung alias menabung di depan. Setelah itu, baru saya membelanjakan uang dengan hemat. Saya berbelanja atau mengeluarkan uang sesuai dengan kebutuhan saja.
Sejak kecil saya memang gemi alias hemat. Saya tidak mengalami kesulitan untuk berhemat karena berhemat adalah kebiasaan saya waktu kecil. Kebetulan, saya juga tidak mudah terpengaruh, tidak suka membeli barang-barang yang tidak saya butuhkan. Hasilnya, saya tidak banyak memiliki barang yang menganggur. Sebisa mungkin saya membeli barang yang benar-benar bisa saya manfaatkan sehari-hari.
Sebentar lagi memasuki bulan Ramadhan. Pada saat bulan Ramadhan, biasanya kebutuhan sehari-hari dan pengeluaran lebih besar. Saya tetap berhemat. Kalau pengeluaran lebih besar disbanding bulan yang lain, Insya Allah karena untuk kepentingan akhirat.
Selama bulan Ramadhan, menu makan sahur dan berbuka, tidak ada yang istimewa. Saya jarang mengada-adakan makanan istimewa. Kalau berbuka puasa, saya juga tidak wajib menyiapkan kolak atau makanan pembuka yang manis-manis kecuali kurma dan kudapan seadanya.
Menjelang akhir Ramadhan, saya juga tidak sibuk berbelanja untuk keperluan lebaran. Untuk pakaian, cukup mengenakan pakaian yang sudah saya miliki. Mungkin untuk 2 anak saya memerlukan baju ganti. Saya tidak menyediakan makan kecil secara berlebihan karena saya berlebaran di rumah orang tua alias mudik.
Saya berusaha menahan diri untuk belanja sebab kebutuhan hari esok lebih banyak dan benar-benar harus kita penuhi. Hemat bukan berarti pelit, irit bukan berarti pelit, karena hemat adalah gaya hidup.

Belajarlah menahan belanja mulai sekarang. Kalau tidak dari sekarang, kapan lagi?

Jumat, 12 Mei 2017

Matic dan Keripik Jagung

Untuk menjamu tamu yang akan datang ke rumah, saya memerlukan pendapat dari teman. Sudah ada 2 makanan yang tidak biasa disuguhkan untuk tamu yang jumlahnya banyak. Saya memilih tahu bakso, cakwe dan bolang baling. Untuk yang renyah-renyah, ada beberapa pilihan. Pilihannya adalah kacang telur, kacang bawang, kacang kara, kacang kapri atau keripik jagung.
Seorang teman bertanya dengan kalimat bermakna konotatif.
“Yang diundang sebagian matic atau bukan?”
“Matic,”jawab saya.
“Kalau begitu pilihlah keripik jagung. Karena keripik jagung bersifat tidak keras. Matic saja kuat mengunyah.”

Apa hubungannya matic dengan keripik jagung? Matic = tanpa gigi. Selanjutnya, teruskan sendiri.

Kamis, 11 Mei 2017

(Belum) Berani Sekolah di Rumah (Homeschooling)

Sebenarnya, sejak Dhenok SD dahulu, saya menginginkan Dhenok sekolah di rumah saja. Ada beberapa pertimbangan, di antaranya waktunya fleksibel dan sesuai dengan karakternya. Namun, Dhenok tidak mau dengan alasan masak sih nggak sekolah. Yang kedua, keluarga besar saya pasti tidak setuju dengan berbagai alasan.
Waktu terus berlalu, sampai sekarang saya merasa Dhenok itu memang cocoknya sekolah di rumah. Tapi, sudahlah, semoga semua akan baik-baik saja.

Untuk si kecil, sepertinya cocok banget kalau sekolah di rumah. Sekolah di rumah membuat si kecil nyaman. Alhamdulillah, saya dan si kecil sudah melewati masa sulit. Hanya saja Ayah tidak setuju kalau si kecil sekolah di rumah.

Rabu, 03 Mei 2017

Mengikuti UN Merupakan Syarat Lulus Sekolah

Hari ini, Selasa 2 Mei 2017, bertepatan dengan memperingati Hari Pendidikan Nasional,  pengumuman kelulusan jenjang SLTA serentak dilaksanakan pada sore hari. Waktu yang dipilih untuk pengumuman adalah sore hari, dengan pertimbangan tidak ada konvoi setelah pengumuman. Namun, kenyataan berbicara lain. Pengumuman kelulusan diadakan pada sore hari pun, sebagian siswa sebagai peserta ujian tetap mengadakan konvoi naik sepeda motor dengan suara bising sebelum pengumuman.
Ada yang berbeda dari syarat lulus bagi siswa kelas XII. Kalau dahulu, UN merupakan penentu kelulusan, kemudian diubah menjadi penentu kelulusan adalah nilai rapor, US dan UN, sekarang syarat siswa lulus adalah mengikuti UN. Nilai UN bukan syarat mutlak kelulusan.
Dengan demikian, diharapkan siswa bisa lulus 100%, asal mengikuti ujian nasional (tentu saja nilai rapor terisi, dan mengikuti US/USBN). Syarat kelulusan pada tahun ini tidak membuat pendidik khawatir. Dengan demikian, mengikuti ujian dengan jujur lebih mudah terwujud. Apalagi sekarang ujiannya dengan UNBK. Tinggat kejujurannya tinggi.
Bagi saya, saya menyambut secara positif program syarat lulus adalah mengikuti UN. Sebagai guru di sekolah swasta (bukan sekolah favorit), dulu ketika nilai UN mutlak menjadi syarat kelulusan, saya sering menilai hal itu tidak adil. Maksudnya, bagi siswa yang sekolah di sekolah negeri, kemampuannya cukup, kemauan belajarnya cukup/lebih, wajar kalau kemudian lulus ujian dan lulus sekolah.
Akan tetapi, bagi siswa yang menuntut ilmu di sekolah swasta(dengan input pas-pasan), butuh perjuangan yang keras. Guru-gurunya juga ekstra keras dalam membimbing dan mengajar siswa demi memperoleh nilai UN yang tinggi. Kendala yang dialami siswa dan guru yang mengajar di sekolah swasta yaitu pertama kemampuan anak yang rata- rata di bawah, kedua motivasi belajar rendah, ketiga perhatian keluarga kurang, dan keempat pengaruh lingkungan.
Bagi siswa  kurang mampu (sekolah swasta), biasanya mereka sekolah sambil bekerja agar bisa mendapatkan uang saku dan membeli bensin. Kadang-kadang siswa lebih mengutamakan pekerjaan daripada sekolah sehingga mereka sekali dua kali membolos. Sudah menjadi rahasia umum, siswa yang bekerja ini banyak memberikan PR bagi gurunya. Guru harus mendatangi rumah siswa untuk bertemu orang tuanya.guru memberikan masukan kepada orang tuanya.
Tapi, bagaimana lagi kalau keadaan memang tidak bisa diubah? Kalau keadaan semacam ini bisa membuat siswa tetap bisa sekolah maka rasanya hal ini lebih baik. Kenyataan di lapangan, siswa tidak melanjutkan sekolah karena terkendala biaya sekolah dan uang saku harian. Bagi guru, siswa yang mengalami kesulitan ekonomi tetap diberi kesempatan untuk menyelesaikan sekolahnya sampai mengikuti ujian nasional. Dengan demikian siswa  mendapat kesempatan untuk lulus ujian dan tamat sekolah SLTA.
Faktor-faktor yang memengaruhi kelulusan siswa adalah Ujian Nasional (UNBK), siswa sudah menyelesaikan semua tahapan kegiatan belajar mengajar (dari kelas satu sampai kelas tiga), hasil ujian sekolah dan nilai perilaku siswa.
Kalau sekarang ujian nasional bukan merupakan momok bagi siswa peserta ujian, maka alasan apa lagi siswa takut mengikuti ujian nasional?

Karanganyar, 3 Mei 2017