Sabtu, 30 Juni 2018

BERAPA RUPIAH UANG YANG HARUS DITABUNG TIAP HARI?


Berapa rupiah uang yang harus ditabung tiap hari untuk anak sekolah? Jawabannya adalah relatif, tidak sama antara anak satu dengan yang lain. Hal ini melihat dari jumlah uang saku setiap hari dan kebutuhan anak di sekolah.
Minimal Rp. 500,00 untuk anak-anak SD. Bisa jadi tiap hari menabung lebih dari itu. Yang penting tiap hari menabung. Bila uang sakunya banyak dan diberikan mingguan/bulanan maka jumlah tabungan juga disesuaikan.
Baik anak-anak SD, SMP dan SMA sebaiknya diajari mengelola uang secara harian, mingguan atau bulanan. Anak-anak diberi contoh untuk menggunakan uang secara bijak dan penuh tanggung jawab.
Uang saku untuk anak SD, SMP dan SMA ini sebaiknya jumlahnya cukup. Jangan terlalu sedikit atau terlalu banyak. Kadang-kadang uang saku bukan hanya digunakan untuk jajan. Uang saku bisa dipakai untuk keperluan di sekolah secara mendadak.
Selain dari uang saku, uang tabungan juga bisa didapatkan anak-anak dari “mereka bekerja”. Mungkin anak-anak berjualan makanan kecil/minuman di sekolah, sebagian dari keuntungannya bisa ditabung. Ada juga yang mendapatkan upah dari membantu seseorang. Upah yang diperoleh bisa ditabung.
Yang penting adalah anak harus memiliki sejumlah tabungan. Jangan sampai anak tidak memiliki tabungan sama sekali. Bila anak-anak belum memiliki tabungan, sebagai orang dewasa mari kita wajibkan anak untuk menabung mulai sekarang.
Jangan pernah bilang menabung itu kalau punya uang, kalau tidak punya uang ya tidak usah menabung. Ubah pikiran kita menjadi bagaimana caranya anak bisa menabung, meskipun jumlahnya kecil.

Jumat, 29 Juni 2018

VARIAN ISI MOLEN ALA TAWANGMANGU




Ketika mendengar kata molen makanan, saya membayangkan pisang molen. Salah satu bahan baku pisang molen adalah pisang. Makanan ini merupakan makanan kecil/camilan. Ukuran pisang molen sangat bervariasi, tergantung selera masing-masing pembuatnya. Ada ukuran kecil, sedang dan besar.

Suatu hari, saya diajak suami jalan-jalan ke Tawangmangu. Di sekitar Pasar Tawangmangu/terminal, banyak penjual makanan gorengan. Salah satu makanan tersebut adalah molen. Molen yang dijual di pinggir-pinggir jalan ukurannya kecil dan tipis.

Ada beberapa varian isi molen, di antaranya adalah kacang hijau, ketan hitam, ubi ungu, pisang, dan nanas. Molen mini ini dilengkapi dengan gula halus yang ditaburkan. Molen mini bisa dinikmati sambil minum teh atau kopi hangat.

Oleh karena ukurannya yang kecil, menyantap molen mini pinginnya nambah lagi dan lagi. Bila tidak bisa menikmati molen dari Tawangmangu, kita bisa membuat sendiri camilan ini. Bahan-bahannya tidak sulit didapat, terutama pisang. Cara membuat molen juga gampang.

Molen adalah camilan murah dan tidak bikin kantong lekas kempis. Bila anggota keluarga banyak atau sedang kedatangan kerabat, molen bisa menemani suasana santai kita.

Yuk, bikin camilan sederhana dan sehat!

[AH TENANE] BERKAT MANTEN


Tulisan ini dimuat di SOLOPOS, Jumat, 29 Juni 2018. Silakan baca naskah asli dan naskah tayangnya di SOLOPOS. Harap maklum diedit oleh Redaksi.


NASKAH ASLI

AH TENANE
BERKAT MANTEN
Oleh : Noer Ima Kaltsum
Pada hitungan orang Jawa, banyak orang yang mengadakan acara, punya kerja, punya hajat atau duwe gawe, pada bulan Besar (Dzulhijah) dan Syawal. Pasangan suami istri, Jon Koplo dan Lady Cempluk, panen undangan pada dua bulan itu.
Oleh karena Cempluk dan Koplo harus bisa membagi waktu, kadang-kadang keduanya tidak ikut pada acara resepsi. Pernah dalam sehari ada 3 undangan, waktu resepsinya bersamaan. Kalau seperti itu, Cempluk mencari jalan keluar untuk datang sehari sebelum resepsi.
Suatu hari, tetangga Cempluk ada yang mau ngunduh mantu. Kebetulan Koplo dan Cempluk ada acara yang lain pada waktu yang sama. Akhirnya Cempluk datang ke rumah Pak Gembus untuk setor amplop alias menyumbang pada sore sebelum hari H.
Seperti pada umumnya yang masih berlaku di kampung dan sekitarnya, ada pemberian berkat atau ulih-ulih. Biasanya yang mendapat berkat/ulih-ulih adalah tamu yang datang sehari sebelum resepsi.
Berkat tersebut bisa berwujud roti bolu, biscuit, kue semprong, satu paket makanan. Paket makanan bisa berisi irisan wajik, jadah, kacang bawang, kue kering lainnya, pisang dan lain-lain. Kadang satu paket berisi nasi dan lauk-pauk. Semua tergantung kemampuan yang punya kerja.
Keluar dari halaman Pak Gembus, Genduk Nicole menyerahkan tas kresek hitam kepada Cempluk. Sampai di rumah, Cempluk mengintip isi tas kresek. Wow, ada 2 bungkusan ukuran besar dan hangat. Lumayan untuk makan malam, batin Cempluk.
“Pak, makan malam pakai berkat saja. Ini tadi dapat nasi berkat dari Bu Gembus.”
Setelah ganti pakaian, Cempluk kembali mengambil tas kresek berkat manten tadi. Setelah dibuka, lalu dikeluarkan isinya. Yang pertama bungkusan besar dan berat lagi hangat berupa nasi putih. Bungkusan yang kedua, bungkusan besar, berat dan hangat juga. Cempluk pikir lauk-pauk dan kudapan khas wajik dan jadah. Setelah dibuka, ternyata isinya nasi putih juga. Jadi dua bungkus isinya nasi putih semua.
“Nasi dan lauk berkatnya mana, Bune?” tanya Koplo.
“Pakne, sampeyan makan dengan sayur dan lauk punya kita sendiri saja.”
“Piye ta Bune? Tadi nawari makan dengan nasi berkat, la kok ujung-ujungnya disuruh makan lauk rumah.”
“Begini Pak. Ternyata berkatnya tadi isinya cuma nasi putih saja tidak ada lauknya. Mungkin tadi tergesa-gesa jadi keliru memasukkan. Seharusnya lauk, yang dimasukkan nasi lagi.”
Koplo hanya manggut-manggut. Cempluk sedikit mbesengut. (SELESAI)



Kamis, 28 Juni 2018

NABUNG, YUK!


Setiap anak yang pernah belajar di Taman Kanak-Kanak biasanya sudah memiliki pengalaman menabung. Sekolah tidak mewajibkan setiap anak untuk menabung dengan jumlah uang tertentu. Biasanya menabung dilakukan pada waktu tertentu, misalnya seminggu sekali atau sebulan sekali. Akan tetapi ada orang tua anak yang menginginkan anaknya bisa menabung setiap hari.  
Kebiasaan menabung merupakan kebiasaan yang baik. Sebaiknya anak-anak sudah diajari menabung sejak dini. Kebiasaan menabung bisa diawali dari rumah. Di rumah, anak bisa diminta untuk menabung/menyimpan uang di dalam celengan. Anak-anak bisa menabung di dalam celengan yang terbuat dari tanah liat, kaleng bekas wadah makanan, botol air mineral, bambu dan lain-lain. Bila uang yang akan ditabung berupa uang kertas, maka uang tersebut bisa ditabung di dalam buku lalu disimpan di dalam lemari atau rak buku.
Bagi anak-anak TK dan SD, di mana jumlah uang yang akan ditabung masih relative kecil, bisa disimpan di rumah saja. Bila uang yang terkumpul jumlahnya sudah banyak, demi keamanan maka bisa disimpan di koperasi atau bank.
Bagaimana caranya agar anak-anak bisa menabung? Caranya adalah dengan segera menyisihkan uang saku atau uang jajan lalu menyimpannya. Menyisihkan sebagian uang saku dilakukan setiap hari. Dengan demikian, kebiasaan anak ini akan memberikan dampak positif. Anak-anak sudah bisa mengelola uang sendiri walaupun dalam skala kecil. Anak-anak tidak boros membelanjakan uang.   Dengan berhemat maka bila suatu saat membutuhkan sejumlah uang, anak sudah memiliki uang sendiri.
Menabung bukan monopoli orang dewasa. Anak-anak juga bisa menabung sejak dini.  Orang tua perlu memberi contoh atau teladan menabung di rumah. Misalnya dengan memasukkan uang kembalian belanja atau memasukkan uang kecil ke dalam celengan. Kebiasaan baik orang tua dalam menabung Insya Allah akan ditiru anak-anak.
Yuk, menabung di rumah! Sediakan celengan, kaleng, botol plastik minuman, stoples dan buku untuk menyimpan uang anak-anak. Menabung sedikit demi sedikit lama-lama banyak juga.

Rabu, 27 Juni 2018

MENIKAH ITU YANG PENTING SAH

Sebelum Resepsi Pernikahan Kakak kedua

Beberapa bulan sebelum kakak sulung menikah, ada acara lamaran. Keluarga kami sudah menyiapkan barang-barang yang dibawa untuk lamaran. Semua barang dibungkus dengan rapi. Kami dari Yogyakarta, calon ipar tinggal di Kabupaten Blora. Kakak saya dan calon istri saling mengenal waktu mengajar di sekolah yang sama (di Blora).
Ketika lamaran, hanya Bapak, Ibu dan anak-anak saja yang datang ke Blora. Kakak saya minta bantuan teman guru yang mengajar di Blora, sebagai sesepuh atau orang yang dituakan untuk mewakili keluarga Bapak. Bapak tidak mengajak tetangga atau saudara ikut ke Blora. Alasan Bapak tidak mengajak tetangga atau saudara adalah tidak mau merepotkan waktu dan tenaga mereka.
Kami dari Yogyakarta menuju Blora naik kendaraan umum (bus). Dari rumah sampai Blora, kami harus 4 kali ganti bus. Alhamdulillah, semua berjalan dengan lancar.
Beberapa bulan kemudian, kakak sulung menikah. Kebetulan akad nikah tidak jatuh pada hari Minggu. Oleh karena pas hari kerja, hanya Bapak, Ibu dan seorang kakak perempuan yang bisa menyaksikan akad nikah. Kerabat dari pihak Ibu yang datang  hanya Pakde Sumiharjo dan istri (dari Surabaya). Mengingat kondisi yang tidak memungkinkan untuk semua bisa hadir pada acara resepsi pernikahan, kakak saya bisa menerima keadaan itu.
Beberapa hari setelah akad nikah, keluarga ipar mengantarkan kakak saya dan istri ke rumah Bapak dan Ibu. Di rumah Bapak dan Ibu tidak ada acara besar-besaran layaknya ngundhuh mantu. Bapak hanya mengundang beberapa orang tetangga dan kerabat dekat.
Keadaan keluarga kami memang sederhana dan biasa. Bapak dan Ibu tidak memaksakan diri untuk mengada-adakan sesuatu yang tidak bisa dijangkau, semampunya saja. Bagi keluarga kami, menikah itu yang penting sah. Bila tidak sama seperti pada umumnya, tidak lantas merasa nanti dibicarakan orang. Namanya hidup bermasyarakat, selalu menjadi bahan pembicaraan, entah itu baik atau tidak baik.

00000

Ketika saya akan menikah, saya mengajar di Blora (tinggal di rumah keluarga kakak saya). Calon suami saya (sekarang suami saya) berdomisili di Kabupaten Karanganyar. Saya sebagai guru honorer, sedangkan calon suami sebagai CPNS.
Oleh karena kesederhanaan saya, keluarga juga tidak membuatkan syukuran secara besar-besaran. Saya hanya mengundang seorang teman seperjuangan yang mengajar di MA Ali Maksum, Krapyak Kulon, Yogyakarta. Bapak hanya mengundang tetangga khusus Bapak-bapak (tidak dengan Ibu-ibu) dan kerabat dekat. (Pakde Sumiharjo di Surabaya diberi tahu via telepon pada hari H, sehingga tidak bisa hadir ketika saya menikah). Sekali lagi, Bapak tidak mau merepotkan banyak orang.
Akad nikah berjalan dengan baik dan lancar. Dua minggu kemudian, di rumah suami diadakan acara ngundhuh mantu. Saya dan suami diantar ke rumah mertua. (Yang sebenarnya, hari Minggu saya menikah, hari Senin saya dan suami sudah berpisah di Solo. Saya ke Blora, suami ke Karanganyar. Seminggu kemudian kami bertemu di Yogyakarta di rumah Bapak. Setelah itu, saya dan suami menuju Karanganyar.  Selanjutnya, dua minggu kemudian, dari Blora saya langsung ke Karanganyar. Jadi, pada saat ngundhuh mantu, saya dan suami sudah berada di Karanganyar. Keluarga saya menuju rumah saudara suami dan kami bertemu di sana.)
Dari Yogyakarta, tetangga-tetangga Bapak dan kerabat banyak yang ikut mengantar kami ke rumah mertua (besanan, bagi Bapak dan Ibu). Apa boleh buat, kami tidak bisa menolak.
Bapak menyadari, betapa akan merepotkan tetangga dan kerabat bila mengundang/mengajak mereka. Dari segi waktu, tenaga dan biaya, tentulah sangat banyak. Bagi Bapak, cukuplah kami minta doa dan restu saja.
Seorang tetangga yang dianggap sesepuh di RT kami, mewakili keluarga untuk menyerahkan/pasrah saya dan suami kepada keluarga suami. Bagi keluarga kami merupakan suatu kehormatan dengan ikut sertanya tetangga. Alhamdulillah, acara ngundhuh mantu di keluarga suami berjalan dengan lancar.

00000

Ketika adik saya nomor lima menikah, akad nikah diadakan di rumah dan resepsi pernikahan diadakan di gedung. Sore harinya, keluarga dan kerabat dekat mengantarkan adik saya dan suaminya ke rumah orang tua. Ada sesepuh dari RT yang mewakili keluarga untuk menyerahkan adik saya dan suaminya kepada keluarganya.
Dalam satu hari, acara resepsi dan mengantarkan pengantin ke rumah orang tua pihak laki-laki selesai. Betapa simpel dan tidak repot meskipun tetap merepotkan sebagian tetangga dan kerabat dekat. Di rumah mertua adik saya tidak ada acara ngundhuh mantu. Rumah keluarga mertua adik saya di Sleman. Jadi, masih dekat dengan wilayah kota Yogyakarta.

00000

Adik saya nomor enam, saat akad nikah dan resepsi diadakan di rumah. Kali ini tamu undangan di rumah cukup banyak. Selain saudara, kerabat dan tetangga, juga tamu undangan adik saya.
Dua minggu kemudian, acara ngundhuh mantu di rumah mertua adik saya. Pada saat itu, adik saya sudah tinggal di rumah keluarga suaminya. Ada tetangga yang mewakili Bapak untuk menyerahkan/pasrah adik saya dan suami kepada keluarga besan. Hanya beberapa orang tetangga saja yang ikut serta ke rumah besannya Bapak.

00000

Pada saat kakak kedua saya menikah, tamu undangan saat resepsi pernikahan dan yang ikut mengantarkan ke rumah besan Bapak cukup banyak. Bukan berarti Bapak mengajak banyak orang. Sebagian dari mereka yang ikut karena keinginan mereka untuk ikut.
Kalau sudah seperti itu, keluarga kami tidak bisa menolak. Sebab hal itu sangat sensitif. Diambil sisi positifnya saja.
Sesederhana dan sesimpel apa yang telah dirancang, ternyata akhirnya juga akan merepotkan orang lain (tetangga dan kerabat). Akan tetapi keluarga kami sudah berusaha untuk menerapkan “MENIKAH ITU YANG PENTING SAH”.    

00000

Setiap orang, setiap keluarga memiliki prinsip sendiri-sendiri. Bagi saya, semua tergantung masing-masing orang yang menjalani. Menikah, mau dibuat mewah resepsinya ya silakan. Resepsi pernikahan dibuat sederhana, tidak ada salahnya. Setelah akad nikah tidak mengadakan resepsi, juga tidak masalah. Akan tetapi untuk yang terakhir tetap diumumkan/diberitahukan di wilayah RT. Minimal kedua mempelai memperkenalkan pasangannya ke tetangga. Menikah itu yang penting sah. Jangan sampai menikah menjadi berat karena “harus” mengada-adakan sesuatu di luar kemampuan.
Apabila calon pasangan tempat tinggalnya berbeda kota maka perlu dipikirkan untuk membawa keluarga ke luar kota. Bila ternyata untuk membawa seluruh anggota keluarganya atau bersama kerabat memerlukan biaya yang cukup besar maka dipikirkan masak-masak lagi. Apakah harus membawa seluruh anggota keluarga atau cukup orang tua dan satu/dua orang wakil dari keluarga yang datang.
Sebaiknya jangan memaksakan diri untuk memboyong seluruh keluarga agar bisa menyaksikan akad nikah atau bisa menghadiri resepsi pernikahan. Bila kita memiliki kelebihan rezeki, tentu tidak masalah. Akan tetapi bila kita sempit rezekinya, jangan sampai setelah anggota keluarga menikah kita memiliki hutang yang banyak hanya karena gengsi.
Tulisan ini hanya sebagai pengingat diri saja. Bila tidak sependapat dengan tulisan ini, silakan saja. Saya tidak memaksa Anda untuk sepakat dengan saya.
00000

MENIKAH ITU YANG PENTING SAH (BAGIAN 2 SELESAI)


Ketika saya akan menikah, saya mengajar di Blora (tinggal di rumah keluarga kakak saya). Calon suami saya (sekarang suami saya) berdomisili di Kabupaten Karanganyar. Saya sebagai guru honorer, sedangkan calon suami sebagai CPNS.
Oleh karena kesederhanaan saya, keluarga juga tidak membuatkan syukuran secara besar-besaran. Saya hanya mengundang seorang teman seperjuangan yang mengajar di MA Ali Maksum, Krapyak Kulon, Yogyakarta. Bapak hanya mengundang tetangga khusus Bapak-bapak (tidak dengan Ibu-ibu) dan kerabat dekat. (Pakde Sumiharjo di Surabaya diberi tahu via telepon pada hari H, sehingga tidak bisa hadir ketika saya menikah). Sekali lagi, Bapak tidak mau merepotkan banyak orang.
Akad nikah berjalan dengan baik dan lancar. Dua minggu kemudian, di rumah suami diadakan acara ngundhuh mantu. Saya dan suami diantar ke rumah mertua. (Yang sebenarnya, hari Minggu saya menikah, hari Senin saya dan suami sudah berpisah di Solo. Saya ke Blora, suami ke Karanganyar. Seminggu kemudian kami bertemu di Yogyakarta di rumah Bapak. Setelah itu, saya dan suami menuju Karanganyar.  Selanjutnya, dua minggu kemudian, dari Blora saya langsung ke Karanganyar. Jadi, pada saat ngundhuh mantu, saya dan suami sudah berada di Karanganyar. Keluarga saya menuju rumah saudara suami dan kami bertemu di sana.)
Dari Yogyakarta, tetangga-tetangga Bapak dan kerabat banyak yang ikut mengantar kami ke rumah mertua (besanan, bagi Bapak dan Ibu). Apa boleh buat, kami tidak bisa menolak.
Bapak menyadari, betapa akan merepotkan tetangga dan kerabat bila mengundang/mengajak mereka. Dari segi waktu, tenaga dan biaya, tentulah sangat banyak. Bagi Bapak, cukuplah kami minta doa dan restu saja.
Seorang tetangga yang dianggap sesepuh di RT kami, mewakili keluarga untuk menyerahkan/pasrah saya dan suami kepada keluarga suami. Bagi keluarga kami merupakan suatu kehormatan dengan ikut sertanya tetangga. Alhamdulillah, acara ngundhuh mantu di keluarga suami berjalan dengan lancar.

00000

Ketika adik saya nomor lima menikah, akad nikah diadakan di rumah dan resepsi pernikahan diadakan di gedung. Sore harinya, keluarga dan kerabat dekat mengantarkan adik saya dan suaminya ke rumah orang tua. Ada sesepuh dari RT yang mewakili keluarga untuk menyerahkan adik saya dan suaminya kepada keluarganya.
Dalam satu hari, acara resepsi dan mengantarkan pengantin ke rumah orang tua pihak laki-laki selesai. Betapa simpel dan tidak repot meskipun tetap merepotkan sebagian tetangga dan kerabat dekat. Di rumah mertua adik saya tidak ada acara ngundhuh mantu. Rumah keluarga mertua adik saya di Sleman. Jadi, masih dekat dengan wilayah kota Yogyakarta.

00000

Adik saya nomor enam, saat akad nikah dan resepsi diadakan di rumah. Kali ini tamu undangan di rumah cukup banyak. Selain saudara, kerabat dan tetangga, juga tamu undangan adik saya.
Dua minggu kemudian, acara ngundhuh mantu di rumah mertua adik saya. Pada saat itu, adik saya sudah tinggal di rumah keluarga suaminya. Ada tetangga yang mewakili Bapak untuk menyerahkan/pasrah adik saya dan suami kepada keluarga besan. Hanya beberapa orang tetangga saja yang ikut serta ke rumah besannya Bapak.

00000

Pada saat kakak kedua saya menikah, tamu undangan saat resepsi pernikahan dan yang ikut mengantarkan ke rumah besan Bapak cukup banyak. Bukan berarti Bapak mengajak banyak orang. Sebagian dari mereka yang ikut karena keinginan mereka untuk ikut.
Kalau sudah seperti itu, keluarga kami tidak bisa menolak. Sebab hal itu sangat sensitif. Diambil sisi positifnya saja.
Sesederhana dan sesimpel apa yang telah dirancang, ternyata akhirnya juga akan merepotkan orang lain (tetangga dan kerabat). Akan tetapi keluarga kami sudah berusaha untuk menerapkan “MENIKAH ITU YANG PENTING SAH”.    

00000

Setiap orang, setiap keluarga memiliki prinsip sendiri-sendiri. Bagi saya, semua tergantung masing-masing orang yang menjalani. Menikah, mau dibuat mewah resepsinya ya silakan. Resepsi pernikahan dibuat sederhana, tidak ada salahnya. Setelah akad nikah tidak mengadakan resepsi, juga tidak masalah. Akan tetapi untuk yang terakhir tetap diumumkan/diberitahukan di wilayah RT. Minimal kedua mempelai memperkenalkan pasangannya ke tetangga. Menikah itu yang penting sah. Jangan sampai menikah menjadi berat karena “harus” mengada-adakan sesuatu di luar kemampuan.
Apabila calon pasangan tempat tinggalnya berbeda kota maka perlu dipikirkan untuk membawa keluarga ke luar kota. Bila ternyata untuk membawa seluruh anggota keluarganya atau bersama kerabat memerlukan biaya yang cukup besar maka dipikirkan masak-masak lagi. Apakah harus membawa seluruh anggota keluarga atau cukup orang tua dan satu/dua orang wakil dari keluarga yang datang.
Sebaiknya jangan memaksakan diri untuk memboyong seluruh keluarga agar bisa menyaksikan akad nikah atau bisa menghadiri resepsi pernikahan. Bila kita memiliki kelebihan rezeki, tentu tidak masalah. Akan tetapi bila kita sempit rezekinya, jangan sampai setelah anggota keluarga menikah kita memiliki hutang yang banyak hanya karena gengsi.
Tulisan ini hanya sebagai pengingat diri saja. Bila tidak sependapat dengan tulisan ini, silakan saja. Saya tidak memaksa Anda untuk sepakat dengan saya.

Selasa, 26 Juni 2018

MENIKAH ITU YANG PENTING SAH (BAGIAN 1)


MENIKAH ITU YANG PENTING SAH

Beberapa bulan sebelum kakak sulung menikah, ada acara lamaran. Keluarga kami sudah menyiapkan barang-barang yang akan dibawa untuk lamaran. Semua barang dibungkus dengan rapi. Kami dari Yogyakarta, calon ipar tinggal di Kabupaten Blora. Kakak saya dan calon istri saling mengenal waktu mengajar di sekolah yang sama (di Blora).
Ketika lamaran, hanya Bapak, Ibu dan anak-anak saja yang datang ke Blora. Kakak saya minta bantuan teman guru yang mengajar di Blora, sebagai sesepuh atau orang yang dituakan untuk mewakili keluarga Bapak (saat melamar). Bapak tidak mengajak tetangga atau saudara ikut ke Blora. Alasan Bapak tidak mengajak tetangga atau saudara adalah tidak mau merepotkan waktu dan tenaga mereka.
Kami dari Yogyakarta menuju Blora naik kendaraan umum (bus). Dari rumah sampai Blora, kami harus 4 kali ganti bus. Alhamdulillah, semua berjalan dengan lancar.
Beberapa bulan kemudian, kakak sulung menikah. Kebetulan akad nikah tidak jatuh pada hari Minggu. Oleh karena pas hari kerja, hanya Bapak, Ibu dan seorang kakak perempuan yang bisa menyaksikan akad nikah. Kerabat dari pihak Ibu yang datang  hanya Pakde Sumiharjo dan istri (dari Surabaya). Mengingat kondisi yang tidak memungkinkan untuk semua bisa hadir pada acara resepsi pernikahan, kakak saya bisa menerima keadaan itu.
Beberapa hari setelah akad nikah, keluarga ipar mengantarkan kakak saya dan istri ke rumah Bapak dan Ibu. Di rumah Bapak dan Ibu tidak ada acara besar-besaran layaknya ngundhuh mantu. Bapak hanya mengundang beberapa orang tetangga dan kerabat dekat.
Keadaan keluarga kami memang sederhana dan biasa. Bapak dan Ibu tidak memaksakan diri untuk mengada-adakan sesuatu yang tidak bisa dijangkau, semampunya saja. Bagi keluarga kami, menikah itu yang penting sah. Bila tidak sama seperti pada umumnya, tidak lantas merasa nanti dibicarakan orang. Namanya hidup bermasyarakat, selalu menjadi bahan pembicaraan, entah itu baik atau tidak baik.

Sabtu, 23 Juni 2018

PANEN PADI DALAM SUASANA LEBARAN




Saat yang ditunggu-tunggu para petani dan pemilik sawah adalah panen. Hasil jerih payah selama 3 bulan akan terlihat saat panen tiba.

Ada senyum bahagia dari seorang petani bila mereka bisa memanen hasil pekerjaannya. Entah itu hasilnya baik atau kurang, mereka akan tersenyum. Asal jangan gagal panen karena tikus, diserang wereng atau puso.

Alhamdulillah, masih dalam suasana lebaran, kami bisa memanen padi dari sawah belakang rumah. Tiga bulan ke depan masih ada stok gabah di lumbung keluarga suami (suami dan adik-adiknya). Meski tidak banyak, tetap saja saya bersyukur. Maka nikmat manakah yang kamu dustakan?

Kamis, 21 Juni 2018

MBAK FAIQ BUKAN MAS FAIQ


Hari ini, saya menghadiri acara HBH yang diselenggarakan oleh sekolah kami. Sebenarnya, undangan ditujukan untuk Bapak/Ibu guru/karyawan beserta keluarganya. Saya datang sendirian. Kebetulan suami ada tugas di sekolah. Si kecil ikut Ayahnya dan yang besar ada rencana bepergian ke Solo bersama teman karibnya.
Alhamdulillah, ada seorang teman yang baik hati bersedia saya barengi. Sebenarnya ada seorang teman yang menawarkan untuk bareng naik mobilnya.
Singkat cerita, acara HBH dimulai. Saya sangat bersyukur karena semua guru dan karyawan bisa hadir. Dari mereka, ada yang mengajak pasangan dan anaknya, mengajak anaknya saja, mengajak pasangannya atau sendirian seperti saya.
Ada yang berkesan dalam acara ini. Seorang teman mengajak Ibunya anak-anaknya (sebut saja Ummu Faiq). Teman saya, secara agama sudah berpisah. Akan tetapi belum dicatatkan di Pengadilan Negeri Agama.  Teman saya dan Ummu Faiq beda kota tempat tinggalnya. Namun demikian, keduanya bisa berbagi merawat anak-anaknya. Dua anak tinggal di ponpes dekat rumah teman saya, dua lainnya tinggal dekat dengan Ibunya (satu di Ponpes Purbalingga, dan  satu anak lainnya ikut Ibunya).
Sudah lama saya tidak bertemu dengan Ummu Faiq karena beliau sekarang tinggal di Banjarnegara. Ketika saya mengenal Ummu Faiq, beliau belum memakai cadar. Sekarang Ummu Faiq bercadar. Saat bersalam-salaman, saya memeluk Ummu Faiq. Saya berbisik,”masih ingat dengan saya?”
“Ibunya Faiqah ya. Masih ingat kok Bu.”
Saya bukannya sok akrab dengan teman-teman atau pasangannya. Insya Allah, saya tulus ramah dan dekat dengan orang yang menjadi teman saya
00000
Oya, nama anak sulung teman saya sama dengan nama anak sulung saya, yaitu Faiq. Kalau anak saya perempuan, sedang anak teman saya laki-laki. Saya lebih dulu mengajar di SMK daripada teman saya. Suatu saat teman saya bilang,”Bu, teman-teman sering menyebut Faiq Faiq. Kupikir menyebut nama anakku, ternyata yang dimaksud putrinya panjenengan.”
Saya tersenyum. Masih mending menyebutnya hanya Faiq. Ada lo yang menyebut Mas Faiq (karena belum pernah ketemu). Saya membetulkan,”Maaf, bukan Mas Faq tapi Mbak Faiq. Anakku cewek yo!”
Akhirnya, teman saya terkekeh sembari minta maaf.
00000 

Selasa, 19 Juni 2018

BEBERAPA USAHA UNTUK MENGURANGI POPULASI AYAM

BEBERAPA USAHA UNTUK MENGURANGI POPULASI AYAM

Saya mau bercerita tentang salah satu hewan piaraan Thole (bukan hanya satu ekor, tapi banyak ekor), yaitu ayam kampung. Kebetulan ayam kampung si Thole jumlahnya lumayan banyak.
Sebenarnya, saya menginginkan memiliki sepasang ayam kampung hanya untuk TPS (Tempat Pembuangan Sampah makanan, alias memanfaatkan sisa makanan untuk pakan ayam). Kenyataannya, ayam tersebut beranak pinak. Sayangnya, si Thole tidak bisa merawatnya.
Jadi, ketika beberapa betina bersamaan mengeram,  mereka berebut tempat. Tibalah saatnya bila menetas bersamaan, anak ayam yang jumlahnya banyak tidak bisa hidup bertahan lama. Mengapa? Karena anak-anak ayam tersebut ada yang jatuh masuk selokan, hanyut, dipatuk ayam dewasa lainnya.
Selain kewalahan merawat, saya juga kewalahan menyediakan pakan. Awalnya, memelihara ayam itu untuk TPS makanan tapi akhirnya malah saya harus membeli pakan. Ini namanya tidak efektif dan bernilai ekonomis.
Agar saya tidak terlalu banyak mengeluarkan uang untuk membeli pakan, maka populasi ayam harus dikurangi. Salah satu cara untuk mengurangi populasi ayam adalah menyembelih. Sebelum menyembelih ayam, biasanya ada adegan mengharu biru. Thole tidak rela kalau ayamnya disembelih. Tugas saya adalah membujuk.
Dulu, saya sering menyembelih ayam sendiri tapi kini tidak perlu. Saya hanya membutuhkan jasa penyembelihan ayam atau jasa pengolahan ayam hidup menjadi ingkung. Jasa penyembelihan atau pembuatan ingkung, tidak mahal. Kalau sudah matang, Thole juga mau makan.
Lebaran tahun ini, keluarga saya yang ada di Yogyakarta tidak menyediakan makanan khas lebaran, yaitu opor ayam dan sambal kerecek. Kakak saya ingin membuat masakan yang segar, yaitu asem-asem dan sop ayam. Saya membawa 2 ekor ayam, jantan dan betina yang sudah disembelih. Dua ekor ayam yang sudah disembelih, dalam keadaan mentah saya bawa ke rumah Ibu.
Lumayan, populasi ayam berkurang. Kebetulan ayam betina yang saya ambil, sedang mengeram. Saya tahu, ayam-ayam saya kalau bertelur dan mengeram selalu rebutan tempat. Biarpun sudah dibuatkan tempat satu-satu tetap saja mereka suka rebutan. Ah, andai mereka bisa membaca tulisanku pasti mereka akan menurut.
Ada sekitar 5 ekor ayam betina yang bertelur. Satu ekor yang akhirnya saya jadikan sop, 4 ekor lainnya bertelur di garasi. Telur-telur yang beberapa hari yang lalu dierami, saya ambil dan saya rebus. Alhamdulillah, masih bisa dikonsumsi. Nah, telur lainnya yang ada di garasi juga saya selamatkan. Beberapa telur saya ambil untuk dikonsumsi.
Mulai hari ini, bismillah, saya mau mengurangi populasi ayam. Sementara ini yang saya kurangi adalah ayam. Mungkin besok, saya akan mengurangi nasi yang ada di mejikom, wafer dan kue kering lebaran yang masih manis di dalam wadahnya.   

Senin, 18 Juni 2018

TIDUR BERKUALITAS

TIDUR BERKUALITAS

Saat Ramadhan kemarin, seorang kenalan kelihatan lelah dan mengantuk sambil bilang ngantuk banget. Saya bertanya padanya jam berapa mulai tidur tadi malam. Jawabnya jam sembilan. Saya hitung, jam sembilan tidur lalu bangun jam tiga pagi, berarti tidur malam selama 6 jam. Dan ternyata siang hari tidur sekitar satu jam. Total 7 jam tidurnya selama sehari.

Saya membandingkan antara tidurnya kenalan dan saya. Saya mulai tidur jam sebelas malam dan bangun sekitar jam 3 - setengah empat. Siang tidak tidur. Pulang dari sekolah beraktivitas. Rasanya tidak mengantuk.

Entah apa yang membedakan antara saya dan kenalan? Mungkin kualitas tidurnya. Saya kalau sudah tidur selalu bleksek, angler, alias nyenyak.

Kata kenalan saya, lama tidur dalam sehari minimal 8 jam. Mungkin ada benarnya. Tapi kalau terlalu lama tidur, badan saya malah loyo. Akan tetapi kalau masanya libur alias tidak mengajar, saya akan memanfaatkan siang saya dengan tidur. Kadang-kadang tidur siang selama 30 menit rasanya lama sekali.

Biasanya kalau ada target-target kecil yang harus saya selesaikan, tidur selama 4-5 jam sehari sudah cukup. Tapi kalau tidak ada beban pekerjaan yang harus segera diselesaikan, saya bisa lebih lama tidur karena mulai tidur lebih awal.

Tidur berkualitas dasarnya bukan lamanya tidur.

#kahfinoer


Waktu belum menikah, saya tidurnya bisa lama dan sangat nyenyak. Mungkin ada gempa bumi saja sampai tidak terasa.

Minggu, 17 Juni 2018

TANAMKAN PADA DIRI JIWA PERWIRA

PERWIRA

Membaca tulisan tentang masyarakat/warga yang kecewa setelah datang pada acara open house yang digelar oleh orang no xx Indonesia, rasanya kok miris.

Pasalnya mereka datang bukan hanya untuk bersilaturahmi, tapi juga mengharapkan salam tempel. Jauh-jauh mereka datang dari kampung dengan mengantre, menurut mereka "hanya mendapatkan nasi, kudapan dan air mineral". Mereka inginnya juga dapat uang minimal 20 ribu. Bahkan mereka membandingkan bila datang pada OH di rumah orang tertentu.

Wahai saudaraku.
Amatlah meruginya kamu datang jauh-jauh dengan niat mendapatkan THR berupa uang 20 ribu. Setelah ternyata tidak terpenuhi harapanmu, kamu sangat kecewa.

Kerjakan sesuatu dengan ikhlas. Dan janganlah kamu bangga dengan membawa jiwa peminta-minta. Berjiwalah perwira dan besar, serta punya rasa malu.

Orang yang memiliki jiwa perwira, selalu akan mendapatkan rezeki yang tak pernah disangka-sangka.
Bersyukurlah dengan apa yang kamu miliki agar kamu tidak terlalu lelah.

Wahai saudaraku, kamu datang atas kemauanmu sendiri. Tidak ada undangan khusus yang ditujukan kepadamu untuk mendatangi acara OH. Mulai sekarang perbaikilah niatmu.

Sabtu, 16 Juni 2018

MAAFKAN AKU, BAPAK

Maafkan aku, Bapak

Sebenarnya, saya ingin lebih lama tinggal di Yogyakarta. Paling tidak untuk menghabiskan waktu cuti bersama, saya bisa lebih banyak waktu untuk Ibu dan Bapak. Akan tetapi saya dan suami harus menghadiri pertemuan Trah di Karanganyar. Jadi, kami harus pulang. 

Seperti biasa, bila liburan saya terlalu lama di rumah Bapak, saya malah "diusir" disuruh pulang. Maklum, Bapak juga tahu kondisi rumah saya yang jauh dari tetangga, saya memiliki hewan piaraan yang tidak mungkin saya titipkan di rumah tetangga dalam waktu lama.

"Sudahlah, kamu segera pulang. Kapan-kapan ke sini lagi."

Saya tidak bisa menolak perintah Bapak. Akhirnya, saya pulang dan meninggalkan rumah Bapak. Maafkan aku, Bapak. Seharusnya aku bisa lebih lama dekat dengan Ibu dan Bapak. Semoga Ibu dan Bapak sehat selalu.





Rabu, 13 Juni 2018

BANJIR TAHU MENJELANG LEBARAN



Judul di atas tidaklah berlebihan dan saya tidak bohong. Hampir setiap tahun, setiap menjelang lebaran, di rumah banjir kiriman tahu dari tetangga. Apakah ini berlaku di rumah tetangga lainnya? Jawabannya adalah belum tentu.

Lebih dari sepuluh tahun terakhir, setiap menjelang lebaran, tetangga-tetangga yang memiliki usaha produksi tahu mengirim tahu putih untuk keluarga saya. itulah bentuk penghormatan mereka kepada Bapak saya (bukan ge-er atau pamer lo).

Bapak adalah orang yang sangat dihormati di sekitar rumah. Pada usia senjanya, 76 tahun, Bapak dianggap sebagai orang yang dituakan. Selain umurnya yang sudah tua, juga karena Bapak terlibat langsung dalam kegiatan sosial. Bapak mengisi pengajian (atau tausyiah), mengajari membaca Alquran untuk Bapak/Ibu tetangga, menjadi Imam ketika berjemaah sholat dan kegiatan sosial lainnya.

Di sekitar rumah Bapak berdiri beberapa pabrik tahu. Dahulu waktu saya masih sekolah, kadang sangat terganggu dengan polusi udara dan suara dari pabrik tahu yang beroperasi tak mengenal waktu. Setelah anak-anak Bapak sudah tidak menempuh pendidikan lagi, polusi-polusi tersebut sudah tidak mempengaruhi kami. (Sebenarnya tetap mempengaruhi, tapi kami sudah bisa menurunkan idealisme kami untuk hidup tenang, nyaman).

Dua hari puasa terakhir atau menjelang lebaran, tetangga-tetangga yang memproduksi tahu datang memberi tahu kepada Bapak/Ibu. Oleh karena bila dikumpulkan jumlahnya banyak, kadang-kadang keluarga saya kesulitan untuk mendistribusikan. Kalau ditaruh di ember bisa mencapai 2 ember besar.

Anak-anak bertugas mendistribusikan tahu-tahu tersebut kepada kerabat-kerabat. Pokoknya harus habis. Sebab kalau tidak segera habis, kami repot untuk menghangatkan tahu agar tidak basi. Bila dimasukkan ke dalam kulkas, juga akan memenuhi kulkas lalu makanan yang lain harus dikeluarkan dari kulkas.

Alhamdulillah, bagaimanapun juga kami sangat bersyukur karena rezeki datang tanpa kita pinta. Nah, mungkin yang menjadi kendala saat-saat lebaran, tahu hanya dilihat sebelah mata. Tentu saja makanan yang lain yang lebih laris untuk diambil.

Kadang-kadang, saya mudik tidak terlalu lama. Saya ingin segera balik ke Karanganyar dengan membawa tahu. Bukan untuk saya konsumsi sendiri, tahu-tahu tersebut pada akhirnya juga akan saya bagikan ke tetangga.

Bagi orang lain mungkin hanya dibilang ah Cuma tahu. Akan tetapi bagi saya dari tahu ini filosofinya luar biasa. Tahu bisa mempererat persaudaraan. Tahu putih kalau sudah digoreng akan disantap sebagai teman ngobrol. Kalau kebetulan keluarga kecil adik saya yang “hobi banget dengan mpek-mpek Palembang” datang, tahu goreng bisa dimakan dengan cuko. Tambah nikmat dan mantap.

Meskipun banyak tetangga yang memberi tahu, tapi Bapak tidak pernah menolak dengan berkata,”maaf, saya sudah memiliki banyak tahu.” Tidak! Bapak tetap menerima pemberian tahu dari tetangga-tetangga. Rasanya, tidak berlebihan kalau saya mengatakan banjir tahu menjelang lebaran.

Selasa, 12 Juni 2018

TETAP BUGAR SAAT BERPUASA

Pada saat berpuasa, kita harus tetap bersemangat dan tidak boleh bermalas-malasan. Bagi saya, puasa Ramadhan tahun ini godaannya tidak terlalu banyak. Udara tidak terlalu panas dan alhamdulillah semuanya bisa berjalan dengan lancar.

Ada yang membuat saya tetap bersemangat dan stamina tetap tinggi. Kuncinya adalah mengkonsumsi makanan yang bergizi, cukup air dan mineral.

Saat berpuasa, saya tetap makan dalam jumlah yang relatif sama dengan hari-hari selain bulan Ramadhan. Hanya saja, waktu makannya saya ubah. Hari-hari biasa, makan 3 kali sehari pada pagi, siang dan malam. Sekarang, 2 kali makan berat dan 1 kali makan camilan dan buah-buahan.

Oleh karena saya membutuhkan cairan yang banyak, maka konsumsi air dan buah-buahan jumlahnya ditambah. Hasilnya, setiap hari saya tidak merasakan lemas, perut juga nyaman. Sampai menjelang maghrib, kerongkongan saya tidak terasa kering.

Semoga setelah puasa wajib Ramadhan selesai, saya bisa melaksanakan puasa sunah dengan nyaman dan tetap bersemangat.

Senin, 11 Juni 2018

LIMA AMALAN PADA HARI INI

Hari ini adalah hari istimewa buat saya. Sebenarnya saya akan mempersiapkan mudik, akan tetapi ada berita lelayu yang membuat saya berhenti beraktifitas.

Dengan adanya berita lelayu tersebut, saya bisa melakukan 5 amalan sekaligus (maaf, bukan dimaksudkan untuk riya):

1. Takziah
Saya dan suami takziah ke rumah teman saya Guru Agama Islam yang sudah lama purna alias pensiun. Hari ini istrinya meninggal dunia. Saya bertemu beberapa teman di lokasi takziah.

Setelah takziah, kami (saya dan teman-teman) melanjutkan perjalanan untuk menjenguk teman Guru Agama yang sakit.

2. Menjenguk teman yang sakit
Setelah takziah, kami (saya dan teman-teman) melanjutkan perjalanan untuk menjenguk teman Guru Agama yang sakit.

Awalnya kami datang ke rumah teman Guru Agama (beberapa waktu yang lalu kena stroke ringan). Ternyata pagi tadi dibawa lagi ke klinik karena merasa badannya sakit dan kedinginan.

3. Bersedekah
Meskipun besarnya tidak seberapa, saya mengeluarkan sedekah yang terbaik. Alhamdulillah, semua kami niatkan karena Allah.

4. Berpuasa
Hari ini puasa kedua puluh enam. Alhamdulillah, saya bisa menyelesaikan puasa hari ini dengan lancar tanpa kendala yang berarti. Semoga esok hari Allah memberikan kemudahan kepada saya dan keluarga untuk menyelesaikan puasa Ramadhan yang tinggal 3 hari.

5. Silaturahmi
Beruntung, saya tidak tergesa-gesa untuk mudik. Jadi, hari ini saya bisa bersilaturahmi dengan banyak orang. Alhamdulillah, nikmat sehat yang kami peroleh bisa kami gunakan untuk hal-hal yang bermanfaat.

Semoga bermanfaat.

Minggu, 10 Juni 2018

MANFAAT DIBENTUKNYA GRUP WA

Satu grup WA ini hanya terdiri dari empat orang, saya dan 3 bapak teman guru. Jangan berpikiran negatif dulu. Tiga teman saya sudah berteman akrab sejak tahun 1999. Sudah lama, bukan?
Setiap ada kejadian di sekolah, bila di antara kami sedang tidak masuk mengajar pasti ada berita di grup kecil ini. Demikian juga dengan informasi seputar kedinasan, di mana info tersebut tidak semua orang harus tahu. Grup WA ini sangat membantu kami berempat.
Bila ada kegiatan yang harus melibatkan kami berempat, tinggal diinfokan lewat Grup kecil ini. Dua di antara kami tinggal di Solo. Jadi, bila ada kegiatan apapun, kami kontak-kontakan terlebih dahulu. Kami janjian agar tidak terjadi miskomunikasi.
Suatu hari, kami akan menjenguk orang tua teman kami di Purwodadi. Sebelumnya di sekolah, rencana sudah kami matangkan. Pada hari pelaksanaan, kami dengan mudah terhubung lewat WA grup. Dan, semua berjalan dengan lancar meskipun dari kami dua orang domisili Karanganyar dan dua orang domisili Solo.
Nah, hari Jumat 8 Juni 2018 kemarin adalah hari penerimaan rapor sekaligus hari terakhir kami masuk sekolah. Bagi PNS, hari Jumat adalah hari terakhir presensi fingerprint (FP). Presensi FP dimulai lagi setelah libur cuti bersama, yaitu tanggal 21 Juni 2018.
Di sekolah, kami merencanakan sore harinya melaksanakan buka puasa bersama. Pilihan kami bertempat di Warung Makan Bu Agung. Warung makan ini terletak di sebelah utara alun-alun Karanganyar (sebelah Barat Gereja Santo Pius). Ternyata satu orang di antara kami ada yang izin tapi kami mengundang satu teman putri. Jadilah kami tetap berempat.
Awalnya, saya memesan asem-asem iga dan teh panas untuk saya sendiri. Ternyata, yang lain juga memesan menu yang sama. Alhamdulillah, kami bisa menikmati buka puasa bersama di hari terakhir masuk sekolah. Khusus untuk asem-asem iga harganya Rp. 30.000,00. Harga tersebut belum dengan nasi dan minumannya. Satu porsi asem-asem iga bisa untuk 2 orang karena sayurnya memang banyak.
Kami menikmati menu buka puasa dengan penuh syukur. Setelah selesai buka puasa, kami mengobrol ringan tentang hal-hal yang terjadi di sekolah sepanjang hari tadi. Entah itu kedinasan, kejadian lucu, tentang anak-anak didik atau apa saja. Buka puasa bersama ini termasuk buka puasa paling simpel dan tercepat. Jam enam kami sudah meninggalkan rumah makan dan kembali ke rumah masing-masing.
Tentu saja, selanjutnya kami fokus untuk acara lebaran, misalnya mudik untuk saya. Tiga orang teman saya asli Solo dan Karanganyar, jadi mereka tidak mudik.
 Saya dan 3 orang teman (bapak guru) mendapat sebutan kwek-kwek. Kalau di sekolah, teman-teman yang lain juga tahu status keakraban kami. Untuk kepentingan dinas, Grup WA dengan anggota sedikit ini sangat membantu info sampai kepada kami lebih cepat. Mengapa demikian? Karena salah satu dari kami adalah operator sekolah, yang selalu mengetahui sesuatu lebih dahulu dari yang lain.
00000

Sabtu, 09 Juni 2018

BERBUKA DAN SAHUR DENGAN BUAH

PINGIN BERBUKA DAN SAHUR DENGAN BUAH

Setelah membaca status dan tulisan sahabat penulis yang sudah menerapkan pola hidup sehat dengan banyak mengkonsumsi buah, saya jadi ingin mencoba.

Pagi ini, Dhenok dan Thole ke pasar mau membeli kerang, hati ayam dan makanan lainnya. Saya minta pada Dhenok untuk beli beberapa buah-buahan. Dhenok kaget, serius Mah? Yes! Ya sudah, sepertinya Dhenok belum rela kalau Maminya mau banyak mengkonsumsi buah. Saya minta 2 macam buah. Terserah mau dibelikan apa oleh Dhenok, asal jangan kates. Kalau kates di rumah ada!

Biasanya suami membeli pisang dari bakul yang mampir di sekolahnya. Oya, sebagai siramannya saya mau memakai sari tebu. Sepertinya rasanya mantap. Semoga nanti pas berbuka puasa semua sudah siap.

Kalau sehari dua hari bisa menerapkan pola makan seperti ini, sepertinya bisa berhemat. (Baru membayangkan seandainya bisa mengurangi makan nasi)

Makan buah saat sahur dan berbuka puasa perlu dicoba. Jangan menolak sesuatu yang baru, jangan pernah mengatakan aku tak bisa makan tanpa  nasi (peringatan buat saya pribadi)

Jumat, 08 Juni 2018

SUDAH WAKTUNYA MELEPASKAN ANAK GADIS

SUDAH WAKTUNYA MELEPASKAN ANAK GADIS

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat membaca status/tulisan di FB, yang intinya anak yang sudah akil baligh harus mandiri secara finansial. Di dalam tulisan itu disebutkan usia kurang lebih15-17 tahun, anak harus sudah memiliki penghasilan dan bisa menghidupi dirinya sendiri. Saya pikir ini benar, benar sekali. 

Ada banyak cara untuk mendapatkan penghasilan. Yang paling familiar adalah dengan berjualan. Berjualan barang atau benda, makanan, minuman atau menjual jasa. Prinsipnya, asal tidak malu, anak bisa memperoleh penghasilan.

Sebagai orang tua, harus memberikan dukungan penuh. Dukungan tersebut bisa berupa modal atau dorongan motivasi/semangat. 

Ternyata anak sulung saya sudah remaja dan waktunya mandiri. Saya selalu mengikuti perkembangannya. Sejak kelas 5 SD, anak gadis saya sudah mau berjualan makanan kecil di sekolah. Dia tidak malu dan alhamdulillah hasilnya bisa untuk menambah uang jajan. 

Waktu SMP dan SMA, saya juga mengarahkan untuk berjualan makanan kecil dengan cara dititipkan ke kantin, tapi anaknya tidak mau. Hanya saja kalau pas market day, hasilnya lumayan. Ketika di SMA ada pensi, anak saya dan teman-teman berjualan makanan dan minuman selama beberapa hari. Kerja sama yang baik ternyata bisa mendapatkan keuntungan yang banyak.

Di akhir kelas XII, anak saya sudah mau kembali untuk berjualan secara online. Tentu saja modalnya dari orang tua. Setelah lulus SMA, saya dan suami mengarahkan untuk hidup mandiri mulai sekarang.  Insya Allah, anaknya akan kuliah di Yogyakarta. Saya bilang jualan online-nya tetap berlanjut. Syukur alhamdulillah kalau nanti bisa membuka usaha di rumah orang tua saya di Yogya selama dia kuliah.

Berapapun hasilnya, anggap saja untuk melatih kemandirian. Masalah untuk hidup sehari-hari, tetap kami yang mencukupi. Paling tidak, dia memiliki penghasilan.

Pulang dari buka puasa bersama teman-teman SD-nya, Dhenok bercerita kalau teman-temannya juga ada yang menyambi bekerja. Ada yang jadi tukang parkir, kerja di bengkel atau berjualan. Mungkin dia merasa ada teman senasib sudah memperoleh penghasilan saat masih sekolah.

00000

Setelah UN yang lalu, anak saya bilang kalau mau ke Yogyakarta naik kereta, sendirian. Awalnya, saya tidak mengizinkan tapi dia bilang kalau Ayah mengizinkan. Ya, akhirnya saya mengizinkan. 

Ketika saya bercerita kepada seorang teman, dia mengatakan,"Bu, anak panjenengan sudah besar. Sudah waktunya dilepas. Jangan khawatir, dia sudah besar. Jangan panjenengan anggap seperti anak kecil."

Saya baru sadar, Dhenok bukan lagi anak yang ke mana-mana harus didampingi orang tua. Saya juga baru sadar, saya bukan lagi seorang Ibu dengan usia 29 tahun seperti ketika melahirkannya.

00000

Semoga sukses di dunia maupun di akhirat.