Senin, 30 Maret 2015

Keluarkan Sedekah Setelah Panen

Keluarkan Sedekah Setelah Panen
Oleh : Kahfi Noer

Gambar 1. Padi Menguning
Saya jadi ingat masa kecil (tahun 1982), di mana panen padi sedang berlangsung. Waktu itu hampir semua pekerjaan di bidang pertanian di sawah dilakukan oleh manusia beserta sapi/kerbau. Demikian juga ketika panen telah tiba. Para ibu menggendong “tenggok” untuk wadah padi/gabah yang sudah dipetik.
Sekarang telah berubah. Hampir semua dikerjakan oleh mesin. Membajak sawah, menanam padi dan merontokkan biji-biji padi. Dengan alasan lebih praktis dan pekerjaan lebih cepat selesai.
Tak apalah kita menggunakan mesin untuk memudahkan pekerjaan. Yang penting dalam proses menanam sampai memanen tidak semata-mata instan. Untuk menyuburkan tanah dan mengusir hama jangan menggunakan bahan kimia. Gunakan saja dengan pupuk dan pengusir hama organik alias alami.

Gambar 2. Panen telah tiba
Penggunaan pupuk organik dan pembasmi hama non kimia jelas akan membantu menjaga lingkungan dan tidak memperparah pencemaran air dan tanah. Bila mulai sekarang bersedia menggunakan yang alami, insya Allah beberapa tahun yang akan datanghasil panen akan melimpah.
Ciri-ciri tanaman padi yang baik sampai ketika mau panen adalah padi semakin kuning akan tetapi malai/batang padi tetap masih hijau. Alhamdulillah, rupanya panen kali ini hasilnya baik. Sawah belakang rumah, luas tanah sekitar 3000 meter persegi menghasilkan 36 karung besar (karung pakan ayam). Hasilnya dibagi 2 dengan petani penggarap sawah. Delapan belas karung ini masih dibagi berempat dengan saudara suami. Masing-masing mendapatkan 4,5 karung. Lumayan bisa untuk 6 bulan lebih. Semoga musim tanam yang akan datang tidak terjadi penurunan hasil secara drastis.

Gambar 3. Mesin Perontok Padi
Saya mengajak suami terus bersyukur. Tapi bersyukurnya jangan hanya lisan saja, keluarkan zakat dan sedekah dari hasil panen.
Saya sudah panen, sudah panenkah Anda?
Karanganyar, 30 Maret 2015