Jumat, 08 Mei 2015

Bertemu Ibu Susuan Anakku

Bertemu Ibu Susuan Anakku

Gambar. Dik Faiz dan Kakak Faiq
( Foto Dokumen Pribadi)
Sebelum jam 12 siang saya pulang dari mengajar dalam suasana agak santai. Saya menikmati perjalanan dari sekolah menuju rumah. Sesampai di depan SD 3 Karanganyar ada orang yang membunyikan klakson sepeda motor pertanda menyapa saya. Saya membalas membunyikan klakson. 
Karena saya harus melewati perempatan jalan yang tidak ada lampu bangjo maka saya harus berhenti dahulu. Orang yang tadi menyapa saya juga berhenti. Akan tetapi karena saya tidak hapal dengan pengendaranya, si pembonceng dan motor yang dikendarai, terpaksa saya diam tidak sok kenal. Setelah jalan sepi saya melaju. Kendaraan itu kembali mendahului saya. Si pembonceng menoleh, menyapa dan melambaikan tangan. Ternyata saya mengenal si pembonceng. Sedangkan yang berada di depan memakai masker penutup muka tapi saya akhirnya tahu siapa dia. Orang yang mengendarai sepeda motor tersebut adalah Ummu Halim.
Ummu Halim dahulu tinggal satu RT dengan saya. Sekarang beliau sudah pindah rumah. Saya pernah berkunjung ke rumah Ummu Halim. Siapa Ummu Halim tersebut. Ummu Halim adalah orang yang pernah berjasa, beliau pernah menyusui anak saya. Kebetulan anak saya dan anaknya sebaya, selisih umurnya hanya satu bulan.
Pada bulan Agustus 2010, Faiz anak saya berusia kurang dari 3 bulan. Waktu itu saya harus mengikuti sertifikasi guru dengan jalur PLPG. Selama mengikuti PLPG saya harus berangkat pagi-pagi dan pulang malam hari. Sebenarnya di tempat saya menempuh PLPG disediakan penginapan. Akan tetapi saya tidak mungkin menginap, karena saya memiliki anak (bayi) dan saya tidak memiliki asisten rumah tangga.
Sejak berumur 1,5 bulan Faiz sudah terbiasa saya titipkan di Taman Penitipan Anak selama saya tinggal mengajar. Ketika saya mengikuti PLPG Faiz saya titipkan di rumah tetangga, namanya Bu Bambang. Alhamdulillah, tetangga saya yang baik hati tersebut merawat dan memperhatikan Faiz dengan baik.
Hari pertama saya mengikuti PLPG dan pulang kemalaman, Faiz rewel. Faiz menangis dan tak bisa diredakan tangisnya. Bu Bambang langsung tanggap, ini pasti karena sudah kangen sama Ibunya dan waktunya minum ASI (selama saya tinggal, Faiz minum susu formula). Kebetulan rumah Bu Bambang dekat rumah Ummu Halim. Halim berumur 4 bulan. Bu Bambang membawa Faiz menuju rumah Ummu Halim.
Kebetulan Halim sudah tidur. Ketika Bu Bambang menceritakan kondisi Faiz, Ummu Halim langsung memangku Faiz dan menyusuinya. Faiz minum dengan lahap dan tidak rewel. Bahkan Faiz tidur di pangkuam Ummu Halim. Setelah Faiz tidur, barulah diambil alih Bu Bambang.
Ketika saya diberi tahu seperti itu saya benar-benar terharu. Terima kasih ya Allah. Kau beri jalan keluar kesulitan anakku. Karena hari sudah malam, saya langsung  pulang sambil menggendong Faiz. Hari berikutnya saya menemui Ummu Halim. Saya mengucapkan terima kasih karena Faiz menjadi kenyang, nyaman dan bisa tidur dengan pulas. Dengan demikian Faiz menjadi saudara sepersusuan dengan anak-anak Ummu Halim. Ummu Halim memiliki anak perempuan. Saya harus mengingat-ingat itu dan saya harus bercerita kepada Faiz mulai sekarang.
Alhamdulillah hubungan keluarga saya dan keluarga Ummu Halim terjalin dengan baik hingga sekarang. Meskipun tidak pernah bertemu karena kesibukan saya dan beliau tetapi saya berusaha mengagendakan untuk bersilaturahmi ke rumah Ummu Halim.
Oleh karena itu tadi ketika saya melihat si pembonceng, saya langsung membatin berarti yang ada di depan adalah Ummu Halim. Saya tahu, mereka teman sekantor dan ke mana-mana selalu berdua. Selain itu badan Ummu Halim yang tinggi besar mudah saya kenali. Apalagi kalau saya bisa berbincang meskipun beliau memakai masker, saya begitu kenal suaranya.
Bertemu sekilas dengan ibu susuan anak saya, ingatan saya kembali ke masa kurang dari 5 tahun yang silam. Di usianya yang 5 tahun ini, Faiz sudah tahu siapa Ummu Halim. Saya selalu bercerita dan cerita itu saya ulang-ulang. “Faiz, Ibunya Halim itu Ibumu juga. Dulu pernah menyusui kamu ketika mami sedang belajar.” Faiz plengah-plengeh. Faiz juga mengenal Halim sebagai saudaranya.
Semoga tulisan saya berdasarkan kisah nyata ini bermanfaat. Ini tulisan saya hari ini. Sudahkah Anda menulis hari ini?
Karanganyar, 8 Mei 2015