Rabu, 06 Mei 2015

Mukena Cantik dari Anak Asuh

Gambar. Mukena Pemberian Anak Asuh
Akhir tahun 2012, saya mulai memperhatikan seorang siswa, namanya Hidayat. Kebetulan Hidayat akan mengundurkan diri dari sekolah dengan alasan tidak ada biaya untuk sekolah. Orang tuanya tidak mampu dan keempat kakaknya sudah berkeluarga semua. Kakak-kakaknya repot dengan keluarganya.
Sangat disayangkan seandainya Hidayat berhenti sekolah. Setelah berdiskusi dengan suami, saya memutuskan untuk menjadikan Hidayat sebagai anak asuh. Semoga apa yang saya usahakan dan saya berikan bermanfaat bagi Hidayat dan keluarga saya. Untuk uang SPP dan sedikit uang saku saya berikan sesuai kemampuan saya.
Akan tetapi orang tua Hidayat tetap menginginkan Hidayat untuk berhenti sekolah dan bekerja. Saya tidak bisa memaksakan kehendak saya. Bagaimanapun orang tua Hidayat lebih berhak untuk mengatur kehidupan anaknya. Ibunya berkata bahwa sekolah hanya menghabiskan uang saja. Kalau Hidayat bekerja justeru akan menghasilkan uang. Ya sudah kalau hanya sebatas itu cara berpikir orang tua Hidayat.
Jadilah Hidayat di saat kelas X semester genap, usianya baru 16 tahun merantau ke Jakarta. Dipilih Jakarta sebagai tempat untuk mengadu nasib karena dua kakaknya juga bekerja di sana. Kakak lelakinya bekerja serabutan dan kakak perempuan bekerja di tempat kos sebagai asisten rumah tangga.
Saya meragukan Hidayat bisa bekerja agak berat sebab dia memiliki riwayat penyakit TBC. Ketika masih sekolah dia sering izin tidak masuk sekolah karena periksa atau kelelahan. Mungkin orang desa membayangkan dengan bekerja keras maka hasil yang diperoleh juga banyak. Tapi ternyata fisik Hidayat tidak kuat.
Semula Hidayat bekerja menjaga tempat kos dan menjadi asisten pemain golf (wah, tidak tahu istilahnya apa). Bekerja seharian penuh membuat fisik Hidayat semakin lemah. Maka dia putuskan untuk bekerja sebagai penjaga kos saja dulu. Pertimbangannya kalau fisiknya kuat dan umurnya semakin bertambah dia akan mencari pekerjaan yang lain.
Waktu terus berjalan, lima bulan kemudian Hidayat pulang kampung. Saya tidak tahu mengapa dia putuskan pulkam akhir bulan Agustus. Sebelum pulang Hidayat  bertanya pada saya lewat pesan singkat.
= (Hidayat) Ibu kepingin saya belikan apa?
+ (Saya) Tak usah repot-repot. Yang penting kamu pulang dengan selamat. Uangnya ditabung saja.
= saya ingin memberikan sesuatu buat Ibu
+ kerudung, warnanya putih
Setelah sampai Karanganyar, kami sepakat bertemu di Warung Makan Anjani, dekat Taman Pancasila, Karanganyar kota kecamatan. Hidayat membawa tas kresek dengan beberapa bungkusan di dalamnya. Ternyata Hidayat membelikan kerudung putih sederhana sesuai permintaan saya, mukena dan mobil mainan untuk anak saya. Saya sangat terharu dan mendapat kejutan. Saat itu saya ulang tahun, bingkisan itu diberikan ketika saya berulang tahun yaitu bulan September.  
Saya sangat terharu. Saya tidak pernah meminta apapun padanya. Alhamdulillah, semua yang diberikan untuk saya dan anak saya bermanfaat. Tentu saja kerudung putih sering saya pakai, saya padu padankan dengan seragam abu-abu. Untuk mukena jelas saya pakai setiap hari lima kali.
Mukena pemberian Hidayat kainnya ringan, dengan sedikit bordir. Menurut saya mukena tersebut simpel, sangat sesuai untuk saya yang sederhana. Setiap saat saya selalu mengingat anak asuh saya.
Meskipun sekarang tak lagi menjadi anak asuh saya, akan tetapi saya akan terus mengingatnya. Saya tidak akan melupakan Hidayat yang pernah menjadi anak asuh saya. Selama mukena itu saya pakai atau dipakai orang lain, maka pahala untuk Hidayat akan terus mengalir.
Untuk saat ini kami jarang berkomunikasi karena kesibukan saya dan Hidayat. Saya selalu berpesan pada Hidayat untuk mencari rezeki yang halal, menjaga shalat dan menjaga akhlak. Semoga Allah senantiasa membimbing setiap langkah Hidayat, amin.

"Tulisan Ini Diikutkan dalam Giveaway Menyambut Ramadhan"

Karanganyar, 6 Mei 2015