Selasa, 01 September 2015

Hidup Semurah Mungkin


Gambar 1. Berjalan kaki berangkat silaturahmi
Sumber : dok.pri
Pada dasarnya saya ini termasuk orang yang hemat dan gemi. Saya juga tidak suka boros dalam mengeluarkan uang untuk hal-hal yang tidak perlu. Itu semua saya lakukan sejak kecil. Menginjak remaja saya semakin membuat perhitungan bila mau mengeluarkan uang. Waktu itu perekonomian bapak dan ibu tak memungkinkan untuk hidup bergaya dan mengikuti tren.
Ketika saya SMP, SMA dan kuliah saya sering menjahit ikat pinggang kulit atau tas/dompet kulit untuk mendapatkan rupiah. Itu saya lakukan karena kebetulan tetangga ada yang membuat kerajinan kulit dan rotan. Susahnya mencari uang membuat saya tahu bagaimana harus mengelola uang. Uang harus dihemat, itu prinsip saya.
Karena saya termasuk orang yang tidak suka bergaya hidup mewah dan hidup saya sederhana maka ketika mengawali berkeluarga saya juga berhemat. Ketika saya menikah disaksikan kerabat dan tetangga. Artinya untuk biaya pernikahan saja, keluarga juga membuat perhitungan. Ini disesuaikan dengan karakter saya yang sederhana. Sejak saat itu saya mulai hidup semurah mungkin.
Untuk keperluan sandang dan pangan tidak perlu keluar uang banyak, karena hidup ini dibuat semurah mungkin. Makan seadanya dan tidak sering membeli baju bebas untuk harian. Perekonomian di awal pernikahan memang prihatin. Akan tetapi sekarang, di saat kehidupan kami lebih baik dan keuangan tak lagi pas-pasan kami tetap menerapkan prinsip hidup semurah mungkin.
Saya tidak memaksakan diri tiap hari makan enak dan kenyang. Yang penting saya, suami dan anak-anak tetap sehat dengan makanan yang kami konsumsi. Bagi saya, cukuplah makan makanan yang bergizi sehingga badan kami tegak. Saya berupaya sebisa mungkin untuk menekan biaya untuk makan dengan jalan mengurangi makan di luar yang ongkosnya mahal.

Gambar 2. Sepedaku pengantarku waktu kuliah tersimpan dalam gudang
Sumber: dok. Faiqah Nur Fajri
Saya tidak latah bergaya hidup mewah dengan makan di tempat yang wah lalu selfi dan di uplod ke medsos. Sekarang memang orang lagi senang selfi di mana saja dan kapan saja. Entah itu dengan maksud pamer atau karena kebiasaan. Saya seringnya mepublikasikan foto bareng teman komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis Solo, atau bersama teman lebih-lebih bersama murid.
00000
Beberapa waktu yang lalu saya ditegur oleh teman sekantor. Hal itu disebabkan karena suami saya memakai sepeda motor lawas. Sejak saya mengenal suami tahun 1995 sampai hari ini, suami memakai Yamaha alfa keluaran tahun 1992-an. Apakah suami saya salah memakai sepeda motor tua? Letak kesalahannya di mana?
Kata teman saya, saya dan suami tidak bisa menunjukkan rasa syukur setelah diberi banyak nikmat Allah. Masih kata teman saya, seharusnya dengan ekonomi yang meningkat, untuk menunjukkan rasa syukur saya dan suami membeli mobil atau paling tidak sepeda motor keluaran terbaru. Hah, saya mengomentari kalimat teman saya. Saya dan suami mempunyai cara tersendiri untuk bersyukur. Saya tidak perlu mengatakannya. Sebab dia juga tidak bakalan tahu ilmu saya tentang syukur nikmat.
Saya memang bisa membeli sepeda motor yang lebih baik dari Yamaha Alfa itu, tapi sampai hari ini saja.suami tidak malu memakai motor tua itu. Hidup semurah mungkin, masih ada motor lama, mengapa harus membeli motor baru? Hidup semurah mungkin, adakah harga mobil yang murah dengan kualitas bagus? Lalu mobil itu buat apa dan buat siapa? Jarak tempat kerja dan rumah tidak lebih dari 1 km. Bila memakai motor biaya transportasinya lebih murah dibandingkan dengan memakai mobil. Isi domper juga menyesuaikan lo. Kalau memakai motor, hati tetap tenang dengan isi dompet 50 ribu. Kalau memakai mobil, isi dompet 100 rb, hati ketir-ketir. Malah saya ingin naik sepeda ontel bila ke sekolah. Nanti saya diolok-olok, orang kok ngirit, keluar bensin saja tidak mau.
Lantas kalau hidup semurah mungkin, bagaimana kita bisa menikmati apa yang kita miliki? Bisa saja, nikmati saja kesederhanaan ini. Kebutuhan kita bukan hanya untuk hari ini saja. Ada nanti, besok, dan lusa. Kebutuhan kita bukan untuk konsumsi semata. Ada kebutuhan lain yang lebih penting. Ada ibadah yang memerlukan biaya tidak sedikit. Ada saatnya berkurban (menyembelih hewan kurban) dan ada saatnya beribadah haji yang memerlukan biaya tidak sedikit.
Hidup semurah mungkin, itu bisa!
Karanganyar, 1 September 2015
Tulisan ini juga tayang di kompasiana:
http://www.kompasiana.com/noerimakaltsum/hidup-semurah-mungkin_55e5b955c323bd64048b4568