Sabtu, 25 April 2015

Tiga Cara Mengambil Hati Mertua (Bag 2)

Ada 3 cara ampuh mengambil hati mertua, yaitu:
1.      Menjadi pendengar yang baik ketika mertua sedang berbicara/bercerita
Kita bisa menjadi pembicara yang baik, tapi jarang di antara kita yang bisa menjadi pendengar yang baik. Kadang-kadang kita tidak sabar mendengarkan cerita orang lain. Kita ingin segera memotong pembicaraan orang lain. Sering orang lain kecewa dengan sikap kita ini.
Sejak awal pernikahan, saya berusaha menjadi pendengar yang baik untuk mertua saya. Apa yang ibu mertua ceritakan selalu saya dengarkan. Saya tahu ibu mertua menceritakan sesuatu yang sama, yang pernah diceritakan beberapa waktu yang lalu. Akan tetapi saya menghargai beliau. Saya tidak pernah mengatakan, “lo bu itu kan kemarin sudah pernah diceritakan.” Bayangkan saja kalau saya mengatakan seperti itu. Apakah beliau tidak akan malu?
Ibu mertua membuka toko kelontong, menjual peti mati beserta uba-rampenya, dan bensin eceran. Sambil menunggu pembeli biasanya saya dan ibu mertua sering mengobrol. Sebenarnya hal semacam ini tidak menjadi kebiasaan di keluarga suami. Suami dan adik-adiknya jarang berkomunikasi dengan orang tuanya. Saya tahu itu setelah beberapa bulan tinggal di pondok mertua indah.
Mengapa saya menjadi pendengar yang baik? Karena saya tahu, dahulu ibu mertua menjadi pendengar yang baik bagi anaknya (suami saya) waktu masih kecil. Saya yakin suami menceritakan pengalaman atau sesuatu yang sama diulang-ulang.
Setelah anak saya lahir dan mulai bisa berbicara, ibu mertua akan menjadi pendengar yang baik bagi anak saya. Bosankah beliau? Tentu saja tidak. Orang tua akan senang melihat anak dan cucunya banyak bicara, meskipun mereka dalam keadaan lelah dan mengantuk. Menjadi pendengar yang baik tidak ada ruginya.

2.      Mampu menangkap keinginan mertua
Kadang-kadang antara saya dan mertua keinginannya tidak sama. Mertua menginginkan saya untuk mengikuti kemauannya. Saya tidak habis pikir. Ibu dan bapak saya saja tidak pernah memaksakan sesuatu/kehendak kepada saya. Apa yang baik menurut orang tua belum tentu baik untuk saya.
Kalau keinginan mertua masih wajar dan tidak bertentangan dengan prinsip saya, saya cenderung memenuhi. Akan tetapi kalau keinginannya tidak sesuai dengan prinsip saya, cukup saya dengarkan saja. Saya tidak akan membantah, takut menyakitinya.
Ketika saya dan suami akan membeli perumahan tipe 21, mertua saya tidak setuju. Kalau kami tetap membeli perumahan yang mungil, mereka mengancam tidak akan pernah mengunjungi kami. Saya ikuti saja kemauan mertua. Tapi mereka baik hati lo. Saya dan suami diminta untuk membangun rumah di atas tanah milik mertua di desa. Alhamdulillah, sekarang saya petik hikmahnya.
Masih ada keinginan-keinginan mertua yang disampaikan pada saya dan suami. Saya memang harus berdamai dengan mertua agar tidak ada konflik gara-gara hal yang sepele.

3.      Memberi tanpa diminta mertua
Sebelum menikah saya sudah terbiasa memberi uang untuk ibu saya. Kebiasaan ini saya komunikasikan pada suami setelah kami menikah. Kami sepakat tetap memberi uang untuk ibu dan mertua. Di saat kami belum mampu, maka kami memberi uang untuk orang tua semampu kami. Bila ada rezeki berlebih, kami tidak akan menggenggam erat rupiah-rupiah itu.
Saya ingin berbagi kebahagiaan. Saya selalu yakin orang tua tidak akan pernah ingin merepotkan anak-anaknya. Mereka tidak akan mengganggu kebahagiaan anak-anaknya. Tidak ada salahnya kalau saya memberi sebelum mereka pinta.
Ketika mertua masih ada, tanpa diminta suami setelah saya menerima gaji saya akan membelikan sesuatu kesukaan ibu mertua. Kebetulan saya menerima gaji setiap tanggal 15 dan suami menerima gaji pada awal bulan.
Apa kesukaan ibu mertua saya? Hanya rempeyek kacang ukuran jumbo. Kalau saya datang membawa rempeyek dan mengulurkan sedikit rupiah, ibu mertua mengucapkan terima kasih. Biasanya menolak uang pemberian saya. Tapi selalu saya paksa.
Demikian juga dengan ibu saya. Ibu teramat senang dengan sedikit yang saya berikan. Padahal nanti kalau saya mau pulang ibu repot membawakan ini-itu untuk saya.
Ketika ibu mertua divonis mengidap tumor limfa, saya meminta pada suami untuk membiayai pengobatan ibu meskipun kami tak memiliki uang. Dengan mengambil kredit, saya dan suami berniat untuk memberikan yang terbaik buat ibu mertua.
Ketika kondisi ibu mertua kian menurun, ibu mertua ingin menjual sebagian tanahnya. Saya bertanya untuk apa? Jawab ibu mertua untuk melunasi hutang. Memang ibu hutang pada siapa? Kata ibu mertua hutang pada suami saya. Saya katakan saya ikhlas apa yang saya keluarkan untuk beliau. Seandainya semua harta kekayaan suami diberikan untuk ibu, itu belum cukup untuk membalas jasa orang tua.
Waktu itu ibu menangis. Beliau sangat berterima kasih pada saya. Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya menantu. Saya harus berbakti pada suami. Tetapi bakti suami itu kepada ibunya.
Setelah kedua mertua saya meninggal, saya tetap berusaha untuk berbagi kebahagiaan kepada kedua orang tua saya. Saya tidak akan pernah memberi setelah diminta. Saya akan berusaha memberi mereka sebelum diminta.
Karanganyar, 25 April 2015