Sabtu, 25 Juni 2016

Jangan Habiskan Uang Untuk Berlebaran

Mudik Ayo Mudik
dok.pri
Jangan Habiskan Uang Untuk Berlebaran
Lebaran hampir tiba. Kebutuhan pokok harganya kian melambung. Kalau sudah melambung, kadang tidak mau terjun bebas. Harga-harga melayang-layang di atas, bertahan pada posisinya.

Baju baru, makanan untuk menjamu tamu, makan besar khas lebaran, salam tempel, dan lain-lain cukup menguras dompet. Belum lagi bagi yang putra-putrinya masuk ke jenjang yang lebih tinggi (SD, SMP, SMA, perguruan tinggi). Pengeluaran yang satu ini cukup besar juga.

Oleh sebab itu atur pengeluaran untuk lebaran sedemikian rupa. Kita mendadak jadi ahli keuangan. Uang sedikit dijereng-jereng (dibagi-bagi) biar semua kebutuhan terpenuhi. Sekiranya tak terlalu penting, pengeluaran bisa dipangkas. Lebarannya hanya sehari, tapi persiapannya membutuhkan waktu berhari-hari.  Pertanyaannya apakah harus selalu begitu? Tidak juga.

Dahulu, saya pernah menanam mentimun dan harus dipanen setiap hari. Saya menanam mentimun di atas lahan lebih kurang 500 m2. Sebelum dan sesudah lebaran panen terus. Malah setelah shalat Id, saya tidak mengunjungi tetangga dan saudara untuk bersilaturahmi. Saya harus memanen mentimun. Kalau hari ini tidak dipanen, mentimun ukurannya bertambah besar bila telat dipanen. Artinya itu malah tidak laku karena pasar membutuhkan mentimun yang masih muda.

Oleh karena saya dan suami sibuk di sawah, maka saya melupakan persiapan ini-itu untuk lebaran. Semua berjalan seperti hari-hari biasa. Tak ada baju baru. Tak ada makanan khas untuk lebaran. Tidak juga mudik. (orang tua memaklumi keadaan saya).
Saat itu Faiq masih kecil. Saya hanya menyiapkan baju dan makanan kesukaan Faiq saja. Untuk makan besar, kami memotong ayam piaraan sendiri. Pokoknya simpel saja. Kok bisa begitu ya? Bisa saja, karena keadaan membuat saya menyesuaikan semuanya. 

Keadaan saya yang seperti itu ternyata ngirit waktu, ngirit tenaga, ngirit semuanya. Bertemu saudara akhirnya saya agendakan saat pertemuan trah. Nah, di sini bisa bertemu siapa saja tanpa kita mengetuk dari pintu ke pintu.

Tahun ini, agenda keluarga kecil saya mudik ke Yogya. Tahun 2009, saya tidak mudik ke Yogyakarta karena Ibu mertua sakit keras dan meninggal setelah lebaran. Tahun 2010, saya tidak mudik karena memiliki Baby usia 2 bulan.

Tahun 2011 dan seterusnya, saya mudiknya ke Yogya kalau lebaran. Mudik irit ala saya. Pengeluaran ditekan sedemikian rupa sehingga usai mudik dompet masih terisi. Masih banyak kebutuhan yang harus dipenuhi setelah lebaran. Kalau Anda menerima Tunjangan Hari Raya, sebaiknya jangan dihabiskan. Kalau sampai habis bulan Syawal, THR masih juga tersisa banyak sebaiknya sedekahkan saja.

Selamat mempersiapkan kebutuhan lebaran dengan bijak. Semoga bermanfaat.