Sabtu, 25 Juni 2016

Lebaran Dengan Baju Baru Berfoto Keluarga Bawa Endhog Abang

Tahun 1397 H, Foto jadul
dok.Nur Rachman Kahfi Soeb
Lebaran Dengan Baju Baru Berfoto Keluarga Bawa Endhog Abang
Baju Baru Untuk Lebaran
Ketika saya masih kecil, orang tua saya mengusahakan untuk anak-anaknya memakai baju lebaran baru. Biasanya bajunya sama, kain dan warnanya sama, dan modelnya sama. Kalau membeli baju model dan coraknya sama, warnanya bisa sedikit berbeda. Akan tetapi ketika saya SMP, Bapak menjahit baju dan celana panjang untuk saya dan kakak saya dengan corak sama tetapi warnanya berbeda. Demikian juga kedua adik saya dibuatkan baju yang coraknya sama.
Orang tua menginginkan kami untuk selalu kompak, memakai baju yang mirip-mirip. Tapi orang tua tidak pernah memaksakan kepada kami untuk selalu memakai pakaian yang sama. Kompak tidak selalu sama, bukan?
Kalau sekarang baju boleh baru tetapi tak perlu sama yang penting corak atau warnanya hampir sama. Bahasa kerennya sekarang adalah dresscode.
Endhog Abang (Telur Merah)
Endhog abang adalah telur berwarna merah. Telur yang digunakan adalah telur bebek, yang diberi warna merah (direbus dengan pewarna alami). Setelah itu telur ditusuk dengan sujen potongan bambu seukuran lidi salah satu ujungnya dibuat lancip. Pada bagian atas dan bawah telur, diberi hiasan kertas rumbai-rumbai. Endhog abang biasanya dijual pada saat Sekaten, Idhul Fitri, dan Idhul Adha. Endhog abang wajib dibeli saat lebaran (hehe, tradisi saja).
Penjual endhog abang biasanya menjual mainan yang lain, misalnya payung dari kertas, kipas dari kertas. Mainan yang sederhana, mainan tradisional. Endhog abang, dan mainan-mainan itu ditancapkan pada pelepah pisang.
Mbak Lichah Beli Endhog Abang 1416 H
dok.Nur Tsalichah
Endhog abang walaupun kulitnya diberi warna merah tapi isinya tetap bisa dimakan. Telur bebek gizinya banyak, jadi saya suka sekali makan endhog abang. Walaupun endhog abang harganya mahal, tapi anak-anak suka. Orang tua juga tidak ada yang menolak kalau anak-anaknya minta dibelikan endhog abang.
Kebiasaan orang tua membelikan endhog abang terus berlanjut sampai sekarang. Supaya tidak rebutan, maka beli endhog abang sejumlah 6 butir sama dengan jumlah anaknya (saya 6 bersaudara). Endhog abang adalah makan yang membawa kesan. Orang asli Yogyakarta pasti mengenal endhog abang.
Dresscode, Wajah tanpa ekspresi, tidak naik becak
dok.Nur Rachman Kahfi Soeb
Foto Keluarga
Sejak kecil Bapak dan Ibu membiasakan foto sekeluarga. Terutama pada saat lebaran.  Foto keluarga diambil gambarnya di studio foto. Gambar diambil oleh fotografer profesional. Hasil gambarnya berkualitas bagus.
Demi foto keluarga, kami harus rela bersilaturahmi ke rumah saudara berjalan kaki, tidak naik becak. Uang yang ada digunakan untuk membayar foto di studio. Saya tidak mempermasalahkan itu, biasanya yang bersungut-sungut adalah mbak Lichah. Dengan berjalan kaki menjadi lelah. Dua kakak saya inginnya bepergian naik becak daripada foto bersama. Waktu itu hanya memiliki 2 buah sepeda.
Foto-foto yang ada dikumpulkan dan dipasang dalam album. Kalau membuka  album foto waktu saya masih kecil kadang-kadang tersenyum. Foto yang lucu, karena kami tidak diarahkan untuk tersenyum. Lagi-lagi, mbak Lichah kelihatan cemberut. Saya dan mbak Lichah hanya selisih satu tahun.
Lely, Mbak Lichah, Ima dan Endhog Abang
dok.pri
Salam Tempel
Sejak dahulu salam tempel atau angpao atau uang fitrah sudah ada. Kami mendapatkannya dari orang tua dan saudara dekat saja. Jumlahnya juga tidak seberapa tetapi kami sangat senang. Bapak berpesan kepada kami untuk tidak mengharapkan uang dari orang lain.

Tulisan ini diikutsertakan dalam GA yang diselenggarakan oleh www.andariyuan.com