Selasa, 29 Agustus 2017

Berbahagialah Wahai Orang tua yang Bisa Mengantar Dan Menjemput Anak Sekolah


Selama dua hari, saya memiliki tugas untuk mengantar dan menjemput si kecil. Padahal pada hari-hari biasa, tugas saya hanya menjemput saja. Yang mengantar si kecil ke sekolah adalah Ayah. Namanya juga berbagi tugas. Selama 3 hari, Minggu – Selasa, suami mengikuti diklat ke Semarang.
Hari Senin dan Selasa pagi hari saya mengantar si kecil ke sekolah. Saya bersyukur karena tidak ada jurus rewel. Setelah mengantar si kecil, saya langsung menuju sekolah tempat saya mengajar.
Ketika waktunya si kecil pulang sekolah, waktu saya memang luang sehingga bisa menjemput si kecil. Sengaja saya minta pada teman saya bagian kurikulum, untuk mengatur supaya saya bisa menjemput anak tanpa meninggalkan tugas saya mengajar.
Pukul setengah sebelas, jadwal si kecil keluar dari kelas. Namun, kadang-kadang tidak tepat waktu. Ada kalanya lebih dari pukul setengah sebelas, si kecil belum pulang. Saya sabar menunggu daripada terlambat sampai  di sekolah si kecil. Kalau si kecil keluar duluan, dan saya belum sampai sekolah, biasanya si kecil diajak teman suami ke sekolah suami.   Teman suami juga menjemput anaknya. Sebelum pulang, teman suami membelikan jajanan terlebih dahulu. Nah, di sini saya tidak enak hati. Kalau saya yang menjemput, si kecil tidak neko-neko minta macam-macam. Paling-paling saya belikan bola-bola telur atau martabak manis.
Begitu si kecil keluar dari pintu gerbang dan menghambur pada saya, si kecil bertanya,”Mami sudah lama menunggu?”
Biarpun sudah lama menunggu, saya akan menjawab,”tidak terlalu lama.”
Si kecil tahu kalau saya berbohong sebab jok sepeda motornya panas sekali. Hehe.
Si kecil langsung saya antar ke Taman Penitipan Anak (TPA). Di TPA, si kecil sudah merasa seperti di rumah sendiri. Akhirnya saya kembali ke sekolah. Setelah selesai mengajar, saya atau suami menjemput si kecil.
Mengantar dan menjemput anak sekolah merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan. Ternyata tidak semua orang tua bisa melakukan hal itu. Banyak dari orang tua yang merasa kehilangan moment berharga ini. Saya dan suami tidak menyia-nyiakan kegiatan kecil ini.
Waktu mengantar dan menjemput anak sekolah ternyata sangat diharapkan dan dinantikan anak. Ketika saya terlambat menjemput, si kecil merasa gelisah. Ketika saya sudah datang, si kecil merasa bahagia dan bercerita dengan manja.
Di rumah, si kecil akan bercerita pengalaman berharganya selama di sekolah dan di TPA. Bahagianya si kecil sangat sederhana, ketika dia bisa dekat dengan orang tuanya.
Karanganyar, 29 Agustus 2017

By Kahfi Noer