Minggu, 02 Juli 2017

Lebaran Dan Ibu


Hari Jumat, 23 Juni 2017 malam, Faiq yang sudah duluan mudik di rumah Ibu dan Bapak tiba-tiba mengirimkan foto sepiring ketupat, opor dan sambal goreng. Masih hari Jumat, kok sudah ada opor ayam dan sambal goreng, makan-makan acara apa itu? Kata anak saya,”Nggak tahu, Ma. Pokoknya simbah putri masak itu.”  Saya tak perlu bertanya lebih jauh lagi. Toh hari Sabtu saya mau mudik, tanyanya besok saja kalau sudah sampai rumah Ibu dan Bapak.

Malam takbiran, biasanya opor ayam dan sambal goreng masih fresh ngejreng, tapi kali ini tidak. Opor ayam dan sambal goreng sudah mengalami penghangatan dua kali. Bahkan untuk ketupat juga sudah basi karena tidak disimpan di dalam kulkas.

Ternyata oh ternyata, begini kisahnya:

Seperti yang sudah pernah saya ceritakan sebelumnya, Ibu sekarang daya ingatnya berkurang. Bahkan Ibu juga tidak bisa mengingat-ingat hari dan tanggal. Pagi-pagi, Ibu berbelanja di pasar diantar Bapak. (Yang saya herankan, Bapak kok ya tidak mengingatkan Ibu. Padahal Bapak tahu kalau lebaran masih 2 hari lagi) Ibu berbelanja bermacam-macam bumbu, telur, daging ayam, krecek dan lain-lain. Ketika Ibu sudah mengumpulkan belanjaan jadi satu, Ibu belanja bumbu lagi (lupa padahal barang tersebut sudah dibeli beberapa menit sebelumnya). Jadilah, bumbu dapur berlimpah dalam plastik bawaan.

Begitu mulai meracik bumbu, barulah Ibu diberi tahu kalau lebaran masih dua hari lagi, bukan besok. Karena sudah terlanjur dibeli, ya sudah akhirnya dimasak. Jadilah, santap opor dan sambal goreng sebelum lebaran. Namanya juga pelupa, ya……diterima saja. Saat lebaran, opor dan sambal goreng sudah melalui proses penghangatan berulang-ulang.

Nah ini ada kejadian tak terduga. Ibu menawari adik saya dan keluarga kecilnya untuk makan siang. Adik saya langsung bilang ke Ibu sayurnya tidak usah dipanaskan. Entah mengapa beberapa saat kemudian aroma gosong tercium. Mungkin, Ibu ingin memberikan yang terbaik untuk anak cucunya. Maksud Ibu dengan sayur dipanaskan nanti akan menggunggah selera saat menyantap nasi dan sayurnya. Tapi Ibu lupa, benar-benar lupa (dan kami tetap memakluminya), setelah menghidupkan kompor beliau kemudian merebahkan badannya. Perasaan Ibu rebahannya hanya sebentar, tapi cukup menggosongkan sambal goreng. Tidak ada yang marah, semua menerima apa adanya. Ya, mau bagaimana lagi? 

Bapak dengan sabar bilang,”Ibu sudah diingatkan jangan menghidupkan kompor. Biarlah yang memanasi sayur Bapak saja.”
Ibu hanya tersenyum.

00000

Hari Selasa, kakak saya yang tinggal di Blora datang. Ibu siap-siap memasak sambal goreng lagi padahal anak-anak Ibu yang lain bersiap ke pantai. Itu artinya kami tidak makan siang di rumah. Ketika Ibu dilarang memasak lagi, beliau bilang,”yang mau pergi, pergi saja. Aku mau masak, kalau aku tidak masak nanti tidak ada lauk.” Semua diam. Ya sudah, pasti Ibu masaknya juga banyak.

Lebaran dan Ibu,
Mungkin karena kebiasaan Ibu sejak dahulu selalu menyiapkan makanan istimewa saat lebaran  untuk anak-anaknya. Ibu terbiasa melakukan semua sendiri. Kami, anak-anaknya hanya membantu seperlunya saja. Tapi sekarang kondisinya berbeda dengan dahulu.

Bagi kami, Ibu adalah orang yang harus dimuliakan. Ibu tak perlu bersusah payah lagi menyiapkan makanan saat lebaran. Kami merasa bisa mengurus diri kami. Kami bisa saling membantu satu sama lain untuk menyiapkan makanan dan semuanya. Sebenarnya kami tak ingin merepotkan Ibu. Kami cukup tahu diri. Tapi menurut saya, Ibu hanya menjalankan kebiasaan yang telah berjalan puluhan tahun. Ibu ingin anaknya bisa makan bareng dengan penuh suka cita.

Tentang Lebaran dan Ibu, sebenarnya banyak yang akan saya ceritakan. Waktu saya tiba di rumah Ibu yang lalu, saya bertanya (ngetes Ibu),”Hayo, saya siapa?” Jawab Ibu,”Kamu, ya Ima.” Saya kejar lagi dengan pertanyaan berikutnya,”Ima anak nomor berapa?” Ibu tersenyum,”Pira ya.” Saya membantu menyebutkan urutan nama anak-anak. Sambil tersenyum beliau bilang,”Kamu nomor empat.” Tidak berhenti sampai di situ, saya bertanya lagi,”Anak nomor lima siapa hayoooo.” Jawab Ibu,”Ovi.” Saya meluruskan,”Nomor lima Lely, nomor enam Ovi.” Ibu tersenyum.

Sehat selalu ya Buk, maaf kemarin uang bulanannya lupa belum saya serahkan.

Karanganyar, 2 Juli 2017