Sabtu, 07 Juni 2014

Mengikuti Pasar

Kebetulan saya suka menulis cerita, biasanya cerita anak dan cerita pendek. Maksud hati menuliskan sesuatu yang ideal menurut hati kita. Akan tetapi idealisme ini terbentur tembok dan akhirnya tidak dapat menembus media. Saya mencoba mengikuti pasar, mengikuti tren dan perkembangan informasi terkini.
Bumbu-bumbu sedap dalam cerita memang tidak mesti rasanya mak nyus, tetapi justeru kadang-kadang berasa terlalu manis, terlalu asin bahkan pahit sekalipun. Mengapa demikian? Karena pasar atau konsumen menginginkan hal itu.
Benar kata orang, namanya juga cerita, ya harus dibuat sedemikian rupa. Supaya ceritanya hidup, membuat penasaran pembaca, membuat pembaca geram, atau terpingkal-pingkal.
Saya bertemu kawan lama dan dia mengeluhkan soal sikap Gubernur Jateng yang marah masalah jembatan timbang. Keluhan kawan lama saya yang bekerja di dinas perhubungan, memberikan inspirasi pada saya membuat cerpen Jembatan Timbang.
Tak lama kemudian cerpen ini dimuat di koran SOLOPOS. Wah, ternyata secuil cerita dari kawan saya ini menghasilkan uang, hehe. (Terima kasih kawan). Saya memang harus paham betul dengan keadaan sekarang sehingga dapat mengikuti pasar.
Sama halnya mengirim naskah pada media massa, untuk mengirimkan naskah ke penerbit kita juga harus tahu buku yang sedang ngetren saat ini. Selain isi dalam buku harus sesuai dengan selera konsumen dan sesuai dengan visi dan misi penerbit. Yang tidak kalah penting adalah judul buku “harus yang menjual”. Judul buku menarik! Karena pasar menginginkan seperti itu!
Karanganyar, 3 Juni 2014