Sabtu, 07 Juni 2014

Jembatan Timbang

Malam ini udara terasa panas, sumuk alias gerah. Pulang dari kerja aku menyempatkan diri makan mie Jowo di dekat kompleks SMK (kesenian), di Bugisan. Beberapa hari terakhir memang udara panas, tak ada hujan. Saat ini memasuki musim kemarau, sekarang masanya pancaroba.
Udara yang panas, mengeringkan segala-galanya, termasuk hatiku. Tak ada hujan, berarti kering, tidak basah. Sekering seperti lahan pekerjaanku. Semenjak pak Gubernur sidak di jembatan timbang di Batang, aku dan kawan-kawan terkena imbasnya.
Semua menjadi kacau! Keuanganku biasanya aman-aman saja meskipun gaji kuserahkan seluruhnya pada mBok Wedok (sebutan untuk isteriku). Sekarang aku kalang kabut. Terlanjur uang aku berikan pada mBok Wedok untuk keperluan sehari-hari dan angsuran bank.
Dompetku semakin tipis dan aku hanya terus berpikir bagaimana dengan waktu-waktu yang akan datang? Rencana pak Gubernur akan menutup sembilan titik jembatan timbang yang tidak efektif membuat aku dan kawan-kawan nglokro, tidak semangat.
Terus terang, aku tidak siap! Selama ini aku merasa kecukupan bahkan berlebihan. Semuanya beres dan lancar. Anak isteri tahunya semua ada, dan bisa didapat (sengaja aku tak memakai kata-kata mudah didapat).
 Lahan basah, jenes dan banyak ser-seran adalah dambaan semua orang termasuk aku. Aku dan kawan-kawan banyak berharap, rencana penutupan beberapa jembatan timbang ini hanya sementara. Konon katanya penutupan beberapa jembatan timbang dikarenakan jembatan timbang merupakan celah suburnya pungli.
Ooooo
Dulu aku sempat diremehkan banyak orang. Tapi setelah aku menjadi pegawai di dinas perhubungan kehadiranku diperhitungkan termasuk oleh mertuaku. Kupikir mertuaku matre juga. Itu hak mertuaku! Awalnya mereka juga kuatir, aku bisa menghidupi anak dan cucunya atau tidak.
Setelah pekerjaanku mapan banyak orang menjadi lebih dekat denganku. Saudara-saudaraku juga merasa tidak terganggu lagi. Tertutama kakakku yang menjadi guru. Sebagai guru tidak tetap dengan honor tak seberapa, kakakku hidup teramat sederhana, nrimo.
Aku tak bisa seperti itu. Walaupun aku sudah berkeluarga, aku sering mengganggu perekonomian kakakku. Padahal kakakku hanyalah seorang guru tidak tetap dengan penghasilan pas-pasan.
Ketika aku menjadi pegawai, kakakku bersyukur karena aku bisa mandiri. Banyak orang termasuk kakakku tahu kalau lahanku termasuk lahan basah. Suatu hari kakakku pernah mengingatkan.
“Semua ada masa dan waktunya. Jangan merasa engkau akan baik-baik saja. Sebaiknya pikirkan mencari penghasilan tambahan yang lain saja.”
“Mas Jati, tidak usah sok tahu. Kalau mas Jati sudah merasa cukup dengan honor dan bertani, mas Jati tak perlu menasehatiku!”
“Luhur, aku tidak memaksa supaya kamu menuruti kata-kataku. Kamu juga yang akan menjalani hidup. Terserah kamu saja.”
Siang ini aku merenungkan kembali kata-kata mas Jati. Benar juga kata mas Jati. Seandainya aku mencari penghasilan tambahan yang lain seperti yang disarankan mas Jati, mungkin aku tidak akan kacau seperti ini.
Beberapa waktu yang lalu aku mencairkan pinjaman bank untuk renovasi rumah, untuk melanjutkan kuliah dan membelikan motor buat anakku. Saat itu aku pikir gaji tiap bulan cukup untuk membayar angsuran bank, untuk biaya sekolah ketiga anakku dan untuk kebutuhan sehari-hari.
Untuk urusanku sendiri, aku mengandalkan rupiah demi rupiah dari tip-tip sopir. Jumlahnya lumayan, bisa untuk bayar kuliah, ongkos transportasi, makan siang dan bersenang-senang dengan wanita lain selain mBok Wedok. (tempat tinggalku lain kota dengan tempat kerjaku).
Wanita lain yang diam-diam kunikahi secara siri. Namanya laki-laki, kalau ada kelebihan uang wajarlah untuk memiliki lebih dari satu. Yang penting keuangan mBok Wedok tidak terganggu.
Kali ini aku dihadapkan masalah yang sulit. Semoga Bunda (sebutan isteri keduaku) bisa memahami keadaanku. Toh dulu dia juga tidak banyak menuntut. Sebenarnya aku kasihan sama Bunda, dari segi materi Bunda benar-benar nrimo menyerah pasrah. Tapi sebagai isteri tugasnya melayaniku sama dengan mBok Wedok.
Siang ini sebelum pulang, aku ke rumah kontrakan Bunda. Istirahat barang sebentar untuk memulihkan tenaga. Bunda menyambutku dengan senyum tulus.
Di pembaringan kupejamkan mata. Bunda sudah berada di dekatku. Sebenarnya aku benar-benar ingin istirahat tidur, tidak ingin diganggu (biasanya aku yang mengganggu isteriku).
“Pak, aku terlambat datang bulan.”
Aku benar-benar kaget dengan ucapannya. Kubuka mataku, kutatap matanya. Benarkah kamu hamil, isteriku?
“Benarkah? Selamat, isteriku.”aku malah bingung mau mengucapkan apa.
Kupeluk dia. Seharusnya aku bahagia. Tiga anak dari mBok Wedok, satu anak dari Bunda. Aku berpikir keras lagi, bagaimana aku bisa menghidupi dua orang isteri dan empat orang anak?
Ooooo
Mbok Wedok menyambutku dengan wajah ceria, tidak seperti biasanya. Anak perempuanku yang paling besar sudah asyik dengan buku-buku pelajarannya. Sedang dua adiknya tertidur pulas di depan TV.
Setelah mengemasi pakaian kotor dan menaruh di mesin cuci, mBok Wedok mendekatiku. Ada sesuatu yang akan dibicarakan.
“Pak, kasihan Mas Jati dan isterinya. Pernikahannya sudah berjalan lama, tapi belum                               dikaruniai anak. Mereka hidup sederhana, gajinya buat apa ya Pak?”
“Tanya saja pada mereka. Kok tiba-tiba kamu tanya seperti itu?”
“Maksudku, kita ini lo. Sebentar saja anak kita sudah tiga, belum lagi sepertinya aku terlambat menstruasi.”
“Maksudmu, kamu hamil lagi?” aku kaget tak percaya, berusaha untuk kelihatan bahagia.
Memang aku harus bahagia, karena sebentar lagi bakal memiliki 2 anak dengan jarak lahir yang berdekatan. Tapi kenapa Tuhan mengujiku dengan menambah anak sementara penghasilanku berkurang. Sedangkan Mas Jati, diuji belum juga diberi anak.  
Malam ini aku justeru tidak bisa memejamkan mata. Bayangan himpitan ekonomi di masa yang akan datang ada di pelupuk mata. Aku sendiri bingung. Aku membatin, semoga penutupan beberapa jembatan timbang dibatalkan.
Kuambil koran sekenanya. Aku baca berita, masih tentang jembatan timbang. Aku sementara bisa menghela nafas lega. Beberapa yang sempat aku baca isinya adalah : penutupan sembilan jembatan timbang mendapatkan protes dari pimpinan DPRD Jateng. Ide penutupan itu justeru dianggap tidak akan menyelesaikan masalah.
Menurut Plt Ketua DPRD Jawa Tengah adalah dengan tidak beroperasinya sembilan jembatan timbang yang ada saat ini, masalah yang akan timbul antara lain kekacauan di jalan raya karena tidak ada pengawasan terstruktur dari petugas. Tak ada lagi yang mencegah terjadinya kelebihan tonase angkutan barang.
Keberadaan jembatan timbang masih diperlukan untuk mencegah angkutan barang melebihi tonase yang dapat merusak jalan. Jadi akan lebih baik jika penutupan jembatan timbang tersebut bersifat sementara. Yang perlu dilakukan Pemprov melalui Dinas Perhubungan melakukan perbaikan sarana prasarana dan SDM petugasnya.
Dengan hanya mengoperasikan tujuh jembatan timbang, apakah bisa menjamin mencegah dan menangani kelebihan muatan barang?
Yang ada di pikiranku adalah dua isteriku hamil, dua anak yang akan lahir beberapa bulan mendatang, jembatan timbang dan sopir-sopir yang mengulurkan rupiah. Rupiah-rupiah yang masuk kantong, saku celana sendiri. (SELESAI)
Karanganyar, 18 Mei 2014
@Dimuat di SOLOPOS