Rabu, 09 Juli 2014

Lebaran Tanpa THR

LEBARAN TANPA THR
Lebaran tanpa mendapatkan Tunjangan Hari Raya, itu sudah biasa. Kalau ada berita tentang THR, saya dan suami selalu bilang THR sudah kita siapkan sendiri. Uang-uang kita sendiri.
Saya dan suami terbiasa menyiapkan Tabungan Hari Raya sejak setahun sebelumnya. Begitulah tiap tahunnya.
Saya dan suami saya mengajar sejak tahun 1997. Seumur-umur kami mengajar, belum pernah mendapatkan THR. Suami PNS, dan saya sendiri guru swasta. Selama ini setiap menjelang lebaran mendapatkan bingkisan lebaran dari sekolah yang nilainya (maaf) tidak seberapa dibandingkan dengan orang-orang yang mendapat THR (bahkan menuntut THR) sebesar minimal seperberapa gaji bulanan.
Bahkan di tempat saya mengajar pernah iseng-iseng menghitung harga bingkisan lebaran, tidak lebih dari Rp. 100.000,00. Karena kemampuan Yayasan memberikan sejumlah barang tersebut. Alhamdulillah, bisa ngirit gak beli sirup, gula, teh dan wafer. Hehe... Mengurangi pengeluaran.
Tapi kami selalu bersyukur, karena sejak bulan Syawal kami selalu menyisihkan uang untuk Tabungan Hari Raya. Keluarga kami (di sekolah saya dan suami) THR singkatan dari Tabungan Hari Raya. Jadi uang itu milik kami sendiri yang dikelola oleh Koperasi dan dibagikan dua minggu sebelum lebaran. Di kantor saya dan suami sama-sama THR dikelola oleh koperasi.
Saya dan kawan-kawan tidak pernah dipusingkan dengan THR. Tidak pernah berharap mendapatkan THR dari kantor. Kami terbiasa dengan sikap perwira. Tidak meminta bahkan menuntut. Apalagi mengemis. Tidak pernah mengeluh, tidak pernah menggerutu.
Kalau kebetulan kami membaca koran tentang THR pada saat Ramadhan dan menjelang lebaran, kami senyum-senyum. Untung saja kita terbiasa seperti ini.
Ketika kanak-kanak dan remaja, di kampung saya bila ada TPA, biasanya diadakan  program Menabung. Besarnya tidak mengikat. Setiap anak yang menabung diberi buku tabungan. Kemudian  tabungan dibuka (diserahkan ke penabung) pada saat akan lebaran. Penabung tidak mendapatkan bunga/jasa, malah biasanya penabung memberikan infaq untuk kepentingan Takbiran Keliling/Takbir Akbar pada saat Malam Takbiran. Infaq tersebut untuk membeli kertas hiasan obor dari bambu, lampion, permen, minuman dan makanan. (Tapi sekarang kebanyakan Takbir Keliling biayanya sudah diambilkan dari infaq Ramadhan/ada donatur). Pengelola tabungan biasanya Remaja Masjid juga tidak mendapatkan honor atau apalah. Karena uang tabungan murni hanya disimpan.
Pada saat itu, kami tidak pernah mengharapkan salam tempel atau yang biasa disebut fitrah. Kami terbiasa disiapkan orang tua memiliki uang pada saat lebaran. Duh, senangnya saat itu.
Berbeda sekali dengan jaman sekarang. Walaupun tidak semua anak/semua orang tua yang membiasakan dengan salam tempel/fitrah. Prihatin kalau ada anak yang bersilaturahmi lalu mengharapkan imbalan salam tempel, bahkan kalau diberi uang sedikit masih juga mengeluh.
Saya dan suami  tidak pernah berharap mendapat THR karena terbiasa, dan anak-anak biasa tidak berharap salam tempel.
Semoga generasi yang akan datang juga tidak memiliki sifat materialistis. Baik orang tua maupun anak-anak dapat memiliki sifat dan sikap  perwira.
karanganyar, 9 Juli 2014