Selasa, 29 Juli 2014

Ramadhan Hari Terakhir di Makam Raja-Raja Imogiri


Mudik adalah acara tahunan, yang sebenarnya bukan suatu keharusan. Tapi tak apalah, ambil saja hikmahnya. Hari pertama di Yogyakarta, pagi hari, saya menyempatkan diri mencari rumah teman saya SMP. Setelah 27 tahun berpisah, akhirnya saya bisa bersua dengan Siti Subadriyah atau mbak Indri. Ternyata rumahnya sekarang satu kelurahan dengan saya. Dua puluh tujuh tahun, katanya saya tidak jauh beda (masih imut, ckck).
Hari berikutnya, Minggu, saya ingin bersilaturahmi ke rumah teman SMA beda jurusan. Sama sekali saya tidak mengenal (atau lupa, karena belum pernah satu kelas), bertemu saja lewat FB. Saya berusaha untuk mencari rumahnya Di Salakan, sebelah timur Krapyak Wetan, Bantul, DIY. Sayang, Allah belum mengijinkan kami bertemu, karena beliau posisinya berada di Bandara Adi Sucipto.
Pagi itu juga, udara dingin. Saya, suami dan anak saya melanjutkan perjalanan ke Makam Raja-Raja Imogiri. Saya tidak lewat jalur utama, depan masjid, karena suami mengajak saya lewat jalur timur.

Gambar 1. Jalan menuju jalur timur
Sesuai aturan yang ada di depan masjid  (jalur utama), pengunjung tidak diperkenankan membawa kamera (dan sejenisnya) untuk mengambil gambar atau memotret. Maka saya hanya berpose di luar makam, di depan pintu.

Gambar 2. Di belakang gambar, sebelah kanan Makam Sri Sultan HB IX

Gambar 3. Batas membawa dan menggunakan kamera dan sejenisnya
Selama Bulan Ramadhan, kompleks makam tidak dibuka bagi peziarah. Kompleks makam dibuka bagi peziarah pada tanggal 1 dan 8 syawal.
Ada minuman khas yang biasa dijual di kompleks makam, yaitu wedang uwuh.
Gambar 4. Komposisi Wedang uwuh (dalam plastik) : jahe, daun cengkeh, gula batu dan gula merah
Karena saya khawatir terhadap anak saya yang naik-turun tangga, maka saya meminta suami untuk menyudahi perjalanan ini.

Gambar 5. Si kecil sarapan

Gambar 6. Di tempat yang tinggi ini, raja-raja Mataram dimakamkan

Gambar 7. Di sebelah timur makam ada sumber mata air. Penduduk memanfaatkan sumber mata air tersebut. mata air tersebut terletak di depan saya
Pulang dari makam raja, kami muter-muter di sekitar Imogiri. Semua itu mengingatkanku pada tahun 1990-an. Dalam acara yang diadakan Karang Taruna, muda-mudi berkunjung ke makam raja dengan naik sepeda onthel atau FUN BIKE. Lumayan, sekitar 10 km lebih jarak yang harus kami tempuh hingga mencapai area makam, belum lagi jalannya menanjak.
Hari menjelang siang, ketika kami sudah sampai rumah ibu dan bapak. Hari itu waktu terasa cepat berlalu. Ramadhan hari terakhir, seperti biasa menu utama buka puasa adalah kupat/lontong, opor ayam dan sambel goreng krecek. Mantap. Selamat Idhul Fitri, 1 Syawal 1435 H. Maaf lahir dan batin.
Karanganyar, 29 Juli 2014