Selasa, 15 Juli 2014

Tawangmangu, Pesona Indahmu

TAWANGMANGU, PESONA INDAHMU
Oleh : Kahfi Noer
Hari ini saya bersama tiga orang teman saya harus melaksanakan kunjungan ke rumah siswa. Kebetulan kami harus ke Jumantono dan Tawangmangu. Di Jumantono, kami sukses mencari rumah siswa. Perjalanan dilanjutkan ke Tawangmangu.
Dari Jumantono ke Tawangmangu kami melewati Kecamatan Matesih. Kebetulan Matesih merupakan daerah yang tinggi. Dari Matesih menuju Karangpandan, jalannya mulai menanjak naik. Saya berdoa, Ya Allah, jangan titipkan padaku pusing alias mabuk perjalanan. Saya memang mabuk pada ketinggian tertentu, pusing yang berkepanjangan apalagi terlambat makan.
Alhamdulillah, saya melewati perjalanan dengan penuh suka cita, tidak pusing (walaupun berpuasa). Sepanjang perjalanan, yang saya lihat adalah kebun sayuran. Semuanya hijau! Saya dan teman saya puteri begitu takjub, dengan buatan Allah Yang Maha Pandai. Tanah dengan kemiringan curam, semua ditanami sayuran.
Halaman rumah, teritisan, dan tanah sempit pun, semua ditanami sayuran. Paling tidak daun loncang, sawi hijau dan wortel. Pingin rasanya saya keluar dari mobil dan mencabut sayuran-sayuran itu.
“Wow, ini kita dapat tugas. Bukan piknik.”kata teman saya “sopir” mobil.
“Gemes rasanya.”
“Rumahnya pindah sini saja?”
“Tidak perlu pindah, tapi di sini juga punya lahan. Hehe.”saya menimpali.
Saya lupa, biasanya ke mana-mana saya membawa kamera. Justeru kali ini tidak. Apalagi tiga teman saya juga tidak mau memotret saya nampang di kebun sayuran di Tawangmangu, menggunakan hape mereka. Nasib, nasib.... rutukku.
Mungkin bagi teman saya semua yang ada di Tawangmangu biasa saja. Akan tetapi bagi saya berbeda. Tawangmangu adalah tempat yang indah. Tempat di mana saya mendapatkan inspirasi untuk menulis.
Kalau tidak karena acara kunjungan ke rumah siswa, mungkin saya akan berlama-lama tinggal di sini. Mencari bahan tulisan, bincang-bincang dengan petani yang memanen daun loncang atau buruh-buruh yang mencuci wortel di selokan. Selokan yang airnya benar-benar jernih. Air keluar dari mata air pegunungan. Subhanallah.
Sebentar kemudian kami sampai di rumah siswa. Setelah kepeluan cukup kami pulang. Perjalanan pulang, kami lebih santai. Kami benar-benar menikmati perjalanan. Salah satu teman saya berkata,”Andaikan hari ini tidak puasa, pasti saya ajak mampir makan-makan.”
“Makan? Lain kali saja Pak, kita ke sini lagi....”seru saya.
Kami berempat tertawa. Perjalanan pulang, saya kok jadi berkomunikasi dengan diri saya sendiri. Orang Tawangmangu, hidupnya mapan. Bertani walaupun hasilnya kecil tapi tetap bisa makan. Mereka hidup tidak menghambur-hamburkan uang.
Laki dan perempuan yang usianya tidak muda lagi tetap giat bekerja. Memanggul hasil panenan dengan berjalan kaki padahal jalannya menanjak. Mereka tidak berkeluh kesah. Canda tawa mengiringi perjalanan mereka. Bincang-bincang ringan dengan sesama petani menunjukkan seolah tak menanggung beban hidup.
Tawangmangu, Pesona Indahmu. Tunggu, aku akan kembali lagi, suatu saat nanti. (SELESAI)
Karanganyar, 15 Juli 2014